from http://malaroux.blogspot.com, hasil search Google Image

from http://malaroux.blogspot.com, hasil search Google Image

Bagiku, danau ini adalah kehidupanku. Ia menghidupi keluargaku turun temurun, mulai dari kakek buyut hingga ayahku. Sejak kecil, ayah telah memperkenalkanku dengan danau ini. Ketika aku dianggapnya cukup besar, ia berani mengajak aku melaut di malam hari. Meski terbiasa bermain di tepiannya di siang hari, ternyata Danau Genesaret tampak berbeda di waktu malam. Bermalam-malam aku belajar dari ayahku, bagaimana mengatasi badai, bagaimana menemukan tempat di mana ikan banyak berkumpul, bagaimana menangkap ikan dengan cepat sehingga mereka tidak sempat kabur.

Dengan cepat waktu berlalu, tak terasa aku telah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah, seorang penjala ikan yang berhasil. Aku pun menikah, dan seperti leluhurku, aku menghidupi keluargaku dari Danau Genesaret. Setiap malam aku meninggalkan anak istriku yang tertidur lelap, dan kembali pada pagi harinya membawa berlaksa-laksa ikan segar. Hidupku sungguh terasa sempurna.

Suatu malam, seperti biasa aku pergi menjala ikan di Danau Genesaret. Aneh. Sungguh aneh. Entah kemana perginya ikan-ikan di danau ini. Setiap kali jala kutarik, tak seekor ikan pun tersangkut di dalamnya. Kawanku berusaha melempar umpan lebih banyak, tapi tetap saja tak ada ikan yang berhasil terjerat. Apa yang terjadi dengan Danau Genesaret? Memang, tak selamanya aku bisa membawa pulang banyak ikan. Tapi malam ini sungguh tak biasa, sepertinya kami benar-benar harus pulang dengan tangan kosong.

Kelelahan luar biasa menderaku, matahari mulai terbit dan dengan berat kami merapatkan perahu di pinggir danau. Kubasuh jalaku, seraya kuperiksa apakah ada bagian yang robek sehingga ikan-ikan bisa lolos dengan mudah. Kesibukanku membereskan jala sedikit terusik dengan banyaknya orang yang berkerumun di sekitar danau.

Tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku. “Bolehkah Aku naik ke atas perahumu?” tanyanya kepadaku. Terus terang, aku lebih ingin pulang daripada membawa orang pergi berlayar. Lagipula, aku kan bukan tukang perahu, yang menyewakan perahu untuk menyebrangi danau? Tapi aku iyakan saja permintaannya, Dia pun naik ke atas perahuku. Ia meminta aku untuk bertolak sedikit jauh ke tengah danau. Aku masih saja mau menurutinya.

Ia duduk dengan tenang, gaya-Nya begitu lembut dan anggun. Kata-kata yang mengalir dari bibir-Nya begitu lembut dan menyenangkan, tetapi terasa kuat dan penuh kuasa. Aku terkesima dan ikut mendengarkan pengajaran-Nya. Pantaslah, begitu banyak orang mengikuti-Nya. Rupanya Ia seorang guru yang terkenal. Uniknya, Ia tidak mengajar di sinagoga, tetapi malah mengumpulkan orang banyak di tempat terbuka seperti ini.

Pria itu menutup pengajarannya dan menepuk lembut bahuku. ”Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan,” ujarnya. Aku kaget. Matahari mulai meninggi. Tidak pernah ada nelayan yang menangkap ikan siang bolong begini. Tidak ada teori demikian dalam ilmu menangkap ikan yang diwariskan leluhurku turun temurun. Yang namanya menangkap ikan itu ya malam hari, itu waktunya alam membantu nelayan mendapatkan ikan.

Mungkin hari itu aku sedang gila, atau mungkin aku terlalu terkesima dengan pria itu, tanpa pikir panjang aku menjawab,”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Otot lenganku terasa sakit saat kudayung perahuku hingga ke tengah danau, ke palung terdalam di Danau Genesaret. Kusibakkan kembali jala yang telah rapi terlipat, dan kulemparkan. Tak butuh waktu lama untuk merasakan sesuatu bergerak di dalam jalaku. Kutarik jalaku, tapi jala itu terasa begitu berat, mungkin karena lenganku sudah kelelahan.
Dugaanku keliru. Jalaku memang berat, karena begitu banyak ikan tertangkap di dalamnya. Begitu banyaknya hingga jalaku mulai koyak. Aku memberi isyarat kepada teman-temanku di perahu lain untuk datang membantuku. Kami berjibaku menarik jala dan memasukkan ikan ke dalam perahu. Ajaib! Ikan-ikan Danau Genesaret yang semalam menghilang, tiba-tiba saja berkumpul dalam jala kami. Perahuku mulai penuh. Dalam waktu singkat, perahu temanku juga mulai kelebihan muatan.

Aku memandang pria itu, yang tetap tenang memandangi dua perahu kami yang hampir tenggelam karena terlalu berat. Angin Danau Genesaret mengibarkan rambut-Nya, dan saat itu kulihat jelas wajah-Nya yang bercahaya. Ada sesuatu yang terpancar dari pria ini. Ada ketenangan, kedamaian yang sulit kulukiskan ketika aku bersama-Nya. Dalam diriku muncul keyakinan baru, bahwa apapun akan dapat kulalui asalkan Dia mendampingiku. Tapi Ia tampak begitu suci, begitu kudus, aku merasa tidak layak.

Keagungan-Nya membuatku tersungkur di hadapan-Nya dan tanpa bisa kucegah, aku berkata,”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Meski kata-kata itu meluncur begitu saja, dalam hatiku timbul penyesalan sesudahnya.
Bagaimana kalau Dia benar-benar pergi dan tak dapat kutemui lagi? Di manakah aku bisa menemukan orang seperti Dia lagi? Guru-guru di sinagoga memang banyak, tetapi belum pernah ada yang bisa menyentuh hatiku seperti orang ini. Mereka hanya bisa berkhotbah tanpa menyentuh sisi permasalahan hidup sebenarnya. Hal-hal yang mereka ajarkan terasa melayang-layang dan tidak dapat aku terapkan dalam hidupku.

Di tengah kekhawatiranku akan kehilangan Dia, kata-kata itu menggema di telingaku, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Aku tidak paham akan maksud-Nya, tapi aku tahu pasti apa yang harus aku lakukan. Kudayung perahuku menuju ke tepi danau. Kutinggalkan perahuku, kutinggalkan jalaku. Kuikuti langkah guruku, entah akan membawaku ke mana. Aku hanya ingin mengikut Dia.

17 Januari 2011, mencoba menceritakan ulang Lukas 5:1-11

Posted with WordPress for BlackBerry.