Dulu, setiap kali saya pergi untuk mengikuti Misa di hari Minggu, saya selalu melihat mereka. Seperti kamera, pandangan saya beralih dari satu shot ke shot lainnya.
Shot 1 (close up) : genggaman tangan yang tak terlepaskan.
Shot 2 (close up) : rambut putih keperakan di atas kepala.
Shot 3 (close up) : kerut di sekitar mata dan bibir yang tak dapat menyembunyikan usia.
Shot 4 (medium-close up) : kaki yang berjalan lambat dan tertatih-tatih

Di depan saya, Tuhan sedang merangkai sebuah cerita. Tentang sepasang Oma dan Opa. Dia memperlihatkan kepada saya, kisah nyata tentang makna komitmen dan kesetiaan dalam cinta. Potongan-potongan gambar yang saya lihat, menyusun sebuah renungan di hati saya.

Mudahnya mengucap kata cinta, berbanding terbalik dengan sulitnya menjaga kesetiaan. Pernikahan hanya soal legalisasi dan seremoni, tetapi menjaga keutuhannya butuh perjuangan panjang dan berliku-liku. Banyak pasangan yang dengan mudah mengucap kata berpisah tanpa mau berjuang, dan terus berjuang, untuk bertahan. Suatu saat nanti, bisakah saya seperti Oma dan Opa ini? Bergandengan tangan dan bahu-membahu sampai tua?

Oma itu bertubuh tambun, kakinya tak lagi kuat menyangga berat badannya. Sang Opa dengan sabar menuntun Oma berjalan memasuki gereja. Perlahan tapi pasti. Menuju ke tempat duduk favorit mereka. Bangku panjang yang di tengahnya terhalang pilar, sehingga ada celah yang hanya cukup untuk dua orang. Tempat spesial mereka. Tempat di mana Oma bisa merasa nyaman, duduk di samping Opa yang selalu menjaganya. Tempat di mana mereka tidak ingin ada orang lain di sana. Hanya mereka, dengan Tuhan di tengahnya.

Saya melihat adegan itu setiap hari Minggu. Hari yang sama, jam yang sama, tempat yang sama, dan tokoh yang sama. Bertahun-tahun lamanya, hingga ingatan ini begitu membekas di benak saya.

Sampai suatu Minggu, saya tidak menjumpai mereka lagi di sana.

Saya tidak tahu mereka sekarang ada di mana…
Saya tidak ingin menyimpulkan hal yang keliru…
Tapi di mana pun mereka berada, saya ingin berkata :
Terima kasih Oma, Opa. Untuk mengajarkan seorang gadis remaja, tentang cinta dan kesetiaan.
Terima kasih, untuk merajut satu kenangan manis dalam ingatannya.
Terima kasih, untuk mengajarnya agar selalu menempatkan Tuhan di antara dia dan pasangan hidupnya kelak.
Terima kasih, untuk meyakinkan dirinya, cinta sejati itu masih ada. Dan akan datang suatu hari, kepadanya. Dalam diri seseorang, yang akan menuntunnya sampai tua. Di saat putih rambutnya, di saat kerutan memenuhi wajahnya, di saat tubuhnya telah renta dan melamban. Dan untuk memutar lagu ini di benaknya :

Ada dunia baru, negeri harapan
Kukan sampai disana, bila kau membimbingku
Kuharap kau selalu, kau ada disampingku
Karna hanya kau berarti bagiku

Bagi setiap insan ada pasangannya
Dan sudah kuputuskan kaulah teman hidupku
Meski kujelajah dunia sampai akhir hayatku
Namun hanya kau berarti bagiku

Jalannya masih jauh dampingilah aku
Bila taufan menderu jadilah kau panduku

Melimpahnya harta apalah artinya
Mungkin besok hilang lagi dan aku tak peduli

Tapi bila hilang cintamu, patahlah semangatku
Karna hanya kau berarti bagiku
Karna hanya kau berarti bagiku

(Ada Dunia Baru, lagu Marriage Encounter)

Baca juga :