Apa itu cinta? Setiap orang mungkin punya definisinya masing-masing. Tapi saya tidak pernah berhasil mendefinisikan cinta. Saya hanya bisa melihatnya, merasakannya. Karena bagi saya, tidak pernah ada kata-kata yang tepat untuk mendefinisikan cinta. Bahkan mungkin, kata ‘cinta’ itu sendiri tidak cukup tepat untuk menggambarkannya.

Saya melihat cinta di suatu malam di Plaza Tunjungan. Sore itu, saya minta tolong diantarkan pulang ke rumah. Teman saya menyetujui, dengan syarat saya menemaninya mencari kado ulang tahun untuk mamanya sebelum pulang.

Kami berjalan dari satu toko ke toko lainnya. Dia bingung hendak membelikan apa untuk mamanya, dengan uang pertama yang diraihnya sendiri dari hasil jerih payah bekerja. Taskah? Tidak ada tas yang cukup bagus baginya. Kami sudah masuk ke berbagai counter dan memang tidak ada yang menarik. Baju? Kami masuk ke counter Zara dan tidak menemukan sesuatu yang pas di hati. Dia mulai meminta saran saya. Hmm… dia memilih teman perempuan yang salah. Saya tidak pandai memilih hadiah, apalagi untuk seorang perempuan yang belum saya kenal. Waktu terus berjalan dan tanpa terasa sudah hampir dua jam kami berkeliling plaza. Saya merasa penat, terlebih hari itu saya sudah berkeliling kota Surabaya yang terik dengan sepeda motor.

Tapi tentu sangat tidak etis bila saya protes. Bukankah saya ikut dengannya karena saya minta diantar pulang? Teman saya sendiri pasti tak kalah letihnya. Hari itu saya tahu persis begitu banyak yang harus ia kerjakan. Ia sendiri tak biasanya betah berjalan begini lama. Biasanya ia akan mengomel bila harus berjalan kaki lama-lama. Tidak praktis, katanya. Ya, saya mengenalnya sebagai seorang pengeluh, seorang pemarah, seseorang yang sangat sulit dihadapi dan dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menjadi temannya.

Pencarian kami berakhir di counter perhiasan. Dengan mata berbinar-binar teman saya menggenggam seuntai kalung Swarovski. Percayalah, dia butuh waktu setengah jam untuk memastikan pilihannya. Dicobanya kalung itu berulang kali. Dikaitkan di telapak tangan, di lehernya, bahkan ia minta saya juga ikut mencoba.

Saat itulah saya melihat cinta. Cinta teman saya pada mamanya. Cinta yang membuat seorang pengeluh dan pemarah berjalan begitu panjang, begitu lama, tanpa mengeluh, apalagi marah, sedikit pun. Cinta yang membuat kepenatannya seolah tak terasa. Cinta yang membuat memilih seuntai kalung Swarovski membutuhkan waktu setengah jam. Cinta yang membuat ia masih melihat kembali kalung itu untuk terakhir kalinya sebelum dibungkus dan dibayar, hanya untuk memastikan bahwa pilihannya tepat. Cinta yang membuat ia rela menghabiskan sepertiga gajinya bulan itu. Cinta yang membuat saya yakin, betapa sangat berartinya perempuan yang ia panggil ‘Mama’ itu baginya. Cinta yang membuat saya kagum dengan perempuan yang belum pernah saya kenal, perempuan yang harus kehilangan suami di usia muda, yang harus membesarkan tiga orang anak sendirian, dan yang hingga kini tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.

Keesokan harinya, saya bertanya pada teman saya itu, bagaimana reaksi mamanya melihat hadiah spesial tersebut. ‘Senang, tentu saja,’ jawabnya dengan mata bersinar bahagia. Sekali lagi, saya melihat cinta itu.