Prolog :
Saya banyak terinspirasi dari orang-orang di sekitar saya. Saya ingin membaginya di blog ini, dengan judul Guru di Luar Kelas. Karena mereka adalah guru-guru saya dalam pelajaran kehidupan, di luar kelas, di luar sekolah resmi. Semoga kisah mereka bisa menjadi inspirasi banyak orang.

************
Saya ingin menuliskan kisah tentang seseorang yang saya kenal. Dari dia, saya belajar bahwa mengusahakan yang terbaik dalam hidup itu, bukan soal kemampuan, melainkan kemauan. Tanpa banyak bicara, dia mengajar saya tentang kehidupan.

Maaf, saya tidak bisa menyebut namanya. Dia hanya seorang biasa, seorang bapak dengan dua orang anak. Mulanya, saya mengira, istrinya sudah meninggal, karena kemana-mana dia selalu mengajak kedua anaknya. Belakangan saya tahu, istrinya pergi meninggalkan dia demi laki-laki lain. Meski mereka tidak bercerai secara legal, perempuan itu telah melahirkan anak ketiganya dari benih sang kekasih gelap.

Hidupnya semakin berat sejak ditinggal istri. Setiap pagi, ia bangun dan memasak untuk kedua anaknya. Menyiapkan segala keperluan sekolah mereka. Sambil mengurus kegiatan harian anak, ia juga harus bekerja untuk memastikan kebutuhan hidup terpenuhi.

Putri-putrinya masih sangat mungil ketika ditinggalkan ibu, masih usia TK dan awal masa SD. Dia berusaha keras menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka. Dalam segala keterbatasannya, menurut saya dia luar biasa. Berapa banyak orang tua zaman sekarang yang masih menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anaknya? Bapak ini masih melakukannya, dengan tekun ia mengkliping koran Minggu sebagai bahan cerita. Ya, di tengah kesibukannya bekerja dan mengurus rumah tangga.

Berapa banyak pula orang zaman sekarang yang masih mau terlibat aktif dalam kehidupan menggereja? Waktu masih sekolah, alasannya banyak tugas dan kegiatan. Ketika sudah bekerja, alasannya sibuk di kantor. Setelah menikah, mengaku kesibukan bertambah untuk mengurus rumah.

Tetapi bapak ini, yang harus bangun subuh-subuh untuk mengurus rumah, yang harus bekerja sepanjang hari, yang berperan ganda sebagai ayah dan ibu, masih memberikan waktunya untuk Gereja. Dia berkarya dalam pendampingan anak-anak dan terlibat dalam kegiatan lingkungan. Seringkali saya juga melihat dia berlutut di ruang Adorasi, mendaraskan doa dalam keheningan.

Dia juga berusaha untuk memberi dalam hal materiil. Bila ada jamuan makan di komunitas kami, dia selalu menyumbang buah semangka. Jangan lihat harganya, lihatlah perjuangannya menghadirkan semangka di meja makan. Dia harus naik sepeda motor, membonceng dua anak dan memilih semangka terbaik. Lalu yang sulit saya bayangkan adalah betapa repotnya membawa beberapa buah semangka utuh dengan naik sepeda motor dan masih membonceng dua orang anak.

Hal memberi juga ia tanamkan pada kedua putrinya. Saya masih ingat dalam suatu kesempatan mereka memberi saya hadiah sebuah buku gambar. Alasannya sederhana, karena mereka tahu saya suka menggambar. Pemberian yang tulus, peduli, dan tepat guna.

Apa lagi yang luar biasa dari dia? Kebesaran jiwanya. Sepanjang pengetahuan saya, seorang laki-laki akan merasa luar biasa terhina apabila cintanya dikhianati. Tapi suatu kali saya jumpai dia menimang seorang anak, yang tak lain adalah anak ketiga dari perempuan yang meninggalkannya. Anak-anaknya pun mau bermain dengan adiknya seibu, mereka pun masih menghormati ibunya apabila kebetulan bersua.

Bapak ini sering berkata bahwa dia kagum dengan anak-anak muda di gereja kami, tapi dia mungkin tidak sadar, bahwa dirinya pun sangat layak untuk dikagumi.

Dia tidak banyak bicara, tidak banyak menceritakan hidupnya, semua yang saya tuliskan di atas adalah murni hasil pengamatan saya terhadap sosoknya. Melihat dia, saya teringat Amsal 27:2, “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.”

Tulisan ini saya persembahkan untuk dia, salah seorang guru saya dalam pelajaran kehidupan, tentang mengusahakan yang terbaik dan berjiwa besar🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.