Dari Senin hingga Rabu satu persatu temanku dinyatakan lulus dengan nilai yang rata-rata cukup baik. Sedangkan aku sendiri baru sidang skripsi hari Jumat. Alhasil, mesti ikut senang melihat kebahagiaan teman-teman yang telah menyelesaikan sidang, dalam hati aku kesal juga karena aku yang paling terlambat sidang (baca: terlambat lulus). Aku juga merasa khawatir bila nilai yang aku dapat tidak sebaik teman-temanku. Sedangkan untuk minta nilai A kok rasanya juga tak tahu diri. Akhirnya aku berdoa-doa supaya apapun nilai yang diberikan, aku bisa menerima dengan lapang dada. Teman-teman juga aku larang keras untuk terus-terusan mengatakan aku akan dapat nilai A. Iya kalo beneran dapat A, kalo nggak kan aku akan lebih down karena sudah digadang-gadang. Aku merasa lebih baik jadi kuda hitam saja, nggak dijagokan tapi ternyata dapat A. Senangnya pasti berlipat-lipat, hehehe….

Hari-hari menjelang sidang aku habiskan dengan main game gila-gilaan. Belajar? Jujur saja aku tidak belajar keras. Bukan takabur, tapi aku tipe orang yang justru akan semakin grogi kalau presentasi dengan persiapan matang beberapa saat sebelumnya. Jadi, aku hanya mengandalkan semua teori komunikasi dan materi skripsi yang kupelajari dari awal kuliah hingga sebulan menjelang sidang. Sesudahnya aku refreshing supaya tidak terbebani saat sidang. Tapi ya, baca-baca dikit sih supaya ingat kembali.

Puncaknya pagi tadi aku bangun dengan wangsit di kepala. Malam sebelumnya memang aku berpikir keras, akan menjawab apa bila dosen bertanya kenapa aku memilih teori semiotika Fiske dan Saussure, dan bukan yang lain, seperti Barthez.  Nah, pas bangun tadi pagi, tiba-tiba jawabannya nongol di kepala.

Setelah bersiap-siap aku berangkat 3 jam sebelum jadwal sidangku (pk.14.00). Ditemani Lili temanku, aku mampir membeli makanan ringan untuk para penguji. Rencana semula aku pengen membeli makanan yang terbuat dari ketan-ketanan atau tepung beras dan yang rasanya manis. Misalnya wajik, moaci, kue lapis, dan sejenisnya. Jadi, nanti kue-kue yang lengket itu akan menyulitkan mereka untuk membantai, karena ngomong aja susah hahaha… inspirasinya dari legenda Cina soal Dewa Dapur. Dewa Dapur dipercaya akan melaporkan kebaikan dan keburukan setiap keluarga pada Dewa Langit. Jadi, untuk ‘menyumpal’ mulut Dewa Dapur, biasanya keluarga Cina mempersembahkan makanan yang lengket dan manis. Eniwei, akhirnya aku membeli dua kue basah dan dua roti. Minumnya aqua gelas dan teh hijau (biar pengujinya tenang dan rileks hihihi).

Senang sekali melihat banyak teman-teman datang mendukungku. Padahal tadinya mereka bilang, nggak mau datang hari Jumat, malas. Tapi aku tahu mereka pasti datang. Suporter saya meliputi mahasiswa kandang sendiri (Lili, Mok, Daisy, Handy, Oei, dkk) sampai mahasiswa dari jurusan tetangga (Supry dan Selvi, Hippo). Pas masuk ruang sidang aku berpelukan dengan beberapa teman, dan rasanya nyaman banget. Oh iya, karena tidak belajar keras, pikiranku lumayan kosong, jadi nggak terlalu grogi. Walaupun suasana Via Dolorosa (lorong di depan ruang sidang) sebenarnya cukup mencekam, aku bisa tenang dan merasa siap. Tidak lupa berdoa dulu supaya bisa menjawab dengan baik.

Dan para algojo yang akan membantaiku adalah….

  1. Mr.I, dosen yang mengujiku di seminar mandiri, keahliannya soal teori komunikasi massa dan metode penelitian
  2. Mr.W, dosen luar biasa di jurusanku, orangnya suka membaca terutama soal budaya dan nasionalisme
  3. Mr.G, dosen yang latar belakangnya ilmu politik, jadi cukup berbahaya
  4. Mr.N, pembimbingku, orangnya pinter abis seperti dewa, tapi karena pembimbing jadi tak mungkin lah membantai

Seperti apa jalannya sidang??? Baca posting episode kedua…..