courtesy of getty images

Mendongeng untuk anak adalah aktivitas yang murah, mudah, dan menyenangkan. Mendongeng dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak, di samping dapat mengenalkan nilai moral atau value tertentu. Belakangan ini saya menjumpai peralatan mendongeng yang dijual di toko buku, berupa semacam pena yang ujungnya berfungsi sebagai alat pemindai. Bila pena itu digerakkan di atas buku dongeng, perangkat speaker akan membacakan tulisan pada buku tersebut. Meski menurut saya alat ini cukup inovatif, bagi saya, tidak ada yang mampu menggantikan peranan orang tua sebagai pendongeng untuk anaknya.

Mendongeng bukan sekadar membacakan tulisan pada buku dongeng. Dalam aktivitas mendongeng, seyogianya ada interaksi dua arah antara pendongeng dan anak. Bagaimana agar interaksi ini tercipta? Ajaklah anak berkomunikasi selama cerita dibacakan. Misalnya, tunjuk gambar tertentu dan minta anak menyebutkan warnanya. Bila ada objek yang jumlahnya lebih dari satu, ajak anak menghitung jumlahnya. Setiap selesai menceritakan satu halaman cerita, minta anak mengulangi cerita tersebut, tentunya sambil dipandu oleh pendongeng.

Mendongeng tidak selalu membutuhkan alat peraga atau buku dongeng. Pendongeng dapat berperan sebagai tokoh yang diceritakan. Fantasi anak-anak tidak ada batasannya, ajaklah mereka berimajinasi lewat dongeng yang diceritakan. Bila perlu, ajak anak bermain peran menjadi tokoh dalam dongeng tersebut. Hal ini pernah saya praktekkan di kelas Sekolah Minggu. Pada saat bercerita tentang Petrus, saya meminta seorang anak laki-laki untuk berperan menjadi Petrus. Anak-anak lainnya saya beri peran sebagai ikan. Jadi pada saat saya mengisahkan bahwa Petrus sedang menjala ikan, anak yang berperan menjadi Petrus saya minta mengejar anak-anak lain yang menjadi ikannya. Aktivitas semacam ini membuat anak senang karena pada dasarnya anak-anak senang bergerak.

Mendongeng juga efektif untuk mendidik anak. Seorang ibu pengajar di Sekolah Minggu tanpa sadar berhasil mengajar anaknya membaca berkat dongeng. Bila ia membacakan cerita untuk anaknya, pelan-pelan ia mengenalkan huruf pada anaknya. “Nak, yang bentuknya melengkung dua kali ini huruf M. Yang perutnya gendut ini huruf A. Kalau dirangkai jadi MA. Kalau diulang jadi MAMA.” Tak lama kemudian, anaknya bisa membacakan judul berita di koran dengan lancar.

Selain mengajarkan hal yang bersifat intelektual, pendongeng juga dapat menanamkan nilai moral seperti kejujuran, kedisiplinan, ketaatan, dan lain sebagainya. Contohnya, ketika saya menceritakan kisah The Little Match Girl pada sepupu saya, ada bagian di mana tokoh anak dalam cerita merasa kelaparan. Ketika itu ia menyalakan korek api dan melihat bayangan makanan yang enak-enak. Tapi begitu nyala api padam, makanan itu pun hilang. Saya lalu mengajak sepupu saya itu untuk membayangkan seandainya ia kelaparan, lalu ibunya datang memberi makanan. Ketika makanan itu sudah dekat pada mulutnya, makanan itu ditarik kembali. Dari situ pelan-pelan saya mengajar dia untuk menghargai makanan. Hal ini bisa diterapkan pada anak yang susah makan. Pada saat makan, bila anak mulai rewel, ingatkan kembali tentang cerita tersebut.

Dari aktivitas mendongeng, pendongeng bisa mendapatkan berbagai kejutan dari seorang anak. Pernah pada saat saya menceritakan kisah Tuhan Yesus meredakan angin ribut pada anak TK, seorang anak bertanya, kenapa murid-murid Yesus harus takut dengan ombak yang besar. “Kan ada papan surfing!” begitu katanya. Demikian pula saat saya mengajak adik sepupu saya menghitung jumlah tikus pada gambar di buku dongeng. “Satu… dua… tiga… empat… lima… enam!” hitungnya. “Jadi berapa ekor tikusnya?” tanya saya. Sepupu saya hanya tersenyum dan berkata,”BANYAK!”. Spontanitas anak seperti ini membuat mendongeng menjadi lebih seru, tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi pendongeng. Dengan kata lain, mendongeng juga merupakan terapi stress yang baik bagi pendongengnya.

Dari ilustrasi yang saya paparkan di atas, saya rasa jelas bahwa mendongeng bukanlah aktivitas yang sulit dilakukan. Karena itu, mulailah mencoba untuk menjadi seorang pendongeng. Dan yang terpenting, jadikan mendongeng sebagai aktivitas yang rutin.
Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa, semakin sering mendongeng, anda akan menjadi semakin terampil. Selamat mencoba!🙂

Persiapan mendongeng :

  • Pilih cerita yang baik dan mengandung nilai moral yang sesuai dengan kebutuhan anak.
  • Bila perlu, gunakan gambar, boneka, atau kostum yang mendukung cerita tersebut. Alat-alat peraga sangat berguna bagi pemula, karena penting untuk menarik perhatian anak dalam waktu singkat.
  • Kuasai cerita tersebut sebelum menceritakannya pada anak.
  • Last but not least, enjoy your show!🙂