Aku benar-benar sebel sama acara Ssstt… Usil Banget Deh! yang tayang di Trans TV pk. 18.30 hari Sabtu.

Pertamanya aku aware sama acara ini karena lihat promonya, di situ ada wajah yang kukenal, seorang mahasiswa seangkatanku di Fikom Petra. Meski aku nggak kenal baik dengan dia, tapi penasaran juga ngapain tuh orang di acara ini. Aku kira ini semacam reality show dan dia jadi peserta di sana.

Ternyata acara ini PARAH ABIS! Tolong jangan ditonton saudara-saudara! Supaya ratingnya jeblok dan dihentikan! Dan jangan biarkan anak-anak yang masih kecil menonton, nanti mereka tumbuh menjadi orang yang psycho!

Ssstt… Usil Banget Deh! terbagi jadi dua segmen. Segmen pertama, sekelompok anak muda berkumpul di tempat umum seperti perpustakaan atau restoran fine dining. Bukannya membaca atau makan dengan tenang, mereka malah berulah. Pertama, mereka memilih sebuah permainan. Lalu mereka mengambil sumpit dari sebuah wadah secara serempak. Orang yang mendapat sumpit berujung merah menjadi korban.

Dan, permainan yang mereka lakukan itu di luar batas kesopanan dan kewajaran. Contohnya, bulu hidung dicabut dengan pinset. Muka dilaburi coklat panas dan ditaburi kembang. Dijampi-jampi (baca: disemburi air dari mulut seorang dukun). Menjilat cecak. Makan pizza dengan sambal yang banyak. Punggung telanjang digambari seperti sasaran permainan dart, dan memang difungsikan demikian (dilempari panah-panah kecil itu… nggak sekalian Bull’s Eye – musuhnya Daredevil – aja yang ngelempar??). Menghirup bau sepiring merica. Bisa ditebak, suasana jadi berisik dan mereka diusir dari tempat umum tersebut.

Segmen kedua, mereka diminta menyaksikan sesuatu yang lucu. Tapi tidak boleh ketawa. Kalau ketawa, mereka dihukum algojo. Ada dua hukuman, dicubit di bagian dada (a.k.a. jujitsu – jurus jiwit susu – maaf tidak sopan tapi benar ini yang dilakukan), atau ditampar pipinya.

Apa coba gunanya acara ini?

Mendidikkah?

Bermanfaatkah?

Menghiburkah?

LUCU? Aku nggak ketawa sama sekali melihat acara ini.  

Menurutku sangat konyol dan sadis, dan cowok-cowok itu sepertinya berlomba untuk menunjukkan kehebatan mereka, bahwa mereka bisa menahan sakit, melawan rasa jijik…. halo, apa gunanya sih??

Aku kecewa sekali sama pihak pembuat dan penayangnya. Bukannya Mohammad Nuh waktu diangkat jadi menteri Infokom menghimbau agar televisi menayangkan acara yang mendidik dan mengandung muatan nasionalisme?

Bagaimana orang-orang KPI bereaksi atas acara semacam ini? Mestinya KPI punya kekuatan dong untuk menghentikan acara ini! Nggak usah diteliti ribet-ribet saja sudah jelas acara ini parah!

Sekadar mengingatkan, ini ditayangkan hari Sabtu dan pada jam prime time sehingga besar kemungkinan ditonton oleh anak-anak! Memang si host mengingatkan untuk tidak meniru adegan yang ditayangkan di mana pun anda berada. Kenapa logikanya nggak dibalik? Kalau adegan itu tak layak ditiru, ya sudah tidak usah ditayangkan! Karena adegan ini kan mudah ditiru, tidak butuh keahlian khusus. Kalau label ‘don’t try this at home’ dipasang di acara sirkus, ya cukup efektif dong mengingat gerakan sirkus itu butuh ketrampilan tersendiri. Belum kapok ya sama insiden WWE Smackdown?

Sedih bukan main rasanya aku melihat ada acara televisi yang lebih buruk dari sekadar sinetron jiplakan. Apa ya orang-orang itu tidak ingat kalau media memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat, media menjadi cermin di mana masyarakat mempelajari realitas, efek media bisa seperti jarum suntik yang tak bisa dihindari pasien, aduh, balik aja kuliah komunikasi semester satu deh! Penonton Indonesia juga mayoritas dari kalangan menengah ke bawah dengan tingkat pendidikan rendah sehingga besar kemungkinan mereka akan mengimitasi perilaku yang disajikan televisi. Coba kalau yang ditayangkan di televisi sesuatu yang positif, dengan sendirinya masyarakat kita akan belajar menjadi lebih baik tanpa perlu sekolah yang biayanya mahal itu! Kan berdampak buat kemajuan bangsa! Tapi kalau yang disajikan seperti ini, hwaduh hwaduh…..

Ironisnya, iklan Jardiknas (jaringan pendidikan nasional) malah mengisi jeda tayangan ini. Apa nggak bisa milih jeda iklan di acara yang lebih mendidik???

Bagaimana juga kalau orang asing melihat acara ini, bisa-bisa mereka pikir orang Indonesia adalah orang yang usilnya sudah kebangetan. Padahal budaya kita sangat luhur, santun, dan saling menghormati satu sama lain. Belajar dong dari Amerika yang mayoritas filmnya mencitrakan Amerika yang demokratis, humanis, pokoknya yang bagus-bagus (padahal belum tentu benar begitu realitasnya, tapi ingatlah masyarakat kadang tak bisa membedakan mana realitas dan mana representasi).

Intinya aku benar-benar berharap acara ini tak berumur panjang dan tidak ada acara sejenis lagi di televisi kita….