Belakangan ini aku sedang senang-senangnya menonton serial ‘Doo Bee Doo’ di RCTI. Yang aku sukai dari serial ini adalah tokoh utamanya, seorang balita bernama Shayna. Shayna dikisahkan sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya, yang akhirnya dirawat secara sembunyi-sembunyi oleh tiga siswa SMA di rumah kosnya. Secara fisik, Alanis, yang berperan sebagai Shayna, memang merupakan balita yang sangat lucu. Berkulit putih bersih dengan rambut keriting kecil-kecil, mata bulat dan mimik ekspresif.

Tapi kalau membayangkan apa yang terjadi di balik layar, aku agak khawatir dengan perkembangan Alanis. Bayangkan saja, kebanyakan sinetron di Indonesia diproduksi secara stripping alias kejar tayang. Bisa jadi, hampir setiap hari waktu Alanis dihabiskan di tempat syuting. Padahal, balita seumuran Alanis butuh waktu tidur yang cukup banyak. Bisakah dia tidur dengan lelap di tempat syuting yang hiruk pikuk? Lagipula, Alanis mestinya sudah atau paling tidak akan segera masuk preschool. Bayangkan kalau pulang dari preschool masih harus syuting.

Yang mengkhawatirkan lagi, tokoh Shayna digambarkan sebagai anak yang cerdas tetapi agak nakal. Contohnya, Shayna pernah ditampilkan menyetir mobil sendiri, menyetir bus, dan melaju di jalan raya dengan skateboard. Celetukan yang terucap dari mulutnya terkadang terkesan dewasa. Macam, “Kasian deh lu!”, “Capee deh!”, “Emang enak?”, “Sogok aja Kak!”, “Abang pelit!” dan lain sebagainya.

Aku sendiri tahu proses syuting memang banyak menggunakan rekayasa. Tidak mungkin Alanis benar-benar dibiarkan menyetir kendaraan ataupun ngebut dengan skateboard. Tapi, andai Alanis menonton hasil syutingnya, jangan-jangan dia terinspirasi untuk benar-benar melakukannya di dunia nyata. Ucapan-ucapan gaulnya pun, jangan-jangan juga menjadi ucapan wajarnya dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah masa balita itu, kata iklan susu, merupakan golden age di mana otak seorang anak dibentuk, dan ini akan mempengaruhi kehidupannya kelak? Aku juga percaya pembentukan karakter di masa kecil sangat berpengaruh pada karakter seseorang di masa dewasa. Jadi, aku khawatir dengan syuting itu, karakter Alanis jadi ‘terbawa’ menjadi Shayna. Aktor-aktris dewasa saja sering kesulitan melepaskan diri dari perannya, apalagi anak kecil.

Aku melihat, porsi bagi anak-anak Indonesia untuk berkarya di bidang akting sedang besar-besarnya. Banyak sekali sinetron Indonesia yang memajang kelucuan dan kepolosan anak-anak. Tapi, kekhawatiranku terhadap anak-anak (termasuk remaja) yang berakting di televisi sama seperti kekhawatiranku terhadap sosok Alanis. Bagaimana sekolahnya? Bisakah mereka mengikuti pelajaran dengan maksimal? Cukupkah waktu istirahatnya? Apakah mereka tidak akan terpengaruh dengan perannya? Apakah pergaulan orang dewasa di lokasi syuting cukup sehat bagi mereka? Apakah mereka masih sempat ikut kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri lainnya? Apakah mereka masih bisa bermain?

Apalagi, di televisi kita sekarang, sedang marak fenomena penuaan dini. Contohlah Cinta Laura, yang harus memerankan perempuan 20-an di usia 14 tahun. Atau Shireen Sungkar, yang berperan sebagai istri berusia 20-an sementara aslinya ia baru 16 tahun. Aku jadi ingat kata Mbak Ayu Utami, “Di sinetron Indonesia sekarang, umur artis di-upgrade 10 tahun lebih tua. Jadi, kalau aku main sinetron sekarang, pasti dapat peran jadi nenek-nenek.”

Di sisi lain, saat ini justru tidak ada wadah bagi anak-anak yang berbakat di bidang musik. Apakah acara ‘Idola Cilik’ merupakan jawaban? Menurutku, meski acara itu memberi kesempatan bagi anak-anak untuk mengasah talenta musiknya, di saat yang sama ‘Idola Cilik’ juga memaksa anak-anak menjadi lebih dewasa dari usianya. Mulut-mulut kecil mereka mendendangkan lagu-lagu dewasa populer masa kini. Fenomena ini dikeluhkan oleh Joshua, mantan penyanyi cilik. Joshua menyatakan, saat ini, bukannya tidak ada anak-anak yang berbakat di bidang musik. Yang tidak ada adalah wadahnya. Ke mana sih perginya Papa T. Bob?

Memang, adalah naif jika televisi kita hanya menampilkan tokoh dewasa. Keberadaan anak-anak tetap diperlukan agar sinetron menjadi lebih dekat dengan kenyataan. Akan tetapi, hendaknya ada perlakuan khusus terhadap artis cilik. Misalnya, waktu syuting hanya pada hari libur sekolah, dan hanya beberapa jam saja. Jadi porsi scene yang menampilkan anak juga tidak perlu banyak-banyak. Kalaupun anak menjadi tokoh utama, peraturan tersebut harus tetap berlaku (maka dari itu jangan sampai sinetron dengan tokoh utama anak syutingnya kejar tayang). Dalam bidang ini perlu adanya perhatian dari pemerintah, misalnya dengan membuat regulasi yang mengatur kinerja artis cilik (bukannya dulu sudah pernah dibuat, lalu gimana kelanjutannya ya?). Kedua, sebaiknya anak tidak memerankan tokoh yang jauh dari kesehariannya. Peran anak nakal sebaiknya tidak dimainkan oleh anak-anak, tetapi oleh orang dewasa yang pertumbuhan fisiknya terbatas, seperti Onny Syahrial yang dulu berperan sebagai tuyul. Jadi, anak-anak tidak perlu menjadi orang lain, plus tidak terbawa oleh perannya. Ketiga, artis cilik harus diberi pendampingan lebih oleh orang tua, bila perlu oleh profesional (psikolog). Jangan sampai ia kehilangan kepolosan sebagai anak-anak. Lebih baik lagi  apabila seorang anak yang memang berbakat di bidang seni peran berkarya di film layar lebar. Waktu syutingnya relatif singkat dan bisa digunakan untuk mengisi waktu liburan sekolah. Lagipula, dari segi pemirsa, menonton televisi terlalu banyak tidak baik bagi anak. Aku pernah membaca, semakin lama anak menonton televisi, semakin berkurang kecerdasannya. Jadi, porsi hiburan anak di televisi memang tidak perlu kebanyakan. Lebih baik dananya digunakan untuk membuat film anak yang tayang di bioskop, yang bisa menjadi alternatif hiburan saat liburan.

Talenta bermusik anak pun seharusnya diberi tempat dalam industri musik, dengan menyediakan lagu yang memang diciptakan khusus untuk anak-anak. Lagu-lagu seperti ciptaan Pak Kasur, yang isinya mendidik, nadanya mudah dinyanyikan, dan kata-katanya tidak rumit. Intinya, biarlah anak-anak menjadi anak-anak. Karena masa anak-anak hanya datang sekali dalam kehidupan seorang manusia.