Minggu lalu, tiba-tiba saja bos di kantor memanggil aku dan teman-temanku untuk bicara dalam ruangannya. Ketika aku menceritakan tentang aktivitas canvassing yang aku lakukan, dia bertanya apa yang aku dapat dari sana. Malu-malu aku menjawab,”Kartu nama, Pak.”

Tak dinyana, bos malah berkata, “Nggak apa-apa. Canvassing itu ibaratnya menabur benih. Kadang, benih yang kita tabur memang tidak tumbuh. Tapi malah kita menuai dari samping-samping, dari yang tidak kita sangka-sangka.”

Kata-kata bos itu benar-benar menancap dalam pikiranku.

Beberapa hari kemudian, aku berbincang dengan sahabatku lewat telepon. Tiba-tiba tersirat dalam benakku untuk menanyakan satu hal yang sudah lama ingin aku tanyakan padanya.

“Sup, kenapa sih kamu itu baik banget sama aku? Mau-maunya bantu-bantu kerjaanku, emang aku pernah kasih apa sama kamu?” tanyaku.

Jawaban sahabatku benar-benar di luar dugaanku. “Kamu inget nggak Ria, dulu, kamu banyak bantu-bantu pas kita sama-sama di MPM. Aku kan benar-benar nggak pengalaman jadi sekretaris. Kamu yang ngajarin aku bikin notulen, kamu yang bantu beresin arsip-arsipku.”

Aku jadi ingat lagi dengan nasihat bosku.

Me and Supry, my best friend

Me and Supry, my best friend

Bertahun-tahun yang lalu waktu aku bantu-bantu Supry membereskan arsip, membuat notulensi, dan lain-lainnya, aku melakukan itu tanpa maksud, hanya ingin sekadar membantu. Aku nggak pernah berharap Supry akan mengingat-ingat bantuanku, apalagi membalasnya. Tapi, sampai sekarang perbuatan kecil yang aku lakukan ternyata membekas di hatinya.

Tentu saja tidak semua benih yang kita tabur akan dapat kita tuai. Pernah aku membantu seorang teman yang kesulitan, tapi kemudian dia menghilang tanpa itikad baik menyelesaikan masalah yang belum selesai di antara kami. Beberapa tahun kemudian, saat berpapasan di jalan, ia bahkan pura-pura tidak mengenalku.  

Injil Minggu lalu membahas ini. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, sebentar saja datang burung-burung yang memakannya. Ada yang jatuh di tanah berbatu-batu, sehingga akarnya tidak dapat tumbuh maksimal dan akhirnya mati. Ada yang jatuh di semak belukar, terhimpit oleh semak dan tidak bisa tumbuh. Tapi, selalu ada tanah yang subur, yang membuahkan hasil yang berlimpah. Okelah, ada teman tak tahu diri yang bisa begitu saja melupakan bantuanku yang tidak kecil, tetapi di sisi lain, ada teman seperti Supry, yang selalu mengingat bantuan sederhana yang pernah aku berikan kepadanya.

Karena itu, kita tidak perlu takut menebar benih kasih sayang, benih kebaikan, kepada siapapun di dunia ini. Memang tidak semua akan kembali dalam bentuk yang sama seperti yang kita taburkan dahulu. Tapi, selalu ada saja yang akan tumbuh dan menghasilkan buah yang jauh melebihi harapan kita. Di sisi lain, aku harap aku bisa menjadi tanah yang subur buat orang lain, di mana semua kebaikan yang aku terima dari orang lain bisa aku kembalikan berlipat ganda.