Sejak resmi menjadi peserta program Management Trainee di bank tempatku bekerja inilah, aku mengenal seorang cowok bernama Panji Daud Soeyono. Asalnya dari Lombok, kuliahnya di Surabaya. Sebulan lebih kami training bersama di Ciawi, dua bulan kami sama-sama menempuh on-the-job-training di Surabaya, meski di cabang yang berbeda.

Perjalanan outing SME ke Bali membuka sebuah fakta bagi kami berdua.  Pada saat melewati sebuah rumah, Panji nyeletuk,”Ini loh rumah saudaraku, dokter X.”

“Loh Nji,” balasku,”itu saudaraku tau.”

Ya, ternyata aku dan Panji masih terhitung saudara.

 

 

Bersama Panji -saudara ketemu gede- di Pantai Jimbaran 

 

 

 

Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Aku sudah agak curiga sejak Panji mengatakan bahwa engkongnya berasal dari desa Baturiti di Bali. Engkongku juga berasal dari desa yang sama. Tapi, marga engkongku dan engkong Panji berbeda. Engkongku dari marga Kang, dan engkong Panji dari marga Pui. Masalahnya, desa itu kecil sekali, hanya sepanjang jalan raya Baturiti yang menuju ke Bedugul. Dan menurut penuturan mamaku, orang sedesa kami semuanya masih terhitung saudara. Saking mininya, jadilah warga desa itu berkerabat, baik karena hubungan darah maupun pernikahan.

Jangankan Baturiti, di Denpasar saja kalau dirunut-runut banyak kenalan yang setelah dilacak ternyata masih saudara kami. Keluarga engkongku saja begitu banyaknya. Maklum dahulu kala orang belum mengenal Keluarga Berencana. Bayangkan saja, engkong buyutku punya 21 anak dari 3 istri. Anak-anaknya beranak lagi, ada yang 4, 9, setahuku tidak ada yang anaknya hanya 1. Masih untung nggak pada berpoligami semua. Cucu-cucunya punya anak, kali ini mulai agak sedikit, tapi tetap terhitung banyak bila dikumpulkan. Total jumlah keturunan engkong buyutku hingga saat ini sudah lebih dari seratus. Bayangkan kalau ada yang menggelar hajat pernikahan atau ada yang meninggal. Nggak perlu undang teman, kalau keluarga diundang semua saja sudah harus sewa ballroom.

Susahnya lagi, sebagai keturunan Tionghoa (meski ada darah Balinya juga sih), kami masih menggunakan istilah Hokkian untuk menandai ikatan kekerabatan. Kalau bahasa Indonesia hanya mengenal ‘Tante’, ‘Om’, ‘Opa’, ‘Oma’; dalam bahasa Jawa ‘Bu Lik’, ‘Pak Lik’, ‘Bu De’, ‘Pak De’, ‘Eyang Kakung’, ‘Eyang Putri’; etnis Tionghoa punya perbendaharaan kata yang jauh lebih komplit. Saudara dari ayah disebut ‘Empek’ bila lelaki lebih tua, ‘Encek’ bila lelaki lebih muda, ‘Ako’ bila perempuan. Istri ‘Empek’ dipanggil ‘Em’, istri ‘Encek’ dipanggil ‘Encim’, suami ‘Ako’ dipanggil ‘Kotiu’. Saudara dari ibu disebut ‘A’i’ bila perempuan, ‘Engku’ bila lelaki. Suami ‘A’i’ disebut ‘Icang’, istri ‘Engku’ disebut ‘Engkim’. Nggak hanya itu, urutan lahir juga menentukan panggilan. Misalnya, ‘Ako’ pertama disebut ‘Toako’, kedua disebut ‘Jiko’, dan seterusnya. Ribet? Jelas! Saking banyaknya saudara engkongku, akhirnya rumus ‘Toako’, ‘Jiko’ tidak berlaku. Para keponakan memanggil paman bibinya dengan sebutan standar (Empek/Encek/Ako/Engku/A’i) plus nama. Nama pun mengikuti nama Bali, di mana nama Bali membedakan urutan lahir (misal: ‘Putu’ untuk anak pertama, ‘Nyoman’ anak ketiga). Engkongku contohnya, sebagai anak ketiga, dipanggil Encek/Engku/Empek Nyoman. Karena saudaranya terlalu banyak, akhirnya nama Bali ini pun tidak lagi berlaku.

Karena ribetnya istilah Tionghoa ini, ada beberapa orang dalam keluarga besar kami yang mulai mengajarkan agar putra-putrinya memanggil kerabat dengan sebutan standar ‘Tante’ dan ‘Om’. Meski praktis, sebenarnya ada kekurangannya juga. Panggilan yang spesial bagi setiap orang dalam keluarga besar sebenarnya menegaskan kedudukannya dalam keluarga. Misalkan, ketika aku memanggil seseorang ‘Toako’, orang bisa dengan cepat langsung mengetahui bahwa dia adalah kakak perempuan pertama ayahku. Kalau dipanggil ‘Tante’, masih ada banyak kemungkinan. Mungkin kakaknya ayah, atau adiknya, atau kakaknya ibu, atau adiknya. Oh iya, sebagai catatan, panggilan untuk anggota keluarga pada etnis Tionghoa bermacam-macam tergantung dari bahasa sukunya. Yang aku contohkan adalah panggilan dalam suku Hokkian, suku mayoritas dalam keluarga besarku. Panggilan-panggilan tersebut akan berbeda dalam bahasa suku Khek/Haknyin, bahasa suku Tiociu, dan seterusnya.

Kembali ke topik, sebenarnya gimana sih hubungan saudaraku dengan si Panji?

Seperti status di friendster: IT’S COMPLICATED!