Kadang kita tidak merasakan betapa berharganya apa yang kita miliki, karena kita sudah terlalu terbiasa memilikinya. Kita baru bisa menghargai milik kita ketika kehilangan, atau setidaknya melihat mereka yang tidak memilikinya.

Tadi pagi, saya dan puluhan anak SEKAMI datang mengunjungi panti asuhan anak cacat di Gianyar. Penghuni panti sekitar 30 anak, kebanyakan tuna rungu dan wicara, ada beberapa yang tuna grahita.

Saya sangat terkesan dengan panti yang sederhana itu, karena dengan segala keterbatasan, para pengurus berusaha memperlengkapi anak-anak asuhnya. Anak-anak itu diajar untuk menjadi mandiri dan mengembangkan talenta. Beberapa di antara mereka mampu melukis dengan cukup baik. Mereka juga diajarkan menari, baik tradisional maupun modern. Meski keterbatasan pendengaran membuat mereka tidak dapat mengikuti irama, mereka mahir menirukan gerak pelatih tarinya. Bila melihat mereka menari, sejenak kita akan lupa bahwa mereka penderita tuna rungu.

Demi masa depannya, anak-anak ini juga mulai belajar menjahit. Mesin jahit yang merupakan sumbangan seorang donatur telah dimanfaatkan untuk menerima order jahitan dari sebuah garmen.

Yang lebih mengesankan adalah sikap anak-anak panti ini. Mereka sangat sopan dan ramah. Ketika kami membagikan makan siang, mereka tidak berebut, melainkan duduk manis menunggu makanan dibagi. Setelah menerima makanan mereka juga tidak langsung membukanya. Setelah semua anak mendapat makanan barulah mereka mulai makan. Suatu bentuk sikap empati dan solidaritas yang tinggi.

Yang menjadi bahan renungan saya dalam kunjungan ini, telah saya kutip di awal tulisan. Hal itulah yang saya sampaikan kepada 60 anak SEKAMI yang mengikuti kunjungan. Melihat anak-anak panti, timbul rasa syukur di hati, atas apa yang selama ini saya miliki. Panca indra yang berfungsi baik dan anggota tubuh yang lengkap.

Di sisi lain, sejauh yang saya tahu, jika salah satu indra manusia tidak berfungsi, biasanya indra lainnya berfungsi lebih optimal dari sewajarnya. Tuna netra misalnya, memiliki indra pendengaran yang lebih peka.

Mari bayangkan seandainya kita seorang tuna netra. Di sekeliling kita ada orang bertengkar dengan mengucapkan kata-kata kasar, ditambah intonasi tinggi. Alangkah menakutkan dan mencekamnya suasana yang kita rasakan.

Atau bayangkan, seandainya kita seorang tuna rungu, dalam situasi yang serupa. Tanpa bisa mendengar, kita melihat jelas mimik wajah marah dan menakutkan. Mimik penuh kebencian dan dendam…. Tentunya bukan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat.

Dan, apabila kita seorang tuna daksa. Kita melihat dan mendengar sesama kita adu jotos. Padahal seandainya saja kita juga memiliki tangan dan kaki yang sempurna seperti mereka, betapa banyak hal baik yang ingin kita lakukan. Memeluk, membelai, mengungkapkan kasih kita lewat sentuhan.

Sayangnya, justru kita yang memiliki panca indra dan anggota tubuh yang lengkap, acap menggunakannya untuk menyakiti orang lain. Baik melalui kata-kata, maupun perbuatan. Kita kadang tak sadar, panca indra dan anggota tubuh yang menempel pada kita bukan sekadar tempelan semata. Begitu banyak saudara yang tidak memilikinya, begitu mendambakan memiliki apa yang kita miliki. Saya yakin di dunia ini tidak seorang pun ingin dilahirkan dalam kondisi kekurangan salah satu panca indra maupun anggota tubuh.

Melihat anak-anak tuna rungu di panti tadi, batin saya tersentak. Ya, saya mungkin salah satu dari sekian banyak manusia yang beruntung, tapi tidak menyadari keberuntungannya itu. Saya masih sering menggunakan indra dan anggota tubuh saya untuk menyakiti dan bukannya mengasihi sesama. Saya jadi malu, sangat malu pada mereka, terlebih pada Sang Pencipta.

Dalam perjalanan pulang, kami mengajak anak-anak menyanyi :’Hati-hati gunakan tanganmu… Mulutmu… Kakimu….’ dan seterusnya. Kali ini, lagu itu bukan sekadar lagu bagi saya. Kata-katanya benar-benar menjadi perenungan mendalam jauh di relung batin ini.

inilah salah satu pertunjukan bakat dari anak Panti Asuhan berupa tari breakdance

inilah salah satu pertunjukan bakat dari anak Panti Asuhan berupa tari breakdance

Posted with WordPress for BlackBerry.