Hari ini adalah hari yang berkesan bagi saya, karena pada hari ini saya menjalani bedah untuk pertama kalinya. Ceritanya, sudah beberapa lama di leher belakang saya ada sebuah benjolan kecil. Benjolan kecil ini belakangan membesar dan membuat tidak nyaman. Kalau ditekan rasanya cenat-cenut (kayak SM*SH aja :D). Karena posisinya di leher belakang, kalau saya tidur rasanya seperti ada yang mengganjal.

Merasa terganggu, akhirnya saya memberanikan diri periksa ke dokter. Sahabat saya -yang mendesak saya untuk lekas memeriksakan diri- merekomendasikan RS Siloam di Jl. Raya Gubeng. Terus terang ketika saya mengetik ‘benjolan di leher’ di google, hasil pencariannya cukup membuat paranoid. Kebanyakan mengatakan itu adalah indikasi gangguan pada kelenjar getah bening.
Jadi pada saat check up saya sudah menyiapkan mental kalau mendengar berita buruk *siap-siap tobat :D*.

Puji Tuhan, dokter yang pertama memeriksa saya meyakinkan saya bahwa benjolan ini tidak berbahaya. Bahkan seandainya dibiarkan pun tidak apa-apa. Hanya saja, ada kemungkinan membesar. Dia menulis rujukan kepada dokter bedah dengan diagnosa ‘kista ateroma’. Setelah saya googling, memang sepertinya tidak bahaya. Tapi memang satu-satunya jalan untuk menghilangkannya adalah operasi, seperti kata dokter, obat tidak bisa membantu.

Ciri fisik kista ateroma adalah benjolan dengan titik hitam di tengahnya. Bila ditekan terasa ada sesuatu yang padat di dalamnya. Sebenarnya, ‘isi’ dari benjolan itu adalah lemak yang terperangkap di dalam kulit. Karena terperangkap ia kemudian membentuk kantung. Bila kita nekad menusuk benjolan ini seperti menusuk bisul/jerawat, isinya akan keluar berupa lemak berwarna putih. Tapi tindakan non medis tersebut tidak akan menyelesaikan masalah karena ia akan tumbuh lagi. Bedah akan mengangkat kantung lemak tersebut dengan tuntas.

Tibalah hari ini, di mana saya kembali ke Siloam untuk menemui dokter bedah, namanya Dr. Alex. Setelah mengantre cukup lama tibalah giliran saya masuk. Dr. Alex menjelaskan hal yang kurang lebih sama dengan dokter umum yang saya temui minggu lalu. Ia juga mengatakan bedah ini sangat cepat dan hanya bius lokal saja. Kalau tidak dibedah, ada kemungkinan infeksi, timbul nanah di dalamnya dan akan terasa sakit. Selain itu ada kemungkinan membesar juga. Tidak mau menunggu lagi, saya langsung minta dilakukan bedah saat itu juga.

Dokter mempersiapkan segalanya, untunglah bedah dilakukan di ruang praktek dan bukan ruang operasi. Alasan dokter, jika dilakukan di kamar operasi, akan timbul biaya sewa tambahan. Saya sendiri juga merasa lebih nyaman jika dibedah di ruang praktek. Jika dibedah di ruang operasi, saya yakin saya akan merasa lebih tegang karena kondisi ruangan itu pasti akan berpengaruh secara psikologis.

Sampai di sini dulu cerita saya, saya akan sambung pada post berikutnya. Note : next post saya akan ceritakan detail operasinya, jadi buat yang mudah parno sebaiknya jangan membaca ya ;P