When it’s over, that’s the time I fall in love again……..

Kardus berisi tujuh rangkap skripsiku, plus satu kopi tanpa jilidan untuk back up. Kalau satu lembar kertasnya 70 gram, sementara ada 200 lembar kertas per skripsi, itung sendiri deh beratnya berapa. Yang jelas tanganku pegal sampai sekarang gara2 berlari2 mengangkat kardus ini sepanjang hari

Lagu lawas dari Sugar Ray itu rasanya terngiang-ngiang terus hari ini. Bukan karena aku putus cinta lho ya! Tapi karena akhirnya skripsiku berhasil aku kumpulkan. Perjuangan bermalam-malam begadang, pagi-pagi bergelut dengan buku di perpustakaan, berkelana di internet dengan panduan mbah google, bimbingan baik via messenger maupun face to face berakhir sudah. Skripsi setebal 186 halaman (belum termasuk lampiran) sukses aku kumpulkan sekitar pk. 10.30 tadi pagi. Satu setengah jam lebih awal daripada tenggat yang ditentukan. Satu babak berarti dalam kehidupanku telah aku lewati. Meski belum menghadapi sidang skripsi, tapi rasanya legaaaaaaaaaaaa luar biasa.

Tadinya aku pikir hari ini aku bakal menangis terharu. Ternyata nggak sampai. Tapi jauh di dalam hatiku aku nggak akan pernah lupa dengan perjuanganku menyusun skripsi ini. Ada saat-saat di mana aku menganggap skripsi sebagai sekadar tahap yang harus dilewati untuk meraih gelar sarjana. Tapi aku berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Skripsi bagiku, adalah proyek idealis. Bukan nilai terbaik yang dituju, tetapi kepuasan karena telah memberikan yang terbaik. Jujur, sempat terpikir untuk menggunakan jasa pembuatan skripsi saat aku sedang benar-benar putus asa. Tapi aku bersyukur adikku mengingatkan untuk tidak melakukan niat gila itu. Kalau aku tidak membuat skripsi sendiri, aku tidak akan merasakan sensasi seperti yang aku rasakan saat ini.

Skripsi ini mengajariku banyak hal, termasuk menunjukkan kelemahan diriku. Aku yang kurang disiplin, suka menunda pekerjaan, tidak terorganisir dalam bekerja (misalnya tidak seksama dalam mencatat referensi, sehingga menyulitkan dalam menyusun daftarnya), kurang keyakinan diri (meski pembimbingku sudah bilang oke, tetap saja aku merasa tidak yakin), paranoid (takut kalau fotokopinya lama,printer macet, jalan macet, dkk) dan kadang terlalu perfeksionis (hingga rasanya sulit untuk berhenti, ingin terus melanjutkan dan menggali lebih dalam lagi). Di sisi lain, aku juga sadar bahwa aku punya spirit yang sangat besar dan meski banyak masalah yang membuat aku stres, aku bisa mengatasi semuanya dengan baik. Aku punya perhitungan yang cukup, meski belum bisa dibilang matang. Update virus, back up file, dan berusaha mendahului tenggat adalah usaha preventifku yang efektif.    

Skripsi berhasil menghapus kecongkakanku sebagai mahasiswi dengan catatan akademis yang gemilang. Satu-satunya yang aku sayangkan dari skripsi ini adalah aku harus menunda mempersembahkan gelar sarjana pada keluarga. Tapi, ketika aku berhasil meraihnya tepat waktu, aku mungkin akan semakin congkak. Merasa hebat, berhasil lulus tepat waktu dengan status aktif berorganisasi selama kuliah dan IPK di atas rata-rata. Kalau skripsi ini aku lalui dengan gampang, dengan enteng, aku akan menganggap semuanya itu karena kehebatanku. Untunglah banyak cobaan yang aku alami selama skripsi, yang membuat aku sadar, semua keberhasilan dalam hidupku tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Aku ingat waktu aku nonton film “Getting Home”, ada seorang tokohnya, anak muda berusia 20-something. Dia sedang melakukan perjalanan keliling dunia dengan bersepeda. Niatnya dibangun dari perenungan bahwa selama 20 tahun hidupnya ia tidak pernah berhasil menyelesaikan sesuatu dengan baik. Karena itu, pada suatu hari ulang tahunnya, ia memulai perjalanan itu dengan harapan dapat menyelesaikannya pada ulang tahun berikutnya. Tokoh ini inspiring banget buat aku. Dia yang membuat aku ikut merenung, alangkah menyesalnya aku di kelak kemudian hari kalau aku nggak mau bekerja keras dan menyelesaikan sesuatu dengan sebaik mungkin. Walau jujur tingkat kepuasanku terhadap skripsi ini masih belum 100%, tapi ini bisa menjadi titik awal yang baik. Lagipula, untuk mencapai kepuasan 100% memang sulit, mengingat ini adalah penelitian kualitatif yang eksploratif dan bisa terus menggali sesuatu yang baru dari dalamnya. Aku harus belajar membatasi diri juga.

Salah satu halaman bergambar dalam skripsiku

Sekarang, aku sudah pasrah menghadapi sidang skripsi bulan depan. Biarlah para penguji menilai skripsiku sesuka hati mereka. Nilai yang paling objektif, adalah nilai yang aku berikan sendiri pada diriku. Nilai yang diakumulasikan bukan hanya sekadar dari hasil penelitian, tetapi juga bagaimana aku menjalani prosesnya. Skripsi ini 100% kerja kerasku. Aku yang membuat setiap bagiannya, bahkan halaman-halaman yang merupakan formalitas seperti halaman pengesahan, halaman judul, dan lain-lain aku ketik sendiri. Semua gambar yang ada aku capture satu persatu, frame per frame, dengan memilih shot yang paling jelas bila dijadikan still image. Semua referensi aku cari dan baca sendiri, dengan tuntunan para pembimbingku yang memberi rekomendasi. Meski pembimbingku pintar-pintar, tapi bukan berarti mereka menyuapiku mentah-mentah, apa yang harus ditulis, apa yang harus dilakukan. Mereka tipe pembimbing yang memberi kail, bukan ikan. Dan hal ini sangat aku hargai karena itu membuat aku berpikir dan berusaha lebih keras.

Mungkin, sepuluh tahun mendatang, aku akan mengecilkan kenangan akan perjuanganku berbulan-bulan mengerjakan skripsi ini, karena waktu itu aku sudah bisa membuat karya yang jauh lebih baik. Mungkin skripsi ini akan jadi buku berdebu yang tak tersentuh dalam lemari. Mungkin gelar sarjana tidak lagi berarti bagiku, ketika aku bisa membuat pencapaian yang lebih tinggi. Mungkin anak cucuku akan memandang sebelah mata terhadap skripsi ini, karena mereka pasti bisa membuat yang lebih sempurna. Tapi untuk sekarang, biarkan aku menikmati saat-saat ini. Biarkan aku menghargai perjuangan ini. Walau maknanya akan mengecil tergerus waktu, tapi hari ini adalah titik awal bagiku, ketika aku mulai bisa berkomitmen untuk berjuang hingga penghabisan. Betapapun tak berartinya skripsi ini di kelak kemudian hari, ialah yang membuat aku melangkah setapak lebih maju dan menjadi orang yang lebih baik di masa depan.

Kututup halaman ini dengan sepenggal doa:

“Tuhan, terima kasih, karena tanpa penyertaan-Mu, aku tidak akan bisa mencapai tahap ini. Terima kasih, atas tempaan-Mu selama skripsi ini. Samar tapi pasti, rencana-Mu indah bagiku. Tanpa kesulitan dan perjuangan keras, keberhasilan ini akan kehilangan makna. Seperti kata Sugar Ray, when it’s over, that’s the time I fall in love again. Setelah ini selesai, akan ada sesuatu yang baru yang akan aku jalani, dan harus aku jalani dengan sepenuh hati lagi. Dan aku siap menyambutnya. Karena aku tahu, Tuhan tidak pernah meninggalkan aku.”