Posting tentang cerita bedah ini akan sangat jujur dan detail. Masih ada waktu untuk tidak meneruskan membacanya.

Yakin masih mau lanjut??

Yakin nggak bakal parno?

OK, OK, I give up. Selamat membaca deh😀

Perawat mulai menyiapkan bed untuk operasi dan melapisinya dengan kain steril. Saya dipersilakan untuk berbaring tengkurap. Dokter mulai memakai sarung tangan karet. Saya mulai menyebut nama Yesus dalam hati🙂

Selama seminggu sejak tahu akan dioperasi, saya tenang-tenang saja. Ah, kan cuma bedah kecil, jangan dibawa parno.. begitu kira-kira pemikiran saya. Tapi begitu tiba waktunya, OMG, nervous juga membayangkan pisau bedah akan mengiris-ngiris kulit saya, ada sesuatu yang akan dikorek-korek dari bawah kulit saya, dan kemudian dijahit…. whew… :&

Pertama-tama, dokter menutup punggung saya dengan kain hijau tua steril. “Saya suntik ya, sakit sedikit,” kata dokter. Dan… Auch! Begitu jarum suntik menyentuh kulit saya, awalnya hanya terasa sakit sedikit seperti layaknya disuntik (yang bilang disuntik itu sakitnya sama dengan digigit semut, menurut saya nggak deh, meski saya tidak takut disuntik). Dalam hitungan detik, rasa sakit disuntik itu jadi nggak seberapa karena berganti dengan rasa perih… saya merasakan obatnya mulai mengalir di bawah kulit dan perih sekali rasanya, seperti kalau kamu luka dan disiram dengan Tieh Ta Yao Gin ;p. Perih ini tidak terasa lama, tapi dokter menyuntik saya beberapa kali di beberapa spot untuk memblok jaringan di sekitarnya.

Setelah disuntik, yang ternyata merupakan bius lokal, saya sudah tidak merasakan sakit lagi. Dokter mengetes kekebalan kulit saya dengan mencubit, kalau dokternya nggak ngomong pun saya nggak akan tahu lagi dicubit karena memang tidak terasa. Dokter pun berkata dengan cool,”Ini mulai saya iris ya…”. To be honest, waktu dokternya ngomong gitu, tangan saya langsung mencengkeram bantal kuat-kuat. Padahal ya nggak sakit wong dibius =))

Entah apa yang kemudian dilakukan dokter, tapi saya merasa kulit punggung saya tertarik, seperti di-kop. Tidak sakit, but it’s kinda scary to hear the ‘krek krek’ sound. Menurut saya, bunyinya seperti kalau kita kelamaan menyimpan es krim di freezer, kemudian kita berusaha mengeruk-ngeruk es yang mengeras itu dengan sendok. Mungkin seperti itulah yang dilakukan dokter dengan kulit saya *OMG* *palm face*.

Dokter mengatakan bahwa kantung lemak yang diangkat itu ternyata lebih besar dari dugaannya dan sudah mulai ada indikasi infeksi, di mana dokter mendapati adanya nanah. Beruntunglah saya segera memeriksakan diri🙂

Tak lama kemudian dokter mulai menjahit bekas luka operasi, ini agak lama karena jahitan ini nantinya tidak perlu dibuka. Saya mulai merasa tidak nyaman karena… PEGAL. Hehehe…

Setelah selesai, sambil menunggu punggung saya dibersihkan oleh perawat, dokter memperlihatkan kantung lemak yang diambil dari punggung saya. Bentuknya agak tidak beraturan, warnanya putih (karena kena darah jadi kemerahan). Menurut saya fisiknya seperti lemak daging. Seperti kalau kita makan sate, kadang penjualnya menyertakan lemak kan? Nah, wujud lemak daging sate yang belum dibakar itu kira-kira seperti kantung lemak ini. Or let us just simplify this description by calling it : ‘gajih’ =))

Dokter yang baik hati menyimpan kantung lemak itu dalam tabung berformalin sebagai kenang-kenangan untuk saya. Menurutnya tidak perlu diperiksakan ke lab karena dokter yakin ini murni kista ateroma yang tidak berbahaya. Horeee!

Sekarang di punggung saya ada perban yang diplester sangat sangat rapi oleh perawat. Plesternya tahan air, jadi jangan khawatir, saya masih bisa mandi kok, nggak perlu dijauhi.

Hari Rabu nanti perban ini akan dibuka. Menurut dokter pada awalnya kulit di bagian itu akan melesak ke dalam, tapi tenang saja, lama-lama akan normal kembali🙂

Begitulah cerita pengalaman bedah pertama saya. Satu hal yang sangat saya syukuri, dokter sempat berkisah, ada pasien yang memiliki hingga 5 benjolan seperti ini di tubuhnya! Oh, how lucky I am to have just one thing like this…