What a day!Pagi-pagi, aku udah siap berangkat ke Gramedia Expo pas telepon rumahku jejeritan. Dan ternyata si penelpon adalah orang yang tidak saya harapkan. Orang yang selama beberapa hari ini terus merecoki aku dengan kebingungannya tentang future plan. Sampai-sampai aku sendiri ikut bingung dan memutuskan ingin mem-black list dia untuk sementara. Gawatnya, begitu dengar aku ke GramEx dengan tujuan ngeliat Job Fair, dia malah minta ikut. Seandainya saja Jakob Oetama itu engkong saya, mungkin aku udah memerintahkan satpam-sampam GramEx untuk menutup akses masuk bagi orang ini. Kenapa? #1 namanya juga lagi pengen black list, #2 ngapain juga dia mau ikutan Job Fair, dia udah dapat job, tinggal berangkat aja, masak mau mengurangi peluang orang yang masih jobless sepertiku. Bagi para anggota IFGBDKI (Ikatan Fresh Graduate Belum Dapat Kerja se-Indonesia) – termasuk diriku, tentu saja orang seperti ini layak ditawur rame-rame.

Ya sudahlah, kita ketemu di GramEx dan liat pameran buku plus job fair. Thanks God, dia nggak tertarik dengan job yang ditawarkan sementara saya sangat tertarik. Nah, pas di stan GramEx, aku ketemu teman sesama ISBS, Wina. Dia bilang di Ubaya juga lagi ada campus recruitment. Jadi, kita mutusin untuk nyoba ke Ubaya.

Keselnya, dia ga mau bawa mobil, alesannya pengen ngerasain disetirin. Masalahnya sepanjang jalan orang reseh ini sibuk mengomentari cara nyetirku. Menyebalkan sekali saudara-saudara!

Sampe di Ubaya, kita nyasar. Maklum kampus orang. Karena itu kita wajib nanya orang.

“Tuh Ria, cewek yang di depan itu aja kamu tanyain,” instruksinya.

“Kenapa nggak kamu aja yang nanya?” *BT mode is on*

“Ya kan sama ceweknya, lebih enak kamu yang nanya…”

Si cewek-di-depan-kita jadi salting diikuti dua orang asing bertampang kriminal yang sibuk berdebat, bentar-bentar dia noleh dengan pandangan curiga ke arah kita. Maklum jalannya sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk berbalik langkah.

“Kasian tuh cewek,” jelasku,”dia pasti udah mikir kita lagi berkomplot untuk nyulik dia.”

Lalu, aku menemukan halte bis yang padat mahasiswa. Aku nanya sama seorang mahasiswi yang kelihatannya ramah. Sebelumnya aku tanya sama temanku dulu, kita nyari gedung apa? Dia dengan yakin mengatakan: “Si Ai Si”

(maksudnya CIC, dieja dengan ejaan bahasa Inggris).

Dan ternyata si mahasiswi-bermuka-ramah ini adalah mahasiswi baru, dengan baik hatinya dia menanyakan pada mahasiswi lain. En mahasiswi yang ditanyai itu menampakkan wajah bingung.

“Si Ai Si Mbak,” ulangku,”itu loh yang lagi ada job fair…”

“Ooo.. itu Ce A Ce Mbak…”

Dogol! Dogol! Sudah disesatkan teman, aku juga yang malu karena aku yang nanya sementara dia hanya nunggu di kejauhan dengan enaknya.

Tapi si mahasiswi-baru-bermuka-ramah itu memang baik hati luar biasa, dengan sangat mulia dia mengantarkan kita mendekati tempat yang dimaksud. Bahkan waktu berpisah sempat-sempatnya dia bilang,”Cia yo ya!” Yeah, mungkin tampang kita memang seperti ini di mata dia: hopeless job hunter yang udah hunting ke ribuan perusahaan tapi nggak diterima-terima juga.

Singkat cerita kita sampai di Ce A Ce, dan sibuk cari info. Eh, ketemu Bryan, kenalan kita juga. Dia bilang presentasi perusahaannya di atas, tapi nggak tau mahasiswa luar Ubaya boleh ikut apa nggak. Gebleknya, kita nggak berinisiatif nanya, di atas itu lantai berapa. Karena ga yakin, dan lift hanya berhenti di lantai 1 dan 4-6, kita memutuskan naik tangga.

Dan ternyata ada alasannya kenapa lift cuma berhenti mulai lantai 4. lantai 2 dan 3 itu ternyata perpustakaan. Jadilah kita naik 1 lantai, kecele, naik lagi, kecele lagi, sampai akhirnya tiba di lantai 4 dengan kaki pegel. Guess what? Presentasinya udah selesai, dan itu pun hanya buat anak Ubaya. Tapi setidaknya kita bisa baca pengumuman lowongan, yang ternyata juga udah dimuat di buletin CAC yang udah kita baca dari tadi.

Keluar dari CAC, mumpung di Ubaya, kita mengunjungi International Village. Tepatnya di stan Amerika dan Belanda. Temenku benar-benar bikin si penjaga stan Amerika kesel dengan pertanyaan-pertanyaannya. Gawatnya lagi, beasiswa ke Amerika ternyata hanya Fullbright, yang mahasulit ditembus itu. Sedangkan kalau pake biaya sendiri, tak sanggup lah kita… plus, list univ-nya banyaaaaaakkkk banget, akhirnya kita bingung sendiri.

Aku udah males ke stan Belanda, karena pengen segera keluar dari Ubaya dan cari makan. Tapi temanku ngotot, so dia masuk sendiri dan aku nunggu di luar. Satu tragedi lagi, tiba-tiba hujan mahadashyat turun di Ubaya lengkap dengan angin kencang dan pepetiran menyambar-nyambar. Yang lebih tragis lagi, aku tadi parkir jauhhhh banget dari tempat kita sekarang. Sedangkan kompleks Ubaya ini terdiri dari gedung-gedung yang terpisah satu sama lain, dibatasi dengan halaman tak beratap. Bisa dibayangin kalau kita nekat menerabas hujan, begitu sampai mobil kita pasti udah kayak orang habis berenang 10 lap.

Pas kita mlongo di pelataran IV, ternyata datanglah pahlawan penyelamat kita. Ada becak keliaran di dalam Ubaya! Becak yang pandai memanfaatkan peluang ini langsung kita panggil untuk mengantar kita ke parkiran. Tapi bayangin deh, naik becak pas hujan dalam kampus orang, dengan jalanan yang kadang naik turun, plus cipratan air hujan dari luar becak bertutupkan plastik. Gila abis!

Keluar Ubaya, aku mutusin makan di Bu Kris Jemur. Entah pake sihir apa si Bu Kris ini, belakangan hampir tiap hari aku pengen makan di sana. Fandy Idol itu, kalo lagi pulang Surabaya, juga pasti makan di Bu Kris. Pokoknya hidup Bu Kris! Servisnya juga memuaskan, tukang parkirnya menyediakan payung gede buat para pengunjung. You must try Bu Kris’s new beverages : teh jeruk dan teh cao. Aneh, tapi enak!

Pas balik ke GramEx, kita lewat di jalan Ngagel. Di perempatan dekat GKJW Ngagel itu, ada pedagang asongan jualan Kompas Update, 1000 rupiah saja! Biar lampu udah ijo, aku nekat pengen beli. Masalahnya ternyata kita nggak punya duit seribuan! Yang ada duit 20 ribu yang pasti pedagangnya harus ribet ngasih kembalian. Aku udah mau balikin korannya aja, tapi si pedagang malah ngasih gratisan! Akhirnya kita hanya bisa memberinya duit 500 perak. Terima kasih Bapak Pedagang Kompas Update di perempatan GKJW Ngagel, semoga daganganmu laku keras selamanya…. atau besok-besok semoga ada dermawan baik hati yang membayarmu 50 ribu untuk satu eksemplar Kompas Update….

Nah, cover Kompas Update kita hari ini adalah Bapak Dubes Ganteng Marty Natalegawa yang atas nama Indonesia menyatakan abstain dalam keputusan DK PBB memberi sanksi ketiga pada Iran.

Dengan gebleknya, temanku bertanya,”Emang Marty ini pinter ya?”

Halllooo??? Ya iyalah!!! Kelahiran 1963, udah sekolah sampe doktor, jadi dubes di sana sini, terakhir jadi juru bicara Indonesia di PBB. Ganteng pula! You must see his pic today on Kompas Update, asli keren banget! Gayanya ngacungin tangan itu soo galant!

Sampe di GramEx, kita jalan-jalan di pameran lagi. Nah, pas itu dari panggung ada suara orang beryel-yel. Berhubung penonton pada berdiri, nggak kelihatan aktivitas apa sebenarnya yang ada di panggung. Pada titik inilah saya menyadari bahwa the skripsi effect masih berlangsung. Dengan yakin aku nyangka itu yel-yelnya orang lagi nari SAMAN!

“Itu lomba cheerleader tau,” kata temanku.

Dan ternyata bener, pas mereka membentuk formasi piramid, kelihatan kalau itu bukan tari Saman. Maklumlah, pas skripsi kerjaku baca ensiklopedi tari tradisional melulu, jadi masih agak-agak kepengaruh.

Ya sudah, sekian saja liputan hari-job-hunting-paling-gila-seumur-umur ini.