Hari ini, secara spesial saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang singkat dengan Arswendo Atmowiloto dan Ayu Utami, dua orang penulis Indonesia. Mereka datang ke Surabaya dalam rangka menjadi guest speaker dalam Diskusi Santai Mengarang Itu Gampang di Fakultas Sastra Unair, yang digelar hari ini pk.09.00. Acara ini merupakan hasil kerja sama Fakultas Sastra Unair dengan Sampoerna untuk Indonesia.

Saya tidak bisa cerita banyak tentang acaranya, karena saya datang terlambat. Di samping itu, posisi duduk saya juga sangat tidak strategis, yaitu di deretan paling belakang. Padahal, tepat di tengah ruangan aula Fakultas Sastra tempat berlangsungnya diskusi, berdiri dua pilar besar. Pilar ini menghalangi jarak pandang penonton ke arah panggung, khususnya bagi mereka yang duduk di barisan tengah hingga ke barisan belakang. Melihat wajah Mbak Ayu dan Mas Wendo saja harus melongok kesana kemari. Sangat disayangkan. Padahal animo massa cukup bagus, aula dipadati penonton yang tidak hanya berasal dari Fakultas Sastra. Beberapa penanya bahkan berasal dari FISIP.

Untungnya, setelah acara selesai, saya dan Daisy sebagai peserta ISBS 2007 mendapat akses backstage spesial. Thanks to Mas Arief Triastika from Sampoerna. Kami bisa berfoto bersama Mbak Ayu, bahkan ikut makan siang bersama di House of Sampoerna. Dalam perjalanan kami semobil dengan Mbak Ayu, sedangkan di HoS sendiri kami semeja dengan Mas Wendo. Hmm.. I think it’s more than just a special backstage access. Mungkin lebih tepat bila disebut mini meet and greet.

Jujur, baru sedikit sekali karya mereka yang pernah saya baca. Maafkan kelalaian saya yang belum membaca Saman dan Larung-nya Mbak Ayu yang fenomenal itu, atau Dua Ibu-nya Mas Wendo yang mendapat penghargaan buku terbaik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi, saya punya buku kumpulan essai Mbak Ayu yang berjudul Parasit Lajang, dan beberapa kali membaca tulisannya di majalah Hidup. Dan beberapa artikel Mas Wendo yang saya baca di Intisari, majalah kesayangan saya. Jangan lupakan juga sinetron apik Keluarga Cemara besutan Mas Wendo di era 1990-an dulu. Salah satu artikel Mas Wendo bahkan saya kutip di skripsi untuk menjelaskan makna rumah bagi orang Indonesia. Parasit Lajang juga nyaris menghiasi daftar referensi skripsi saya, kalau saja saya tetap melanjutkan tema perempuan Indonesia. Tapi, gambaran yang saya tangkap dari karya-karya mereka, meski mungkin hanya sedikit sekali, tidak jauh beda dari keseharian Mas Wendo dan Mbak Ayu.

Mbak Ayu sedikit banyak mengutip isi Parasit Lajang dalam diskusi. Selesai acara ini juga akhirnya saya melihat sosok Erik yang sering disinggungnya dalam Parasit Lajang. Ternyata Mas Erik itu seorang fotografer. Dari caranya berbicara, Mbak Ayu benar-benar persis seperti gambaran dirinya di buku itu. Lugas, blak-blakan, bahkan mungkin agak radikal. Saya memang sangat tertarik dengan sosok perempuan yang pernah mengikuti ajang Wajah Femina ini setelah membaca Parasit Lajang. You should read that book, really. Tidak berat, dengan bahasa yang menggugah, tetapi seru. Oh ya, physically, Mbak Ayu ini attractive. Masih ramping di usia 30-an. Mengenakan atasan tanpa lengan berwarna hijau muda dan celana khaki, dia terlihat menarik. Pecinta anjing sejati. Suaranya enak didengar, seenak membaca tulisannya. Wah, menyesal banget belum baca Saman dan Larung sebelum bertemu lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia ini.

Bagaimana dengan Mas Wendo? Saya pertama kali mengenal sosok Mas Wendo lewat gambarannya Hilman dalam Lupus. Di situ Mas Wendo dikisahkan sebagai pimred majalah Hai yang ‘slengekan’. Lalu, saya melihat sinetron Keluarga Cemara karyanya. Sinetron yang bagus sekali, sesuai realita, dan mengandung pesan moral yang positif. Akhir-akhir ini, Mas Wendo sedang hobi menulis tentang romantika barang-barang pertama yang dimilikinya. Mulai dari rumah pertama, mobil pertama, hingga mesin tik pertama. Cerita yang sebenarnya, lucu bila diceritakan, tapi trenyuh bila benar-benar dijalani sendiri. Dari tulisan soal barang-barang pertama itu, terlihat bahwa Mas Wendo adalah orang yang sangat menghargai kenangan dan warisan masa lalu.

Mas Wendo memang orangnya nyantai, khas seniman. Masih energik di usianya yang konon sudah kepala enam. Saya dan Mas Wendo membahas soal Intisari di meja makan. Dan ternyata ada satu orang lagi pemuja Intisari di meja itu: Mas Arief! Kami sepakat bahwa Intisari adalah media yang bagus, bermanfaat, ringan penyajiannya tapi berbobot isinya. Mas Wendo sempat heran dengan betapa hafalnya saya tentang rubrik Intisari. Membaca majalah ini sejak SD, dan mengoleksinya sejak SMA, saya benar-benar mengikuti perkembangan Intisari dari masa ia masih dicetak di atas kertas buram, hingga berwajah luks dengan art paper seperti sekarang. Tapi yang bikin salut, Intisari konsisten sekali dengan gaya penulisannya yang ringan dan membumi. Wah, pokoknya kalau membahas Intisari, yang merupakan cikal bakal Kompas ini, saya perlu satu posting sendiri.

Kembali ke topik utama. Sayang sekali, kami tidak bisa berlama-lama dengan Mas Wendo. Beliau harus segera mengejar jadwal keberangkatan pesawatnya ke Jakarta. Tidak sempat minta foto bersama juga. Kami akhirnya melihat-lihat museum bersama Mbak Ayu dan rombongan yang tersisa, sebelum mengantar Mbak Ayu kembali ke hotel tempatnya menginap.

Anyway, today is G-R-E-A-T!!! Once again thanks to Mas Arief dan PT. HM Sampoerna yang tidak melupakan para veteran ISBS-nya! Kalau jadi, tanggal 18 nanti saya mau ikut ke Malang, dalam acara serupa. Kali ini bersama Mas Wendo lagi, plus the famous Andrea Hirata!!! Wah, sepertinya saya harus melepas kesempatan ikut career days demi acara ini. I don’t think this kind of chance will come twice in life, won’t it? Kayaknya besok harus ke toko buku deh, beli lanjutan tetralogi Laskar Pelangi, plus nyari novelnya Mbak Ayu dan Mas Wendo. Waduh, I have so many books to read nowadays… nggak apa-apa deh, mumpung belum kerja….