Jenis buku favoritku adalah buku cerita. Boleh fiksi, boleh juga kisah nyata. Asal, buku itu bukan buku cerita biasa.

Menurutku, buku cerita yang baik adalah yang ceritanya bermakna. Bukan sekadar cerita yang seru, menyenangkan, dengan kata-kata yang indah. Aku suka buku yang ceritanya sarat akan nilai-nilai positif. Buku yang tanpa menggurui, bisa membuat pembacanya merenung dan merefleksikan cerita itu dalam kehidupannya sendiri. Sebenarnya semua buku pasti ada pesan moralnya sih, asal kita pintar-pintar read beyond the text. Tapi buku yang benar-benar inspiratif tentunya punya nilai lebih.

Aku suka belajar lewat buku seperti itu. Dalam hal-hal teknis, mungkin kita butuh buku panduan yang straight to the point menjelaskan what and how to do. Misalkan buku panduan menulis CV, melamar kerja, etika kerja dsb. Tapi, dalam hal-hal yang sifatnya filosofis, aku lebih memilih belajar lewat cerita.

Contohnya, aku belajar tentang mengikuti kata hati dan berani mengejar mimpi dari The Alchemist. Aku belajar untuk selalu bersemangat menimba ilmu dan menghargai kesempatan mendapat pendidikan dari Laskar Pelangi. Aku belajar bahwa ilmu dan agama seharusnya saling mendukung dari Angels and Demons. Aku belajar bahwa ketika kita marah pada semua orang, kita sebenarnya sedang marah pada hidup, dari buku Spanish Disco. Aku belajar bahwa kebutuhan terdasar manusia adalah pengakuan bahwa dirinya dicintai, dari Falling Leaves. Aku belajar tentang cinta, harapan, semangat, dan macam-macam inspirasi lainnya dari seri Chicken Soup.

Karena itulah aku nggak begitu interest membaca The Secret yang didengung-dengungkan orang itu. Aku belum baca sampai selesai sih, tapi ada beberapa hal yang kurang aku sepakati dari buku itu. Secara umum, aku setuju bahwa kita harus selalu berpikiran positif. Tapi, aku menangkap kesan bahwa pengarangnya ingin bilang, cukup berpikir positif selalu, dan hidupmu akan jadi mudah, impianmu akan terwujud. Aku tidak sepenuhnya setuju bahwa kalau kita selalu berpikir positif, semua dalam hidup kita juga akan jadi positif. Karena, masih ada yang namanya kehendak Tuhan, yang masih lebih besar daripada pikiran positif kita yang terkuat. Misalnya bila kita berpikir bahwa kita akan kaya secara finansial, kalau Tuhan nggak izinkan itu terjadi, gimana? Bukankah kaya secara finansial belum tentu mendatangkan kebaikan bagi diri kita? Yang aku yakini adalah, ketika kita selalu berpikir positif dan berserah pada Tuhan, seberat apapun hidup ini pasti bisa kita jalani.

Itulah gawatnya buku-buku tipe how to. Kadang tips yang diberikan tidak sesuai dengan keyakinan kita atau situasi hidup yang kita alami, sehingga menjadi tidak efektif. Lain dengan buku cerita. Kita bebas menginterpretasikan pesan moral apa yang bisa ditarik dari buku tersebut sesuai dengan kebutuhan kita. Misalkan, saya dan anda sama-sama membaca The Alchemist. Karena pada saat membaca saya sedang dalam keraguan untuk melangkah ke depan, buku itu memberi inspirasi untuk berani maju dan mengejar mimpi. Tapi, bisa jadi anda tidak berpikir sama. Bisa saja buku itu menginspirasi anda dalam hal yang lain.

Ngomong-ngomong soal belajar lewat cerita, menurutku salah satu penulis yang bisa membuat cerita yang inspiratif, tidak menggurui tapi mudah dipahami adalah Prima Rusdi. Dulu, waktu masih rutin baca CosmoGirl!, aku sering baca tulisannya. Cerita-cerita Mbak Prima sangat dekat dengan kehidupan remaja, situasi real yang dihadapi remaja, dan di situ dia memainkan karakter-karakternya untuk mengajar para pembaca.

Sebagai contoh, dalam salah satu ceritanya, dia mengisahkan seorang cewek remaja yang kondang sebagai artis. Karena merasa masa depannya sebagai artis sudah terjamin, dan dia pun telah mendapat pacar kondang plus tampan, ia merasa sekolah tidaklah penting. Ia tidak menamatkan sekolah dan memutuskan serius berkarir. Keputusannya itu ditentang seorang temannya, gadis pandai kutu buku. Tapi dia memandang rendah saran teman itu karena ia merasa dengan kepandaian dan kerajinannya, anak itu toh belum mendapat jaminan akan masa depan yang cerah.

Siapa sangka, beberapa tahun kemudian, hidup berbalik. Karir si artis remaja kacau balau karena filmnya tak laku. Pacarnya pun kecantol artis lain yang lebih top. Sedangkan kawannya sekarang menjadi news anchor muda di stasiun televisi terkemuka. Penampilan fisiknya berubah. Si artis pun menyadari, betapa mudahnya memoles penampilan ragawi, tetapi butuh waktu bertahun-tahun untuk mengasah bakat dalam diri seseorang. Dia pun memutuskan sekolah lagi. Baginya kini, tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Aku nggak perlu menjelaskan makna cerita ini, sudah jelas sekali kan?

Terinspirasi dari Mbak Prima inilah aku mulai belajar menulis cerita yang sarat makna. Cerita pertamaku yang menurutku mulai ada ‘muatan’-nya berjudul ‘Curiga’, dimuat di majalah sekolahku dulu. Kapan-kapan aku bakal ketik ulang untuk di-post di blog ini.

Dan ternyata, menulis cerita yang berbobot itu sangat susah. Tidak cukup hanya mengkhayal, memikirkan penokohan, memikirkan alur, dan memainkan emosi pembaca saja. Tapi harus benar-benar mikir, gimana caranya menyisipkan pesan moral di dalamnya dengan clear, tanpa terasa menggurui. Sejak saat itulah aku tidak seproduktif dulu dalam menulis cerpen. Dalam enam tahun terakhir aku hanya menulis empat cerpen, selain ‘Curiga’, ada satu yang dimuat di La ‘Komtra (Belajar dari Ketimun), dan dua lainnya yang bisa dibaca di sini dan di sini.

Apa pesan yang aku muat di dalamnya? Perlu dijelasin lagi? Baca aja dulu, dan berikanlah komentar. Kalau memang sulit dipahami, aku akan nulis lagi untuk menjelaskan proses kreatif di baliknya dan pesan apa sebenarnya yang pengen aku sampaikan.

Dan sekarang, aku lagi belajar untuk bercerita lagi…. someday kalau aku sudah berhasil membuat cerita-cerita yang inspiratif, aku pengen bisa menerbitkannya dalam buku. So, wish me luck! By the way, tomorrow I will learn more about writing from two renowned writers of Indonesia: Ayu Utami and Arswendo Atmowiloto. Just wait for the story….

NB : Jangan lupa klik dua link ceritaku di atas. Sekali lagi, di sini dan di sini