Waktu saya kecil, ada buku tulis yang bagian bawahnya dihiasi kata-kata mutiara. Salah satu kata mutiara itu adalah : Honesty is the best policy. Kejujuran adalah kebijakan yang terbaik. Kata-kata itu saya ingat sampai hari ini.

Tapi, membaca kasus contekan massal di SDN. Gadel, saya jadi mempertanyakan : is honesty still the best policy? Buat yang belum tahu ceritanya, alkisah AL, bocah cerdas yang bersekolah di SDN Gadel, diminta wali kelasnya memberikan contekan kepada teman-temannya pada saat Unas. Setelah Unas selesai, AL melaporkan hal ini kepada ibunya, Ny. Siami. Mengetahui kecurangan tersebut, Ny. Siami tidak tinggal diam, melainkan melapor pada Kepala Sekolah. Karena tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, kasus ini dibawa sampai ke Komite Sekolah bahkan ke Diknas. Kasus ini kemudian ter-blow up oleh media.

Singkat cerita, kejujuran dan keberanian Ny. Siami ini malah menjadi malapetaka. Mulai dari demonstrasi anak SDN Gadel di rumahnya, hingga akhirnya warga mengusir Ny. Siami dengan kekerasan. Saat saya membaca berita ini, saya langsung meng-update status baik di Blackberry Messenger maupun Twitter :

IS HONESTY STILL THE BEST POLICY?


Di zaman ini kelihatannya kejujuran sudah tidak ada harganya lagi. Orang yang jujur justru seringkali tersingkir baik dalam dunia kerja maupun pergaulan. “Terlalu lurus”, “nggak asyik”, itulah cap yang diberikan orang kepada orang-orang jujur, seperti Ibu Siami ini salah satunya. Ngapain coba lapor-lapor sampai ke Diknas segala? Kurang kerjaan? Cari penyakit?

Is honesty still the best policy?

Orang kadang memperoleh kenaikan pangkat bukan karena kompetensinya, tetapi karena ia menghalalkan segala cara demi mencapai prestasi. Penilaian terhadap seseorang seringkali berbasis kuantitatif, yaitu berapa banyak keuntungan yang ia datangkan, bukan apakah ia menjalankan prosedur dengan benar. Orang yang terlalu ‘strict’ akan rugi sendiri karenanya.

Is honesty still the best policy?

Lah kalau jujur terus, kapan kayanya… Sekali-kali ambillah untung sedikit-sedikit… Mark up anggaran, pungutan liar, terima sogokan… toh hasilnya bisa dilihat mata : rumah mewah, mobil dan gadget terbaru. Orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh tulus tanpa mengharapkan ‘cipratan’, ya segitu-segitu saja hasilnya…

So, is honesty still the best policy?

Di bumi yang kita pijak ini, mungkin tidak…

Tapi bayangkanlah kalau sudah tidak ada lagi orang jujur di dunia ini…

Korupsi akan semakin merajalela, negara kita akan semakin sengsara…

Hutang luar negeri bertumpuk, satu persatu asset negara harus dilego, hingga akhirnya kita dijajah kembali…

Kita tidak tahu lagi siapa yang harus kita percaya, apakah dia berkata benar atau tidak…

Murid yang pandai atau kurang pandai, tidak ada bedanya lagi… semua toh mendapat nilai yang seragam…

Hukum tidak lagi berfungsi, sehingga korban kejahatan tidak mendapatkan keadilan dan hanya bisa meratapi nasib….

So, maybe in common, honesty is not the best policy anymore, but we do need honest people. People who still believe, honesty is the best policy. People who keep this value as an unbargainable thing for them. People like Bu Siami and her family.

And in the end of this posting, I reask my self : is honesty still the best policy… for ME?

————————————————————

Bagi anda yang masih merasa “HONESTY IS THE BEST POLICY”, mari suarakan suara Anda dalam gerakan #indonesiajujur. Klik di sini untuk detailnya.