Nah, ini hasil bongkar-bongkar file lama. Ternyata dulu, pas masih ngotot pengen skripsi soal representasi perempuan Indonesia, aku pernah nulis ini…. Upload ah…. semoga bermanfaat….

My Books Review….

Karena topik yang diangkat dalam skripsiku adalah perempuan Indonesia, belakangan aku banyak membaca buku tentang perempuan, feminisme, dan budaya. Hari ini malah aku dipinjami setumpuk buku oleh Ms.Yola, ketua jurusanku yang memang sangat suka membahas masalah gender. Banyak fakta menarik yang aku temukan setelah membaca buku-buku itu. Sambil refreshing sejenak sebelum lanjut membaca lagi, aku pengen membagikan apa yang aku dapat dari buku-buku itu. Siapa tahu nanti butuh untuk bahan memperkuat analisisku, kan enak tinggal ambil di blog, hehehe….

Salah satu buku yang aku baca adalah Women in Asia, di bab mengenai Indonesian Women from Orde Baru to Reformasi. Di bab ini dipaparkan bahwa kebijakan politik Orde Baru menempatkan perempuan di bawah pria. Perempuan diberi status sebagai ibu dan istri. Disinggung pula kisah pahit Marsinah sebagai perempuan yang perjuangannya mendapat keadilan bagi kaum buruh diakhiri dengan pemerkosaan dan pembunuhan.

Tetapi sebenarnya Orde Baru juga memberi peluang kepada perempuan untuk menyusun kekuatan. Pada masa itu, setiap individu diharapkan memiliki partisipasi politik aktif melalui kelompok fungsional yang disahkan negara sebagai organisasi kemasyarakatan. Contohnya organisasi buruh, pemuda, petani, dan perempuan. Akhirnya pada perjuangan meraih reformasi organisasi perempuan ikut aktif menjatuhkan Orde Baru.

Oh iya, yang unik, dalam buku Kuasa Wanita Jawa, dijelaskan bahwa meskipun Suharto begitu berkuasa saat Orde Baru, kita tidak bisa melupakan peran perempuan di belakangnya yaitu Ibu Tien Suharto. Hillary Clinton boleh jadi perempuan berpendidikan tinggi, tapi dia toh tidak signifikan dalam mempengaruhi kebijakan politis suaminya semasa menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Namun, Ibu Tien dengan caranya sendiri dapat berperan besar dalam pengambilan keputusan Suharto. Contohnya, pembangunan Taman Mini Indonesia Indah atas inisiatif Ibu Tien, digolkan pemerintah (baca: Suharto) sekalipun saat itu kondisi keuangan negara tidak memungkinkan untuk membangun proyek sebesar itu. Contoh lain, saat Ibu Tien terpeleset di Candi Borobudur, dia nyeletuk,”Baiknya di sini dibangun taman saja.” Dalam waktu singkat, Pemda setempat menyetujui proposal proyek pembuatan taman di pelataran Candi Borobudur.

Makanya, aneh sekali ketika Ibu Tien menasehati Pak Harto untuk mundur dari kursi kepresidenan pada saat usianya mencapai 70 tahun, Pak Harto tidak mengindahkan. Akhirnya Ibu Tien meninggal dan tak lama kemudian Pak Harto lengser keprabon.

Menurut buku itu, wanita Jawa bisa mengendalikan suaminya karena banyak hal. Dari segi didikan, wanita Jawa pada masa kecil dibiasakan mengerjakan hal bersifat taktis dan praktis seperti urusan rumah tangga. Laki-laki, dibiasakan mengerjakan hal yang abstrak karena dia dipersiapkan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Akhirnya, karena pikirannya abstrak, dia malah kurang luwes terjun di masyarakat, tidak seperti istrinya.

Wanita Jawa berkuasa lewat kelembutan dan keanggunannya. Ketika suaminya selingkuh, wanita Jawa tidak seketika bersikap emosional dan marah. Tetapi menegur dengan halus, bahasa yang kromo, dan mengingatkan suami akan kewajibannya terhadap anak. Akhirnya sang suami justru takluk dan berjanji tidak selingkuh lagi. Membaca paparan ini, aku jadi nggak heran melihat fenomena bahwa setelah rekaman video Yahya Zaini-Maria Eva beredar, Sharmila bisa tetap tenang menghadapi publik. Dia juga tidak menceraikan suaminya. Mungkin, Sharmila adalah perempuan Jawa, atau perempuan berfalsafah hidup Jawa.

Wanita Jawa juga punya kekuatan fisik dan psikis yang tinggi. Dari penelitian ilmiah, memang perempuan (secara umum, nggak cuma Jawa) lebih kuat mental daripada laki-laki. Laki-laki cenderung ingin cepat menyelesaikan konflik karena tidak tahan berlama-lama dalam situasi konflik. Soalnya, laki-laki memproduksi lebih banyak serotonin, unsur kimia yang mengatur suasana hati, daripada perempuan. Perempuan lebih sensitif terhadap perubahan dalam tingkatan kadar serotonin, yang diatur oleh hormon estrogen. Jadi, daya tahannya lebih baik dari laki-laki.

Secara genetis, kromosom X pembawa gen perempuan punya daya tahan tinggi meskipun tak selincah kromosom Y, pembawa gen pria. Jadi, konon kalau pengen punya anak laki-laki, pembuahan harus terjadi saat perempuan mengeluarkan cairan yang cair, karena kromosom Y tidak punya daya tahan yang cukup untuk menembus cairan kental.

Soal istilah perempuan versus wanita, di buku ini dijelaskan, kata ‘wanita’ artinya wani ditata (berani ditata). Jadi karena perempuan itu tugasnya menata (rumah tangga, keluarga), dia harus berani ditata terlebih dahulu. Arti lain adalah wani tapa alias berani menderita, bahkan untuk orang lain. Akhirnya perempuan Jawa banyak yang rela melakukan laku tapa (puasa, pantang) untuk kepentingan suami dan anak-anaknya.

Tapi, kata perempuan akar katanya ‘empu’ alias yang ditinggikan. Perempuan berarti makhluk yang ditinggikan. Anehnya, ungkapan yang digunakan untuk menyebut perilaku laki-laki yang berganti-ganti pasangan adalah ‘main perempuan’ bukannya ‘main wanita’.

Buku lain yang aku baca ditulis oleh Gadis Arivia, dengan judul Feminisme : Sebuah Kata Hati. Gadis mencermati bahwa tidak harus menjadi perempuan untuk menjadi feminis. Karena feminist itu beda dengan female. Female merujuk pada jenis kelamin yang belum tentu berperspektif feminis. Sedangkan feminis adalah cara pandang yang dapat dimiliki siapa saja terlepas dari jenis kelaminnya.

Contohnya Pramoedya Ananta Toer yang laki-laki, tetapi dalam banyak tulisannya mengangkat nuansa feminis. Untung aku sudah baca beberapa karya Pram, jadi lumayan ngerti maksudnya. Memang banyak perempuan berkarakter kuat dalam tulisan Pram, seperti Nyai Ontosoroh dan keponakannya, serta istri kedua Minke (aku lupa namanya, Ang Siu Mei ya?).

Yah, begitulah beberapa cuplikan fakta yang aku temukan dari buku-buku itu. Lanjut baca lagi ah…..