Salahkah bila seseorang yang dicobai begitu berat dalam hidupnya kemudian menjadi orang yang penuh dengan kepahitan? Menurut saya, tidak salah. Perubahan karakter ke arah yang negatif akibat ketidakmampuan menanggung cobaan hidup adalah hal yang sangat manusiawi. Yang luar biasa adalah, manusia yang menerima begitu banyak cobaan berat dalam hidupnya, dan tetap menjadi sosok yang positif, menginspirasi, bahkan menjadi berkat bagi sesamanya.

Saya beruntung dapat mengenal sosok luar biasa itu. Saya memanggilnya Oma. Meski sudah memasuki usia senja, saya dapat melihat gurat-gurat kecantikan masa muda di wajahnya. Wajah yang selalu dihiasi senyum yang tulus dan lemah lembut. Tak heran bila banyak orang betah berlama-lama di kedainya.

Saya tak pernah menyangka bahwa selama hidupnya, Oma banyak mendapat cobaan yang berat. Ditinggalkan oleh ibu kandungnya di usia dini. Tak lama kemudian, ayah kandungnya meninggal dunia. Setelah menikah dan berkeluarga pun banyak masalah yang menimpanya. Bahkan di usia senja, di mana seharusnya ia tinggal menikmati hidup, masih ada saja beban yang harus ditanggungnya. Detailnya mungkin kurang etis bila saya kisahkan di sini. Yang pasti, hidup Oma boleh dikatakan kurang beruntung.

Tapi Oma adalah manusia yang penuh iman. Tak pernah saya mendengar dia bersungut-sungut atau menyalahkan Tuhan atas semua ketidakberuntungannya. Sebaliknya, setiap cobaan dihadapinya dengan bertekun dalam doa. Wajah Oma bukanlah wajah seorang tua yang memendam kepahitan dalam hidup. Melihat wajahnya, orang tak akan menyangka bahwa selama hidupnya, ia ditempa sangat keras oleh Sang Pencipta.

Saya pernah mengenal sosok tua lain yang sering mengeluhkan kehidupannya. Lebih banyak hal buruk yang dia ceritakan tentang hidupnya daripada hal yang baik. Hidup terasa begitu pahit baginya, bahkan di masa tuanya. Dari caranya bercerita, saya dapat menangkap sinyal kepahitan dan ketidakmampuan untuk bersyukur. Sebenarnya, Oma juga bisa saja bersikap demikian. Tapi Oma memilih untuk tetap positif.

Ketika satu masalah datang dalam hidup kita, lalu kita berdoa, dan masalah itu selesai, begitu mudah bagi kita untuk bersyukur. Bagaimana bila yang terjadi sebaliknya? Kita sudah banyak berdoa, banyak berbuat baik, tapi cobaan bukannya surut melainkan bertambah berat. Masihkah kita memiliki kekuatan untuk percaya? Untuk meyakini kebenaran janji Tuhan? Untuk bersabar menunggu waktu di saat segala yang terbaik diberikan-Nya pada kita?

Banyak orang merasa sudah tiba di titik nadir, ketika doa-doanya tak terjawab. Ketika cobaan demi cobaan datang silih berganti. Ketika kata-kata penghiburan dan motivasi mulai terdengar kering tak berisi, karena tak pernah menjadi nyata. Di saat seperti itu, sulit untuk percaya bahwa Tuhan sungguh Maha Baik. Sebaliknya, meninggalkan jalan-Nya menjadi opsi yang sangat logis.

Kembali ke Oma. Perempuan penuh iman ini tidak hanya menghadapi cobaan hidupnya dengan tetap bersandar pada Tuhan. Ia juga tak pernah berhenti berbagi berkat dengan sesama. Oma adalah pendengar yang baik dan juga seorang pendoa. Tak pernah ditolaknya orang yang datang untuk mencurahkan isi hatinya, seperti halnya ia tak pernah alpa untuk mendukung mereka dalam doa.

Sebagai seorang pekerja keras, Oma memilih untuk menghabiskan masa tua dengan tetap mengasah talentanya. Di samping memasak, Oma juga piawai menjahit dan membuat aneka kerajinan tangan. Pribadi Oma ini membuat saya sangat terinspirasi. Alangkah baiknya bila di masa muda, kita mempersiapkan diri menghadapi masa tua. Bukan semata masalah finansial yang patut dipikirkan, kita juga harus berpikir, kegiatan apa yang bisa dilakukan agar di masa tua kita bisa tetap produktif dan positif. Berkat Oma, saya terpacu untuk menekuni aneka hobi yang bisa saya jadikan kegiatan bila saya pensiun nanti.

Terima kasih Oma, atas kesaksian hidupmu. Terima kasih Oma, yang telah mengajar saya untuk selalu bersyukur, menerima setiap cobaan dengan tabah, dan tidak menyimpan kepahitan. Terima kasih Oma, atas teladanmu untuk tetap menjadi berkat di masa tua. Doakan saya Oma, untuk bisa menjadi seorang perempuan penuh iman sepertimu.

 

Baca juga :