My First Published-Essay

Pengantar : Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang sama yang dimuat di Jawa Pos, April 2005.

Pers Mahasiswa : Quo Vadis?*
Oleh : Ria Angelia Wibisono

Sebelum kita melihat keadaan pers mahasiswa saat ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarahnya di masa lalu. Sejarah mencatat, pers mahasiswa yang pertama di Indonesia adalah ‘Indonesia Merdeka’, didirikan oleh Indische Vereeneging, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Karena tumbuh pada zaman kolonial, ia sarat dengan nilai-nilai nasionalisme. Tetapi pada masa pendudukan Jepang, pers mahasiswa mati suri, terbuai janji semu Jepang untuk memerdekakan Indonesia.
Dalam sistem demokrasi liberal di tahun 1950-an, dan di awal masa demokrasi terpimpin, pers mahasiswa kembali bermunculan. Keberadaannya cukup diperhitungkan baik oleh pemerintah maupun rakyat. Bahkan di awal tahun 1970-an, pers mahasiswa sempat mengalami masa keemasan. Sebut saja ‘Mahasiswa Indonesia’, Harian KAMI dan ‘Mimbar Demokrasi’, yang dibaca tidak hanya oleh mahasiswa tetapi juga oleh masyarakat umum. Oplahnya cukup besar, antara 30.000-70.000 eksemplar.
Sayangnya, pasca peristiwa Malari 1974, pers mahasiswa sempat dilarang terbit oleh pemerintah karena dianggap memprovokasi kerusuhan. Keadaan ini diperparah oleh pemberlakuan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) pada 1978. Peraturan tersebut agaknya sengaja dibuat oknum Orde Baru untuk membatasi ruang gerak gerakan kemahasiswaan. Ini berimbas pada pers mahasiswa sebagai salah satu elemennya. Intervensi pemerintah secara berlebihan juga menyebabkan banyak pers mahasiswa yang dibredel; kalaupun masih dibiarkan hidup, isinya seringkali disensor habis.
Tidak hanya mendapat pembatasan dari penguasa negara, pers mahasiswa juga diawasi ketat oleh pihak rektorat universitas. Banyak aktivisnya yang diskorsing atau dipersulit kelulusannya. Tidak heran apabila pers mahasiswa menjadi lembaga yang dihindari oleh mahasiswa sendiri.

Pers Mahasiswa di Era Reformasi
Dengan sejarah yang pahit itu, wajar bila sampai saat ini pers mahasiswa masih belum bisa menjadi primadona. Memang keadaan di era reformasi ini lebih kondusif – kebebasan pers mulai bergaung dan teknologi penunjang penerbitan jauh lebih maju dibandingkan era 1950-1970-an. Gerakan kemahasiswaan pun mulai menampakkan kemandiriannya. Namun, menghapuskan trauma masa lalu jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tantangan lain adalah soal SDM (Sumber Daya Manusia). Jarang sekali ada mahasiswa zaman sekarang yang berminat di bidang jurnalistik. Mereka cenderung menganggap dunia jurnalistik tidak dapat membawa kemakmuran di kemudian hari, lagipula pekerjaan jurnalis beresiko cukup tinggi. Lihat saja kasus-kasus penculikan jurnalis yang kerap terjadi.
Realita lain adalah kemalasan mahasiswa kita untuk menulis tulisan ilmiah. Mahasiswa menulis tulisan ilmiah sebatas untuk memenuhi tuntutan perkuliahan saja. Sebenarnya, hal ini berakar dari menurunnya minat baca mahasiswa, karena mustahil seseorang dapat menulis bila tidak rajin membaca. Padahal, bacaan ilmiah yang tersedia sekarang lebih kaya daripada zaman orang tua mereka. Soal harga buku yang mahal, toh bisa disiasati dengan meminjam dari perpustakaan.
Kalaupun kuantitas mahasiswa yang mau terlibat dalam pers mahasiswa sudah terpenuhi, kendala yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan kualitas mereka. Mengkader mahasiswa untuk bisa menulis dengan baik adalah pekerjaan yang melelahkan. Mereka harus sering diminta menulis dan dievaluasi. Hasilnya pun belum tentu signifikan.
Bagaimanapun juga, kita tidak perlu menjadi putus asa melihat hambatan-hambatan di atas. Karena di sisi lain, ada beberapa solusi – baik yang sudah terlaksana maupun belum – untuk mengatasinya. Trauma soal sejarah pers mahasiswa yang pahit misalnya, dapat terhapus seiring berjalannya waktu. Apalagi sekarang gerakan mahasiswa mulai bergairah lagi. Asumsi yang buruk tentang dunia jurnalistik juga dapat dieliminir dengan UU Pers yang menjanjikan perlindungan terhadap hak-hak pekerja pers. Kita tinggal menunggu (sambil terus mengawasi) penerapannya saja. Jangan lupa pula untuk membantu mensosialisasikan isi UU Pers, supaya masyarakat semakin memahaminya.
Bagaimana dengan minat baca yang rendah? Sudah ada kampanye gemar membaca yang dicanangkan pemerintah. Dengan spokesperson yang populer yaitu Tamara Blezynski, kampanye ini bisa diprediksi akan cukup berhasil. Kita pun wajib mendukungnya dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengadakan diskusi soal pentingnya membaca, mendirikan perpustakaan kecil-kecilan, atau membentuk komunitas pecinta buku dengan agenda utama membedah buku. Setelah meningkatkan minat baca, baru perlahan-lahan mahasiswa diarahkan untuk rajin menuliskan ide-idenya. Untuk itu, kita dapat mencontoh kampus-kampus di Barat yang memiliki kuliah umum Menulis Kreatif.
Dalam hal pengkaderan, kita dapat menggelar pelatihan-pelatihan jurnalistik dengan praktik terjun ke lapangan. Bila ada kampus yang kurang mampu menyelenggarakan pelatihan ini, dapat diterapkan kerja sama antar kampus. Malah lebih baik bila dua atau tiga kampus dapat bersama-sama membuat pelatihan jurnalistik, karena memungkinkan para aktivisnya untuk bertukar pikiran. Siapa tahu, problem yang dihadapi pers mahasiswa suatu kampus telah dialami dan bisa diselesaikan oleh kampus lainnya. Pengurus pers mahasiswa juga harus aktif melakukan personal approach kepada mahasiswa lainnya, agar mereka mau ikut terlibat.
Akhirnya, penulis berpendapat bahwa semua masalah yang menghadang pers mahasiswa saat ini dapat diselesaikan, asalkan para aktivisnya benar-benar mau berusaha. Harus disadari pula bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah itu dibutuhkan waktu dan proses yang panjang. Kita harus sabar menanti hasilnya. Percayalah, apa yang kita tabur saat ini tidak akan pernah sia-sia. Hidup Pers Mahasiswa!!

*) Quo vadis = mau kemana?

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UK.Petra angkatan 2003, saat ini menjabat sebagai pemimpin redaksi La ‘Komtra.

16 Comments (+add yours?)

  1. pratiwi yusuf evelyn
    Mar 22, 2007 @ 15:11:42

    Fiuhh akhirnya ada juga mahasiswa Petra yang masuk ProkonAktivis kayak km ya. Impian juga buat aku bisa mengikuti jejakmu. 4 thumbs up just 4 u bisa menghasilkan artikel yang benar2 berkualitas.
    Aku aja mencoba menulis untuk kolom yang sama nggak pernah ada yang jadi. Dapet darimana sih idenya? Kok bisa ada aja like Quo Vadis!
    Sebagai salah satu pimred majalah kampus aku juga sudah jatuh cinta mati malah sama jurnalistik, namun ya permasalahannya juga itu banyak pihak yang tidak mendukung.
    Mulai dana, minat penulis, minat redaksi sendiri, minat para pembaca yang tidak terbiasa membaca bacaan beraat sehingga paradigma ini mulai melekat pada redaksi.
    Tapi buat aku itu bukan masalah yang penting sampai kapanpun PERS MAHASISWA nggak akan pernah mati!🙂

    Reply

  2. riawibisono
    Mar 23, 2007 @ 15:41:33

    bagus… bagus… semangatnya boleh juga nih…
    FYI, mahasiswa Petra udah banyak kok yang nulis di Prokon Aktivis. Hendra Setiawan dan Ronald Julius Tanesia pernah lho. Next kayaknya Evelyn Pratiwi Yusuf nih hehehe =p

    Reply

  3. ikram
    Apr 02, 2007 @ 04:13:47

    Wah, sama! Pada April 2005 juga saya menulis sesuatu tentang pers mahasiswa. Hehe. Salam kenal🙂

    Reply

  4. pratiwi yusuf evelyn
    Apr 02, 2007 @ 11:47:53

    Eh aku coba nulis dan aku kirim, hikz… nggak dibuat. Sedih!

    Reply

  5. Jennie S. Bev
    Apr 03, 2007 @ 00:41:50

    Impressive published article, Ria. I recall my “good old days” a decade ago. (Too long…)

    Jennie S. Bev

    Reply

  6. riawibisono
    Apr 03, 2007 @ 03:40:44

    Jangan nyerah Lyn… aku ini ya ada ngirim 10 kali kayaknya, yang kemuat loh 3 artikel. Tipsnya gini…
    1.Kirim di awal minggu, Sabtu/Minggu gitu, soalnya kalau tengah2 minggu baru kirim agak susah dimuat.
    2. Pilih topik yang sangat kamu kuasai, misalnya aku cenderung suka nulis isu pendidikan dan biasanya dimuat. Tapi kalau nulis politik belum pernah dimuat.
    3. Ikutin perkembangan tajuk rencana korannya per minggu, nanti kamu bisa tahu kira2 isu apa yang pengen dia jadikan tema dan gimana pandangan redaksi sendiri tentang isu itu.
    Selamat menulis ya….

    Reply

  7. riawibisono
    Apr 03, 2007 @ 03:41:55

    Ce Jennie, thanks komentarnya. I’m still learning to improve my writing skill…. Butuh banyak belajar sama Ce Jennie nih =)

    Salam kenal juga buat Ikram =)

    Reply

  8. ikram
    Apr 11, 2007 @ 14:28:09

    terimakasih tips-nya.

    Reply

  9. itsme231019
    Nov 08, 2007 @ 17:28:45

    salam. hai mba ria, pa kabar? semoga tetap shat ya. saya ahmad, sebagai tki di saudi. saya senang bisa membaca tulisan mba ira. kebetulan saya juga suka baca tulisan mba jenni. menyimak tulisan mba ria, saya jadi termotivasi untuk bisa menulis. salam kenal ya dan mohon motivasi buat saya dan juga teman-teman tki yang ada di sini.

    Reply

  10. riawibisono
    Nov 09, 2007 @ 01:53:17

    halo Mas Ahmad, salam kenal…. senang nih tulisan saya bisa motivasi orang lain buat menulis juga… keep writing ya Mas…

    Reply

  11. Jennie
    Nov 20, 2007 @ 23:41:13

    Ria, kapan nulis op-ed article lagi? Kabarin aku ya kalau pas dimuat lagi. Aku jarang browse koran2 online.

    Reply

  12. riawibisono
    Nov 21, 2007 @ 06:08:03

    @Jennie
    belum ada rencana nulis lagi Ce…. ide sih banyak, tapi lagi konsen ngerevisi skripsi…. ok deh tar kalau pas dimuat aku kabarin deh…🙂

    Reply

  13. sekjen
    Dec 15, 2007 @ 16:59:24

    Yang terhormat
    Rakyat Indonesia
    Di tempat.

    Seluruh Rakyat Indonesia dimanapun berada
    Sepuluh tahun sudah berlalu dan tidak ada yang berubah
    Beberapa berganti nama, beberapa berganti wajah
    Beberapa berganti istilah …. Semua seolah berganti
    Tapi semua tetaplah sama

    Untuk itu, ijinkan aku mohon maaf
    Karena hingga hari ini
    Tak ada perubahan yang bisa dipersembahkan
    Tak ada harta yang bisa diwariskan
    Tak ada jabatan yang bisa dibanggakan

    Aku sadar dan minta maaf
    Karena hanya kejujuran bercerita yang tersisa
    Tentang perjalanan panjang dari rangkaian cita-cita
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com.

    Reply

  14. sophia
    Mar 25, 2008 @ 17:42:03

    hehe..mungkin dah kelamaan ya kalo mau tambah komen.😀
    anyway..salam kenal…

    ria kenal ama yuyun? catur angkatan 2002? hehe..itu adikku kalo kamu kenal. aku dkv angk 99. sempet jadi dosen di dkv ^^
    😀

    oya, prestasimu bagus banget. beberapa kali dosen dkv nyoba mbangkitkan tulis menulis di pers. hehehe.tapi ternyata susah, dkv lebih suka bikin sumthing kayak deviantart daripada ulas mengulas kata-kata. hehe. keep writing ya…

    gbu,
    sophia

    Reply

  15. riawibisono
    Mar 27, 2008 @ 10:01:10

    @Sophia
    aku tau cece kok, soalnya temanku ada yang ngefans ma cece
    Yuyun, tau lah… salam ya buat Yuyun
    btw, bukannya dosen DKV ada yg mulai rajin nulis di koran? Pak Obed kalo ga salah…

    Reply

  16. PetzLuvNeiz
    May 25, 2010 @ 18:37:28

    mampir nitip 2 jempol🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: