gods-spy.jpgKejayaan Dan Brown lewat Da Vinci Code dan Angels and Demons rupanya menjadi inspirasi atas lahirnya novel sejenis: mengangkat isu religiusitas dan kontroversi Gereja Katolik dengan bumbu thriller. Novel yang saya maksud adalah God’s Spy, karya penulis Spanyol Juan Gómez-Jurado. Mengutip komentar New York Times di cover bukunya, novel ini seolah mempertemukan Dan Brown dengan Thomas Harris. Well, saya belum pernah membaca karya Harris, tetapi sebagai penggemar Dan Brown saya ingin memberi sedikit komentar mengenai God’s Spy yang judul aslinya Espía de Dios.

God’s Spy bercerita tentang sosok pembunuh psikopat yang berkeliaran di Vatikan pada momen mangkatnya Paus Johannes Paulus II. Pembunuh ini dengan liar dan sadis mengantar korban-korbannya ke pangkuan malaikat maut. Padahal, di saat yang sama, Vatikan sedang ramai oleh jutaan orang yang mengikuti upacara pemakaman Paus plus para kardinal dari seluruh dunia yang datang untuk mengikuti konklaf (sidang pemilihan Paus baru). Seorang inspektur dari Unit Penyelidikan Tindak Kriminal Kekerasan Kepolisian Italia harus bekerja sama dengan superintendan Korps Keamanan Negara-Kota Vatikan dan seorang pastor berlatar belakang Intelijen Amerika untuk mencegah pembunuhan selanjutnya serta meringkus sang psikopat. Tugas ini harus dikerjakan cepat, tepat, dan diam-diam tanpa diketahui seisi Vatikan demi menjaga citra Tahta Suci.

Lewat novel ini, penulisnya mengangkat kontroversi dalam Gereja Katolik sebagai institusi agama yang kuat dan berpengaruh di dunia. Dengan cerdas, Gómez-Jurado meramu intrik yang bersumber pada ketidaksepakatan doktriner para pemimpin Gereja. Ia juga berani menyingkap borok dalam Gereja Katolik seperti penyimpangan seksual pastor dan usaha Gereja menutupi aibnya. Membaca novel ini, pembaca dicelikkan akan kenyataan bahwa dalam tubuh Gereja Katolik yang terlihat solid, ternyata banyak terjadi konflik dan permainan politik. Jika Brown banyak mengangkat konteks sejarah Gereja dari abad ke abad, Gómez-Jurado lebih suka bermain dengan fakta masa kini. Termasuk, dari caranya mengambil momen wafatnya Paus Johannes Paulus II sebagai setting waktu novel ini. Agaknya Gómez-Jurado ingin mengikuti langkah Brown yang memainkan curiousity pembaca lewat perpaduan fakta dan fiksi.

Jejak Brown lainnya yang saya lihat dalam novel ini adalah penokohan. Tokoh-tokoh protagonis digambarkan sebagai seorang expert. Bandingkan keahlian Dicanti dan Fowler dalam kriminologi dan psikiatri dengan keahlian Vittoria Vetra dan Langdon dalam fisika dan simbologi agama. Tetapi, romantisme Dicanti dan Fowler digambarkan dengan malu-malu, mengingat status Fowler sebagai seorang pastor. Karakter Victor Karosky juga mirip dengan karakter pembunuh dalam Angels and Demons: sadis, memiliki masa lalu kelam, menganggap perbuatannya benar dengan dalih agama, dan dikendalikan oleh seorang mastermind. Selain itu, setting waktu dalam novel ini mirip sekali dengan Angels and Demons: masa pergantian Paus, pembunuhan kardinal yang merupakan calon kuat pengganti Paus, dan situasi darurat yang disembunyikan dari publik.

Namun, berbeda dengan Brown yang banyak berkutat dalam permasalahan simbol, kode, dan sandi rahasia, kekuatan Gómez-Jurado adalah pada kelihaiannya mengeksplor sisi psikologis tokoh-tokohnya, khususnya tokoh Victor Karosky si pembunuh psikopat. Novel ini juga memberi informasi yang detail mengenai pekerjaan intelijen, terutama tokoh Dicanti yang merupakan penyelidik dengan keahlian langka: menyusun profil pembunuh berdasarkan fakta di lapangan (lazim disebut profiler). Kelihatannya Gómez-Jurado cukup menguasai psikologi dan kriminologi. Misteri-misteri dalam novel ini terpecahkan dari fakta-fakta yang terkait dengan kedua ilmu tersebut.

Sebagai sebuah karya novel perdana dari Gómez-Jurado yang berlatar belakang sebagai wartawan, novel ini layak diacungi jempol. Suasana seram khas thriller yang dibangunnya sukses membuat saya merinding ketika membacanya. Adegan-adegan pembunuhan digambarkan dengan cukup detail dengan unsur sadisme kental untuk meyakinkan pembaca akan betapa berbahayanya sosok pembunuh psikopat.

Dari segi plot, Gómez-Jurado berhasil menyusun alur tarik-ulur yang energik. Kronologis novel ini disisipi dengan rangkaian kejadian beberapa tahun sebelumnya. Dengan begitu, ia mempermainkan mental pembacanya: meredakan ketegangan di saat puncak lalu membangunnya kembali. Dan ini dilakukan berulang-ulang sehingga ketika seseorang membaca novel ini, ia akan merasakan sensasi up and down. Alur ini juga membuat pembaca harus berkonsentrasi penuh untuk menyimak setiap bagian, karena bagian-bagian itu terkait satu sama lain.

Secara umum, saya masih lebih memfavoritkan Angels and Demons dibandingkan God’s Spy. Kemahiran Brown dalam mendeskripsikan sesuatu secara detail (yang membuat pembaca merasa ikut mengalami dan berada di tempat para tokohnya – sehingga banyak orang mengira novel tersebut adalah nyata) serta menyusun plot twist (yang membuat jalan ceritanya sulit ditebak) agaknya susah ditandingi oleh penulis lainnya. Tapi, God’s Spy cukup seru dan layak untuk direkomendasikan kepada para penggemar novel thriller.

Yang paling menarik, di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh penerbit Dioma yang merupakan penerbit Katolik (Dioma adalah akronim dari Diosesan Malang, Keuskupan Malang). Saya salut atas langkah Dioma menerbitkan novel ini, mengingat di dalamnya terkandung kontroversi seputar Gereja. Memang sudah saatnya Gereja Katolik membuka diri atas kritik, khususnya auto-kritik (kritik dari dalam tubuh Gereja sendiri, seperti dari umat). Novel ini sangat bagus sebagai pembelajaran bagi Gereja: apakah menjaga citra lebih penting dari mengungkap kebenaran?