Renungan Natal setahun lalu. Semoga bermanfaat. Selamat hari Natal, Tuhan memberkati.

Kembalikan Natalku

1 Desember 2005

ist2_4712747_christmas_decorations.jpgHujan rintik-rintik membasahi kota Surabaya. Ah… sudah bulan Desember. Kota mulai semarak dengan pohon cemara buatan dan segala pernak-perniknya. Lonceng keemasan, bintang perak, pita-pita beraneka warna.

Aku sudah membaca koran terbitan hari ini. Tidak banyak berita. Yang ada hanya agenda, untuk tanggal 25. Pesta Natal di rumah makan ini. Perayaan Natal di cafe itu. Bahkan ada acara Natal di diskotik anu. Hei hei… sejak kapan diskotik pun merayakan Natal? Ah Tuhanku, sekarang ini hari lahirmu begitu populer rupanya. Banyak orang sudah lupa bahwa Natal adalah kelahiran-Mu. Mereka merayakannya sebagai hari libur untuk berpesta pora. Toko-toko berlomba memberi diskon Natal, melegalkan tindak konsumtif demi keuntungan yang besar.

Aku benar-benar merindukan Natalku yang dulu. Ketika aku kecil, Natal adalah misa khidmat di gereja. Tukar-menukar kado sebagai perlambang kasih dalam keluarga. Berbagi rejeki dengan kaum papa. Sangat sederhana, tetapi manis. Sama seperti betapa sederhana dan manisnya kelahiran bayi Yesus di palungan. Tradisi itu bertahan hingga aku remaja, dewasa, menikah, dan memiliki anak-anak.

Tapi… beberapa tahun lalu, suamiku telah tiada. Kini aku, seorang nenek renta, tinggal di rumah anak sulungku bersama menantu dan cucu-cucuku yang mulai beranjak remaja. Mereka punya cara lain merayakan Natal. Menjelang Natal, bukannya mempersiapkan hati menyambut Juru Selamat, mereka akan pergi berbelanja pakaian baru. Pada malam Natal, kami akan pergi ke gereja. Namun di gereja, di sela-sela kekhusyukanku mengikuti misa, tampak olehku betapa mereka begitu diburu waktu.

Anakku berulang kali melihat jam tangannya, sebentar ke ponselnya. Ah Nak, berapa banyak klien yang menunggu untuk dapat menghubungimu selama jam-jam itu? Berapa banyak order bisnis yang akan kau lewatkan? Percayalah, mereka bisa menunggu! Tuhan akan mencukupkan segala sesuatu bagi umat-Nya. Ingin rasanya aku benar-benar mengatakan hal itu pada anakku. Tapi pesan mendiang suamiku terngiang di telingaku, “Anak-anak sudah dewasa. Sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Jangan gegabah memberi mereka nasihat, kecuali bila mereka yang memintanya. Jangan-jangan nanti mereka bilang, kau hanya seorang nenek nyinyir. Nanti kau sakit hati, tidak betah berkumpul dengan mereka. Jika demikian, siapa yang akan merawatmu di masa tua?” Maka, keinginanku kusimpan dalam hati.

Lain lagi tingkah cucuku. Mereka sembunyikan tangan-tangan mungilnya dalam tas. Aku bukannya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka pasti mengirim SMS kepada teman-temannya, mungkin pacarnya, agar sabar menunggu hingga misa selesai.

Dan benar saja, begitu misa berakhir, bukannya bersalam-salaman dengan sesama jemaat, anak-cucuku malah meninggalkan gereja dengan langkah terburu. Mereka sudah punya acara sendiri-sendiri. Anakku dan istrinya akan menghadiri undangan pesta Natal di rumah salah satu relasi bisnisnya. Sebenarnya dia mengajakku ikut serta, tapi aku tidak mau. Cucu-cucuku akan pergi bersama teman-temannya. Entah ke mana. Entah pulang jam berapa. Yang pasti, mereka tidak bakal mengajakku. Ya, malam Natalku akan kulalui seorang diri. Ah Tuhan, andai Engkau tidak cepat-cepat mengambil nyawa suamiku… Alangkah menyenangkan, berdoa bersama di kamar kami yang hangat. Bertukar kado Natal sambil mensyukuri puluhan tahun kebersamaan kami. Dan aku takkan lupa, wajah-wajah gembira anak yatim piatu yang kami santuni di panti asuhan….

15 Desember 2005

            Pagi-pagi benar aku sudah bangun. Mendaraskan doa dalam setiap butiran rosarioku. Lalu seorang diri, aku membungkus bingkisan-bingkisan kecil dalam kamarku. Makanan kering dan pakaian untuk sumbangan. Beberapa pakaian kuambil dari lemari cucuku. Kuamat-amati, sudah jarang benar ia kenakan. Padahal pakaian itu masih sangat indah. Pasti akan lebih berguna untuk membungkus tubuh anak-anak di panti.

            Siapa sangka, kelancanganku membuat cucuku marah. Katanya, “Oma tidak tahu betapa mahalnya baju-baju itu!” Kucoba membela diri,”Tapi kan tidak pernah kamu pakai lagi? Bukannya kamu sudah punya baju baru buat Natal?” “Siapa bilang”, katanya. “Aku mau menyimpannya, untuk dipakai lain waktu. Sekarang memang sudah tidak tren, tapi suatu saat pasti bakalan tren lagi.”

            Ah cucuku, tubuhmu akan bertambah tinggi dan besar. Kelak bila kau ingin memakainya lagi, apakah masih akan pas di badanmu? Tapi pembelaan terakhir ini kusimpan dalam hati. Aku bantu dia memilah-milah pakaiannya.

            Rupanya dia agak sungkan juga padaku. “Maaf Oma”, katanya, “yang ini aku ambil. Tapi aku masih punya baju lain buat Oma sumbangkan.” Terbit harapan baru dalam hatiku. Cucuku masih punya kepedulian pada sesamanya!

            Tak lama ia kembali. Membawa kaos putih kusam dan beberapa potong celana jins lusuh. Aku tahu, pakaian itu bekas dipakainya camping. Dan tentu saja sudah tidak berbentuk lagi. Namun aku terima saja pemberiannya. Ini wujud keikhlasan hatinya, bukan?

            Diam-diam, aku menghitung uang dalam dompetku. Ya, masih cukup untuk membeli beberapa baju lagi. Toh, aku tidak membutuhkan uang lagi. Bayi Yesus yang lahir kembali dalam rupa kaum papa itu jauh lebih membutuhkannya, ketimbang nenek tua yang tinggal menunggu waktu ini.

* * *

23 Desember 2005

            Tadi pagi, aku mengantar Oma ke panti asuhan. Oma seneng banget melihat anak-anak merubungi kado Natal mereka. Waktu pulang, Oma bercerita dengan penuh semangat, apa makna Natal baginya. Misa yang khidmat, tukar kado dalam keluarga, dan berbagi dengan sesama. Cerita yang sudah berapa kali diulanginya.

            Sampai di rumah, aku harus memapahnya pelan-pelan. Dia kecapekan setelah seharian berkunjung ke beberapa panti asuhan dan yayasan sosial. Akhirnya dia kubiarkan tidur di kamarnya.

            Sore harinya, Oma masih tertidur. Mama yang mencoba membangunkannya, malah menjerit. Badan Oma panas sekali dan dia tak sadarkan diri. Kami segera membawanya ke rumah sakit.

            Sekarang, kami sekeluarga menunggu di rumah sakit. Kenapa sih, Oma harus sakit menjelang Natal?

24 Desember 2005

            Pagi tadi, Oma sempat sadar. Aku yang kebetulan sedang menungguinya. Kata dokter, masa kritisnya sudah lewat. Baguslah. Berarti kami sekeluarga tak harus berhari Natal di rumah sakit. Oma lantas memberikan sebuah kunci kecil yang disimpan dalam liontinnya buat aku. Kata dia, kalau ada apa-apa dengannya, kunci itu adalah pembuka buku harian yang disimpannya dalam laci kamarnya. Dia pengen orang dapat membacanya.

            Kan Oma bakal segera sembuh, pikirku. Tapi aku terima aja kunci itu untuk menyenangkan hatinya. Siapa sangka, siangnya Oma kritis lagi. Kali ini dokter menyarankan kami segera memanggil pastor untuk memberinya sakramen penguatan. Untung ada Romo yang mau memenuhi permintaan kami di tengah kesibukannya mempersiapkan misa malam Natal nanti. Kami sendiri akhirnya benar-benar harus bermalam Natal di kamar Oma, bersama dokter dan perawat.

            Tepat pukul 12 malam, Oma menghembuskan nafas terakhir….

7 Januari 2006

            Dua minggu setelah kepergian Oma, aku membaca hari-hari terakhir yang dicatatnya dalam buku harian. Aku merasa tertampar membaca kalimat-kalimat yang ditulisnya dengan penuh kelembutan. Ternyata aku begitu egois! Aku lupa apa arti Natal sebenarnya. Aku mengisinya dengan pesta, pesta… nggak peduli bahwa masih banyak orang yang butuh uluran kasihku. Aku membawa buku itu ke Mama dan Papa, juga adik-adikku. Kami sekeluarga menangis… Malam itu, Papa memimpin doa keluarga, hal yang baru bagi kami. Kami berdoa, agar Tuhan mengizinkan kami memperbaiki Natal-Natal kami…

* * *

Desember 2006

            Keluarga itu sedang membungkus bingkisan Natal bersama-sama. Bingkisan tersebut akan mereka sumbangkan ke yayasan sosial. Diam-diam tiap orang telah mempersiapkan kado Natal untuk dipertukarkan. Kepala keluarga sudah memutuskan, tidak ada pesta Natal tahun ini! Mereka akan mengikuti misa dengan khusyuk di gereja, kemudian mengadakan renungan Natal sederhana di rumahnya.

Akhirnya Tuhan menjawab doaku. Kepergianku di malam Natal, buku harian yang kuwariskan, berhasil mengubah pandangan mereka. Natalku, yang sederhana dan manis, telah kembali. Walau untuk mengembalikannya, aku harus membayar harga yang sangat mahal, aku bahagia. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu Natal yang merdu dari rumah yang hangat dan penuh kedamaian itu….