Tiba-tiba saja, saya teringat kenangan bersama seorang teman, dua tahun yang lalu.

Saat itu kami sama-sama merasakan pengalaman hidup di asrama. Yang tadinya tidak saling kenal, akhirnya selalu bersama mulai bangun tidur hingga terlelap lagi. Perbedaan budaya dan latar belakang kadang memunculkan gesekan di antara kami.

Contohnya suatu hari, saat makan bersama.
“Eh,kamu ni gimana sih, mau makan kok nggak berdoa dulu?” tegur saya.
“Apaan sih, dasar cerewet!” balasnya.
Meski demikian, karena setiap kali makan saya selalu menyuruhnya berdoa, akhirnya doa sebelum makan jadi kebiasaan baru baginya.

Kebiasaan baru lainnya adalah, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri.
“Jadi, apa yang harus aku beli?” tanyanya saat kami berada di supermarket.
Saya lantas mengajarinya tentang seni mencuci. Mulai dari merendam, menyikat, diakhiri dengan pelembut pakaian.
“Di sini udaranya lembab dan kurang sinar matahari, jadi pakaian bisa bau apek. Makanya butuh pelembut,” jelas saya.

Tidak lupa,setiap hari Minggu saya mengintimidasinya untuk bangun pagi dan pergi ke gereja. Meski harus menyaksikan wajah cemberutnya, saya tak gentar menyeretnya memasuki angkot yang mengangkut kami semua ke gereja.

Empat puluh hari menjalani hidup dengan diiringi omelan saya, ternyata membuatnya menjadi sosok yang berbeda.
“Kamu tau nggak,” ceritanya,”aku kan makan bareng di rumah sama mama dan adikku. Karena udah kebiasaan, sebelum makan aku doa dulu. Sepanjang aku doa sampai selesai, mereka ngeliatin aku. Salting jadinya. Heran mereka, kenapa kok aku bisa doa sebelum makan.”
Meskipun saya tertawa sambil meledek dia, jauh dalam hati terselip rasa bangga dan bahagia. Bangga, karena ternyata kecerewetan saya ada gunanya. Bahagia, karena dia telah berhasil mempertahankan kebiasaan baiknya.

Kadang saya berpikir, sifat straight to the point saya bak dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi bisa menyakiti, tapi di sisi lain bisa membangun juga. Tidak banyak lho orang yang berani jujur mengungkapkan perasaan dan pemikirannya. Saya pun kadang tidak. Tapi saya mencoba, dan akan terus mencoba, untuk jujur dengan perasaan dan pemikiran saya. Untuk tidak berpura-pura menyukai apa yang tidak saya sukai atau memuji sosok yang tidak saya kagumi.

Sampai sekarang saya masih berteman dengan orang yang saya ceritakan tadi, meski tidak seakrab dulu, karena jarak sudah memisahkan kami. Tapi tulus saya berdoa, agar dia tetap menjadi sosok seperti yang saya kenal once upon a time in Ciawi. Rajin berdoa, ke gereja, syukur-syukur kalau masih mau nyuci dan nyetrika ;p

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.