Dalam ruang sidang, tak terasa presentasi sudah kurampungkan. Sekarang waktunya sesi tanya jawab. Penanya pertama adalah Mr.W. Mr.W ini paling banyak bertanya. Dan pertanyaannya cukup menyeramkan. Kurang lebih seperti inilah pembantaian di dalam ruang sidang…..

Mr.W               :           “Penelitianmu ini sepertinya lebih mengarah ke penelitian sosio-kultural ketimbang komunikasi.”

Aku                  :           “Kan komunikasi itu tidak bisa dilepaskan dari disiplin ilmu lainnya, seperti sosiologi, antropologi, politik, dan sebagainya Pak.” (untung aku masih ingat bahan kuliah Pengantar Ilmu Komunikasinya Bu Sri Moerdijati di semester satu)

Mr.W               :           “Kenapa kok kamu pakai judul daftar referensi bukan daftar pustaka?”

Aku                  :           “Saya sesuaikan dengan pedoman tata tulis skripsi Pak.”

Mr.W               :           “Kamu mestinya ngerti maksudnya…. terus kenapa di bab 2 nama babnya tinjauan pustaka bukan landasan teori?”

Aku                  :           “Karena ini penelitian kualitatif.”

Mr.W               :           “Apa nasionalisme sama dengan nation. Nation kan bangsa, nasionalisme kan kebangsaan?”

Aku                  :           “Saya rasa dua termin itu tidak bisa dipisahkan Pak, karena kan nasionalisme akan katanya nation. Lagipula ketika nasionalisme itu timbul, orang akan bersatu dan membentuk bangsa.”

Mr.W               :           “Apa masih relevan PT. Gudang Garam menggunakan kain batik untuk simbol produk dalam negeri? Batik seperti yang dipakai bapak-bapak ini (kebetulan Mr.N dan Mr.G memakai batik) itu adalah buatan Cina. Cung kuok. Sun… Sun apa tadi Pak? Sun Go Kong? (sempet-sempetnya si Bapak bercanda… tapi lumayan mencairkan kegrogian). Atau buatan Thailand. Karena bagus mutunya dan murah.”

Aku                  :           “Tapi di iklan ini kan ditunjukkan proses pembuatannya. Jadi kita tahu bahwa batik ini buatan anak bangsa Pak. Ini di adegan pembilasan kain batik yang merupakan tahap akhir pembuatan batik.”

Mr.G               :           “Lho, tahap terakhir kan penjemuran.”(ini lagi, sempat-sempatnya menggoda)

Aku                  :           “Iya Pak, tapi kan sebelumnya dibilas dulu setelah digambar kainnya.”

Mr.W               :           “Apakah masih relevan PT. Gudang Garam menggunakan simbol seperti menumbuk padi, sedangkan sekarang kita tahunya padi selepan.”

Aku                  :           “Padi selepan itu apa Pak?”

Mr.W               :           “Padi buatan pabrik. Jadi apa masih relevan dikatakan menumbuk padi adalah bentuk gotong royong.”

Aku                  :           “Iya Pak, memang menumbuk padi itu tradisional, dan sudah digantikan dengan mesin penggiling. Tetapi, justru iklan ini menampilkan bahwa di balik kegiatan tradisional itu tersimpan warisan budaya gotong royong. Zaman dahulu kan petani yang kaya akan mengerahkan istri-istri tetangganya untuk membantu menumbuk padi, jadi mereka bisa memiliki penghasilan sendiri. Bla bla bla….”

Nah, sampai di sini aku merasa pertanyaan-pertanyaan Mr.W bisa terjawab dengan baik. Dan tibalah saat maut di mana Mr.W dan Mr.G menanyakan kebenaran sumber referensiku.

Mr.W               :           “Apa benar ada bukunya Soekarno tahun 1933 judulnya Indonesia Merdeka?”

Aku                  :           “Ada Pak. Saya beli bukunya.”

Mr.W               :           “Kamu nggak salah ngutip?”

Aku                  :           “Enggak Pak.”

Mr.G               :           “Bener?”

Aku                  :           “Iya Pak. Wong saya punya bukunya.”

Mr.G               :           “Kamu jangan ngotot aja. Mr.W ini pengagumnya Bung Karno. Dia punya semua bukunya. Ndak ada Non yang judulnya Indonesia Merdeka.”

Aku                  :           “Lho tapi saya punya Pak.”

Mr.W               :           “Bukunya Bung Karno itu adanya Indonesia Menggugat, itu pun tahun sekian (aku lupa). Ndak ada Indonesia Merdeka, apalagi tahun 1933.”

Aku                  :           “… ” (ga berani ngotot lagi, meski dalam hati ga terima karena aku yakin ga salah buku)

Mr.W               :           “Tapi saya bisa saja salah sih, nanti cek aja lagi.”

Intinya urusan Indonesia Merdeka ini paling berbuntut panjang. Sudah gitu para penguji mulai menggoda. Katanya, “Wah gimana mau lulus ini, referensi aja salah.” Dengan memelas aku membela diri, “Pak, saya jujur kok, cuma nggak sempat koreksi ulang…”

Next, Mr.G dan Mr.I bertanya.

Mr.G               :           “Apa masih relevan kamu pakai teorinya Ernest Renan. Kan itu sudah kuno. Sudah digugat Bung Karno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.” (keterangan : saya nggak pernah baca buku itu, tapi memang tau kalau Bung Karno pernah menggugat teori Renan)

Aku                  :           “Masih Pak (nada yakin padahal aslinya gundah). Kan kesimpulannya bahkan mengarah ke representasi nasionalisme yang sesuai dengan teori Renan.”

Yang dua pertanyaan di bawah ini aku agak lupa, apakah Mr.G atau Mr.W yang tanya.

Mr.G               :           “Apa bedanya teori Renan sama Benedict Anderson.”

Aku                  :           “Kurang lebih sama. Renan mengatakan bangsa terbentuk dari ikatan, Ben Anderson mengatakan bangsa adalah komunitas imajiner.”

Mr.W               :           “Lha kalau bangsa Cina gimana? Kan tersebar di dunia.”

Aku                  :           “Kata Renan bangsa itu bukan berdasarkan persamaan ras. Jadi meski etnis Cina tersebar di dunia, tidak bisa disebut bangsa kalau tidak ada ikatan di antara mereka.”

Mr.G               :           “Di adegan orang membilas batik itu mereka kan bertelanjang dada. Kenapa tidak kamu interpretasikan sebagai kemiskinan?”

Aku                  :           “Saya nggak bilang miskin Pak. Karena logikanya orang bekerja fisik wajar kalau bertelanjang dada. Kalau pakai baju kan basah Pak. Lagipula gambaran kondisi sulit itu terlihat dari setting alam yang gersang, meski saya tidak bilang miskin.”

Mr.G               :           “Apa tidak lebih tepat kalau penelitian ini membahas representasi kekayaan budaya Indonesia yang sekarang ini sedang dipermasalahkan HAKI-nya dan diklaim Malaysia?”

Aku                  :           “Soal itu kan ada di subtema identitas nasional Pak. Tapi di luar itu iklan ini bicara nasionalisme.”

Mr.G               :           “Darimana kamu bisa bilang iklan ini nasionalisme?”

Aku                  :           “Karena PT.Gudang Garam menjadikan ini kampanye nasionalisme.”

Mr.G               :           “Kenapa kamu nggak berani menafsirkan di luar penafsiran pembuatnya?”

Aku                  :           “Bukan begitu Pak. Saya ingin mengecek, seperti apa sih nasionalisme yang digambarkan dalam iklan ini?”

Mr.I sih tidak banyak bertanya, tapi pertanyaan terakhirnya itu menjadi pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.

Mr.I                 :           “Bagaimana hubungan elemen dalam segitiga makna Peirce?”

Sebenarnya teori Peirce aku cantumkan hanya sebagai contoh teori semiotika dan nggak aku pakai dalam analisis. Jadi aku nggak begitu ngerti. Alhasil, aku nggak bisa jawab, nyoba nebak pun salah. Kacau… kacau….

Mr.W               :           “Kamu ini penelitian semiotika. Tapi kok nggak ada referensi semiotika di referensimu.”

Aku                  :           “Ada Pak. Ini, Semiotika Komunikasi Alex Sobur.”

Mr.W               :           “Non, pakai ini loh (menunjukkan buku gede berjudul Handbook of Semiotic). Mr.I punya, Mr.G punya. Mr.N punya?”

Mr.N                :           “Oh belum Pak.” (syukur deh pembimbingku belum punya, coba udah punya kan dia pasti rekomendasikan ke aku)

 Terakhir, kesimpulanku dibilang seperti isi jurnal. Diminta meringkas jadi tiga halaman saja. Lalu aku dipersilakan menunggu di luar.

Pertama keluar sih aku tenang. Cuma tanganku dingin banget. Yang membuat tenang sih kehadiran teman-teman yang dari tadi ngintip-ngintip di jendela ruang sidang. Aku cerita sedikit kejadian di dalam, dan akhirnya pecah juga tangisku. Mok dan Miss Yola kalah taruhan karena mereka bertaruh aku nggak nangis. Pas lagi nangis, eh ada Pak Thomas, dosen favoritku. Malu banget deh.

Tiba-tiba saja aku sudah dipanggil masuk. Mr.I menjelaskan hasil penilaian…. dan dia minta karyaku untuk dimasukkan jurnal ilmiah fakultas. Lalu… “Kamu minta nilai apa?”

Aku                  :           “Terserah Bapak…. ” (aku ga berani sebut-sebut nilai A, kemarin ada loh yang bilang minta A taunya dapat B+, kecele kan….)

Mr.I                 :           “Ya sudah, saudara dinyatakan lulus…”

Aku                  :           “Terima kasih Pak.”

Mr.I                 :           “Ya sudah.”

Aku                  :           “Terus nilainya apa Pak?”

Mr.I                 :           “Lho katanya tadi terserah? Apa dong Mr.W?”

Mr.W               :           “Gimana mau dapat bagus, referensi aja salah.”

Aku                  :           “Iya Pak, maaf.”

Mr.W               :           “Maaf… maaf… nggak bisa dimaafkan itu. Sudah dapat D+ aja Pak.”

Mr.I                 :           “Berarti nggak lulus dong Pak.”

Mr.W               :           “Terus apa?”

Mr.I                 :           “Nilai saudara 91. Berarti?”

Aku                  :           “A ya Pak?”

Mr.I                 :           “Iya.”

Aku langsung menyalami para algojo. Tapi gemetar dan perasaan campur aduknya masih kerasa banget. Sampai-sampai aku gaptek mendadak pas disuruh mengkopi iklan di laptop jurusan. Kursornya jadi ga keliatan… Wadaw… malu banget….

Begitu keluar, aku disambut teman-teman yang memberi ucapan selamat. Gila, serasa juara dunia bok! Akhirnya aku terduduk karena lemas, dan nangis gila-gilaan. Sampai temanku pada bingung semua. Soalnya legaaaaaa banget guys, sensasinya itu luar biasa.

Apa yang akhirnya bikin aku paling bahagia hari itu? Bukan nilai A. Bukan karena karyaku akan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tapi karena dukungan keluarga dan teman-teman. Serta SMS dari orang yang sangat inspiratif, sangat aku kagumi dan sangat berperan dalam kemajuan akademisku selama ini: Prof. Thomas Santoso. We’ll talk about it on another posting ya… posting ini sudah memecahkan rekor sebagai posting terpanjang dalam blogku nih…..

By the way, pulang ke rumah aku langsung membongkar koleksi bukuku. Dan beneran, judul bukunya INDONESIA MERDEKA. SOEKARNO 1933!!!! Nggak sabar rasanya cepat-cepat menunjukkan buku ini pada para algojo…. minta tambah nilai nih (nggak tau diri mode is on hihihi….).