Saya tidak bisa menyebutkan namanya, atau apa hubungan antara dia dengan saya. Tapi saya rasa itu tidak penting. Yang terpenting adalah, dari dia saya belajar tentang makna perjuangan dan dukungan. Bagaimana ia mengajar saya?

Ia seorang perempuan, seorang single parent. Membesarkan seorang anak laki-laki yang sekarang menginjak usia remaja. Acap ia katakan, ia beruntung memiliki anak yang baik. β€œSaya bukan ibu yang rajin, bukan ibu yang peduli. Saya seorang ibu yang cuek. Untungnya, anak saya memang nggak pernah macam-macam. Nggak usah disuruh, dia belajar sendiri. Ngerti sendiri kewajibannya,” tuturnya.

Ia sangat membanggakan putra tunggalnya, yang memiliki prestasi di beberapa bidang. Meskipun bakat itu tidak diwariskan dari dirinya, ia berupaya penuh memasuki dunia putranya. Dengan tekun ia mencari informasi, tempat-tempat kursus terbaik untuk anaknya. Saya mulai ragu dengan pengakuannya, bahwa dia adalah seorang ibu yang cuek.

Bertahun-tahun ia berupaya mendorong dan mendukung anaknya untuk menekuni bidang yang ia cintai. Tidak mudah, keluarga besarnya tidak sepenuhnya setuju dengan pilihan tersebut. Tetapi ibu ini dengan tabah mengantar anaknya les, meski harus sembunyi-sembunyi, menghindari sorotan keluarga besarnya yang tinggal serumah.

Ia juga dengan berani menyekolahkan anaknya di sekolah yang sebenarnya tidak sesuai dengan pilihan keluarga besarnya. Ia memilih sekolah itu karena ia tahu, anaknya harus menjadi the right man in the right place. Ia tahu, sekolah pilihan keluarganya, meski terlihat lebih bergengsi, bukanlah tempat yang baik untuk mengembangkan potensi anaknya.

Pilihannya tidak salah, tanpa perlu waktu lama, putranya menunjukkan berbagai prestasi. Mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri, menjuarai aneka lomba, aktif berorganisasi… keluarga besarnya pun mulai menaruh simpati.

Suatu hari, saya bertamu ke rumahnya, dan untuk pertama kalinya, saya memasuki kamar tidurnya, yang ia tempati bersama putranya. Kamar itu lebih tepat bila disebut…. museum. Museum yang memamerkan perjalanan hidup putranya dari bayi hingga remaja. Museum yang mengabadikan cinta dan perjuangan seorang ibu, seorang single mother. Ibu yang mengaku dirinya malas ini, ternyata telaten membuat kolase foto-foto putranya dalam berbagai momen penting. Berbagai piagam, sertifikat, dan kenangan lainnya ditata rapi. Menunjukkan betapa ia sangat menghargai setiap pencapaian putranya.

Di lemari bukunya, tertata berbagai buku motivasi. Dia mengaku, dia membaca semuanya demi putranya. Demi mentransferkan semangat positif pada putranya. Ia ingin putranya tumbuh menjadi pemuda percaya diri, meski ia dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah. Dia menunjukkan hasil-hasil psikotes putranya, berdiskusi mengenai bagaimana sebaiknya ia mengarahkan putranya.

Saya sangat salut, bahwa ada seorang ibu yang mau bersusah-susah mencari dan memahami passion anaknya. Mau menuntun anaknya untuk menggali potensi terbaik dalam dirinya. Bukan memaksakan apa yang dia kehendaki, tetapi mencari solusi, bagaimana putranya bisa berkembang dan kelak menghidupi dirinya dari passion-nya, from what he enjoys the most.

Bagi saya, dia perempuan luar biasa. Bukan dia yang beruntung menjadi ibu dari seorang putra yang baik, tetapi sang putralah yang sungguh patut bersyukur memiliki seorang ibu seperti dia. Saya percaya, perjuangan dan dukungannya kelak akan berbuah manis.

Tulisan ini saya persembahkan untuk dia, salah seorang guru saya dalam pelajaran kehidupan.

Posted with WordPress for BlackBerry.