“The more civilized and complicated man becomes, the less able he is to obey his instincts. His complex living conditions are strong enough to silence the voice of nature.“(A quote by CG Jung)

Saya tidak tahu nama aslinya. Kami sekeluarga memanggilnya ‘Mbok’, meski mungkin saya lebih pantas menjadi cucunya. Orang Jawa asli, si Mbok yang lugu ini buta huruf. Memakai telepon pun dia kesulitan.

Kehidupannya sederhana, sesederhana penampilannya. Mbok masih mengenakan kebaya dan jarit khususnya jika kami mengajaknya ke gereja. Usianya yang senja belum menggerus fisiknya, Mbok masih bisa memasak, mengurus rumah dan memelihara anjing-anjing. Mbok senang tinggal di tempat yang banyak lahan terbukanya. Karena dia jadi bisa berkebun dan memelihara binatang.

Saya tidak pernah tahu apa yang sedang dirasakannya, tapi bagi saya raut wajahnya selalu tampak sama. Sumringah, polos, seperti tidak ada beban yang berarti. Walau kadang, Mbok curhat tentang kelakuan anak cucunya yang tidak ia senangi.

Hidup begitu simpel bagi seorang Mbok. Menonton televisi cukup menghibur baginya. Mbok mengikuti berita-berita terkini dan suka membahasnya, dengan gayanya yang lugu dan santai itu. Kasus Malinda membuatnya terheran-heran, kenapa ada orang yang butuh uang sampai ratusan milyar?

Ya, Mbok benar. Di luar sana banyak orang yang kaya dan bergelimang harta, tapi pertanyaan yang paling mendasar adalah: apakah semua itu membawa kebahagiaan? Ataukah justru membuatnya terjebak dalam sumur tanpa dasar bernama ‘Keserakahan’? Mbok hidup sangat sederhana, tidak menginginkan kemewahan, berusaha mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya, dan selalu bersyukur. Tapi Mbok bahagia, dan Mbok tidak perlu mengurangi hak orang lain untuk mendapatkan kebahagiaannya itu.

Saya suka melihat anak-anak karena saya menemukan kepolosan dan ketulusan pada mereka. Saya juga menemukannya pada diri Mbok. Ada inner child yang terpancar kuat dari dirinya, polos, tulus, dan gembira. Begitu alamiah dan tidak dibuat-buat. Saya rasa, tipe-tipe orang seperti Mbok inilah yang disayang Tuhan.

Dari Mbok, saya belajar untuk mencintai alam. Dari Mbok, saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan dan kegembiraan. Dari Mbok, saya belajar untuk bersyukur dan berani mengatakan ‘cukup’ atas apapun yang saya miliki. Seperti quote dari CG Jung yang saya kutip di awal, kadang kompleksnya kehidupan membuat kita tuli terhadap suara alam. Terima kasih, Mbok, yang selalu mengingatkan saya, tanpa perlu banyak bicara.

Mbok yang buta aksara, adalah guru besar bagi saya, seorang sarjana.

 

Baca juga :