shopaholic-abroad.jpgSukses dengan Confession of a Shopaholic, Sophie Kinsella terus melanjutkan cerita si gila belanja Rebecca ‘Becky’ Bloomwood. Seri kedua Shopaholic ini berjudul Shopaholic Abroad. Seperti dalam novel pertamanya, Becky masih bekerja di bidang financial. Ia kini sukses dengan talk show hariannya: Morning Coffee. Dalam sesi keuangan pribadi, Becky dengan piawai memberi saran kepada para penelepon mengenai bagaimana mengelola keuangan yang benar.

Di luar karir, hidup sepertinya sedang berpihak pada Becky. Ia punya pacar yang tampan, kaya, populer, dan pengertian: Luke Brandon. Hubungannya dengan manajer bank baik sekali, bahkan permohonan overdraft-nya sering dikabulkan. Ia tidak punya hutang lagi. Mottonya: hanya beli apa yang kau perlu. Jadi, berbelanja aneka baju dan sepatu diperbolehkan, karena dianggap investasi untuk karirnya. Siapa tahu kelak syuting Morning Coffee dilakukan di luar ruangan, jadi dibutuhkan mantel baru berwarna madu bukan?

Hidup semakin indah ketika Luke mengajaknya pindah ke New York. New York! Surga bagi para fashionista. Tidak seperti Luke yang kelihatannya susah beradaptasi dengan ritme the Big Apple, Becky dengan mudah jatuh cinta pada New York sejak pertama menjejakkan kaki di sana. Apalagi, peluang karir terbuka lebar di sana. Ada tawaran pekerjaan dari beberapa stasiun televisi dengan masa depan yang lebih baik dibandingkan pekerjaannya di Inggris.

Semua tampak begitu sempurna ketika pada suatu malam Becky berdansa dengan Luke di restoran mahal dengan gaun Vera Wang yang mengagumkan. Hingga ia terbangun di pagi hari untuk menghadapi sebuah tragedi. Tragedi yang mengubah hidupnya 180 derajat. Mengubah pekerjaannya, kondisi keuangannya, dan hubungannya dengan Luke.

Bisakan Becky bangkit lagi dari keterpurukan kedua yang lebih parah dari sebelumnya ini?

Seperti ciri khasnya dalam Shopaholic dan Undomestic Goddess, Kinsella dengan mahir membuai kita lewat gaya bertutur menurut sudut pandang tokoh utamanya. Kegilaan Becky akan segala sesuatu yang baru diungkapkan dengan sempurna, sehingga kita merasa dapat memahami motif Becky ketika ia memutuskan untuk membeli baju-baju mahalnya (bahkan mungkin kita sendiri ingin ikut membeli barang yang diimpikan Becky). Khayalan-khayalan liar Becky, seperti biasanya, menjadi bumbu penyedap novel ini. Meski demikian, Kinsella terkadang membiarkan pembaca menebak-nebak jalan pikiran Becky yang seringkali jauh dari ekspektasi pembaca.

Pesan moral yang bisa saya tarik dari novel ini sebenarnya klise: ikuti kata hatimu. Di akhir cerita, Becky dengan berani menolak tawaran kerja dengan gaji berlipat ganda untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hidupnya sebagai si gila belanja. Ternyata sumber semua masalah Becky selama ini adalah ia tidak mengikuti kata hati, ia berpura-pura menjadi Becky si ahli keuangan karena merasa itulah keahlian yang didapatnya dari bangku kuliah. Akibatnya Becky merasa telah ‘terpancang’ pada umurnya yang baru 26 tahun. Dengan mengikuti kata hatinya, Becky sangat bahagia, bersinar, dan kuat walau Luke tidak lagi bersamanya dan hidupnya jauh lebih sederhana dari sebelumnya. Meski kelihatannya klise, pesan moral ini seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua. Apa yang kita cari dari pekerjaan kita? Materi semata atau kepuasan batin?

Yang keren dari novel ini adalah bagaimana Kinsella dengan berani mendeskripsikan tokoh utamanya sebagai sosok yang begitu naif. Kinsella menekankan kelemahan-kelemahan Becky sebagai seorang manusia. Tapi, lewat sosok Becky inilah pembaca diajak menyelami pesan moral dari kisahnya. Tidak menggurui dan bahkan sangat terselubung.

Dari semua seri Shopaholic yang sudah saya baca (Shopaholic, Shopaholic Ties The Knot, Shopaholic and Baby…. saya belum membaca Shopaholic and Sister), menurut saya Shopaholic Abroad adalah yang paling ‘dalam’. Benar-benar titik balik dalam kehidupan Becky, mesti tentu saja tidak mengubah hobi belanjanya. Novel ini layak dibaca oleh semua cewek – baik suka belanja ataupun tidak – dan cowok yang ingin belajar memahami cewek. Seru dan inspiratif, plus tidak membuat kening berkerut ketika membacanya. Cukup menghibur sebagai bacaan akhir pekan.