Waktu berlalu begitu cepat dan empat hari lagi aku akan ikut andil dalam membanjiri tata usaha jurusanku dengan tujuh rangkap skripsiku yang hingga sekarang tebalnya sudah mencapai 170 halaman. Memang masih revisi dikit-dikit sih, dan dag dig dugnya masih kenceng. Mulai minggu lalu aku sudah bernovena memohon kesuksesan buat skripsi ini. Sebenarnya aku bingung juga mau minta apa, mau minta nilai A kok ya ga tau diri(aku kan sering males-malesan dan setengah hati juga bikinnya), akhirnya aku minta biar bisa ngumpulin skripsi tanpa tragedi. Misalnya, printer ngadat, fotokopian lambat, dkk.Soalnya pas kolokium dulu aku sport jantung abis gara-gara Mas Kopma yang lamban banget kerjanya, mana salah lagi, jilidnya kebalik. Alhasil pas sidang pengujinya nanya, “Kamu keturunan Arab ya?”. Aku jadi bingung, rasanya kok mukaku ndak ada Arab-Arabnya. Nama juga gak berbau-bau Arab. Ternyata si penguji nyindir, soalnya,”Baca proposalmu serasa baca Quran, dari kanan ke kiri…” Nah, tragedi ini jangan sampai deh terulang lagi, apalagi sampai mengurangi nilai, wih bisa aku gorok deh mas fotokopiannya.

Dag dig dug lain adalah karena jelang deadline ini rasanya banyak banget badai menghadang dalam hidupku. Ya memang sejak skripsi ini aku sering ketiban apes, sampai akhir pun ada aja yang bikin susah. Semoga deh ngumpulin skripsi ini bisa menolak bala, kayak ruwatan atau ci suak gitu. Dan seterusnya hidupku akan damai tentram dan bahagia, terutama bisa tidur normal lagi, pergi sama teman lagi, ngeblog teratur, yoga lagi, napsu makan kembali lagi, nggak dikit-dikit migrain dan mual lagi. Dalam masa-masa kritis skripsi ini memang stresku tingkat tinggi, ibaratnya listrik aku sudah SUTET (saluran udara tingkat EKSTRA tinggi). Pengaruh ke napsu makan (bukan maksud doa puasa atau diet, tapi liat makanan aja udah ga selera sampai harus nonton Pak Bondan di TV dulu biar agak ngiler) dan kesehatan (belakangan sering migrain, terus kalo buka file dalam folder SKRIPSI udah mual duluan). Ke mimpi juga, udah berapa kali aku mimpi buruk mulai dari sidang yang kacau, dimarahi pembimbing, sampai mimpi disuruh balik ke SMA dan ngulang di jurusan IPA dengan kimia yang bikin sinting itu. Memang ini sifat bawaan lahir, dari zaman baheula yang namanya Ria itu nggak bisa nyantai kalau urusan sekolah, misalnya pas Ebtanas, UAN, wow, tegangnya nggak ketulungan.

Suasana rumah juga belakangan rada ga mendukung, sistemnya no privilege walaupun lagi skripsi, tugas di rumah harus tetap beres semua. Sirik deh sama adikku yang kalau banyak tugas aja serumah ngalah, dan kalau pas ada aku, aku pasti bantuin dia (dan kabar buruknya adikku sedang mempertimbangkan untuk batal milih Farmasi/Teknik Kimia, mau nyeleweng ke Psikologi, which means aku masih punya peluang buat bantuin dia bikin tugas dan belajar, komunikasi kan ada mata kuliah psikologinya juga….kalau dia masuk Tekim/Farmasi kan aku nggak bisa bantu). Tapi Thanks God sampai hari ini sih aku nggak pernah jatuh sakit yang berat sampai harus total bed rest misalnya. Aku ngejaga banget, dosis vitamin dinaikkan dan tiap hari aku juga makan buah yang banyak. Pas agak ga enak dikit, aku cepat-cepat pakai minyak kayu putih. Kayak nenek-nenek juga biarin yang penting ga ambruk.

Yang menghibur adalah kata-kata pembimbingku, meskipun masih ditambah instruksi untuk revisi, tapi aku menangkap harapan di dalamnya. Pak N bilang kesimpulanku menarik. Dia juga sudah mulai memberi petuah jelang sidang. Katanya,”Ria nanti kamu jangan keder duluan pas liat pengujinya ya.” Aku menjawab dengan polos,”Wah Pak, ya liat-liat orangnya. Kalau si *sensor* atau *sensor* ya saya gak jamin bisa gak tegang.” Si bapak sih senyum-senyum aja, begitu juga pas aku tanya kira-kira nilaiku apa. Dia ga mau jawab dengan pasti, tapi pas aku tanya apa mungkin dapat C, katanya ga mungkin. Puji Tuhan deh, bisa desperado aku kalau kerja setahun dengan nangis darah dapatnya C(tau-tau dalam hati si bapak membatin,”Iya, ga dapat C, dapatnya D!” *pikiran buruk-hapus… hapus….*) . Satu lagi yang menghibur, meski agak nyindir kali ya, si bapak bilang,”Kalau si X itu anaknya rajin, kerjanya cepat, tapi pencariannya gak sejauh kamu.” Kenapa aku bilang nyindir, karena aku tuh kerjanya lambaaaannnnn banget kayak siput, maklum orang perfeksionis. Tapi kayaknya si bapak terharu melihat usahaku yang keliatan di skripsi. Seperti motto kecap,”Spirit memang ga bisa boong”. Hahaha…

Soal pembimbingku yang ini, aku punya cerita menarik. Aku ga nyangka bakal dibimbing Pak N. Diajar juga nggak pernah, pas kolokium juga bukan dia yang nguji. Pertama-tama aku minder bimbingan ke dia, soalnya Pak N itu pimpinan redaksi koran yang lumayan oke di Surabaya (yang pasti bukan koran kuning). Puinter, expert, dan ngomongnya bahasa dewa. Sering ga ngerti aku maksudnya apa. Akhirnya setelah belelekan baca aneka buku baru aku bisa nyambung ngomong ama dia. Tambah lama obrolan kita tambah ngaco sampai ke wayang-wayang segala, untung dari dulu aku suka cerita wayang jadi ngerti juga. Pak N ini modelnya sangar, sukanya pakai kaos Harley Davidson sampai kata Supry, temanku, “Pembimbingmu itu kurang ditato thok.” O iya, kenapa aku manggil dia Pak N, biar keren aja, kan kapan hari musim film Suster N. Tapi nama aslinya bukan Pak Ngesot lho ya! Pak N juga seru, aku disuruh baca buku Da Vinci Code, terus dia bilang,”Kan skripsimu ini kayak kerjaannya si Robert Langdon juga.” Hehehe… jadi berasa agak keren dikit, walaupun apalah artinya seorang mahasiswi yang gak lulus-lulus ini dibanding profesor simbologi agama alumni Harvard.

Sebagai hiburan pembimbing keduaku nun jauh di Jerman sono mengirimkan e-mail dengan attachment MP3 berjudul Konangan. Pas aku denger, beneran ketawa sampai mlungker. Ternyata itu lagunya Matta “Ketauan” versi Didi Kempot. Jadi ingat kebiasaan kita bimbingan from warung to warung sambil nyetel Jablai. Lumayan menghibur, meski pas baca attachment satunya lemes, soalnya aku kurang di triangulasi. Eniwei, overall she mentioned,”It’s a great work.” Hallelujah! (diucapkan dengan nada temanku Cak Hadrey). Kalau ingat jaman-jaman awal kolokium, dia suka ngomel karena bahasaku yang kayak bahasa koran. Dia bilang,”Aku tau kamu sering nulis di koran, tapi ini kan skripsi! Pakai bahasa ilmiah donk!”

Kalau sama pembimbing keduaku si Miss Y ini aku emang udah akrab sejak lama. Dia juga yang membuat aku tertarik sama semiotika, dan dia meyakinkan kalau aku ada bakat di semiotika. Dipikir-pikir memang aku suka ngamati simbol-simbol dari dulu, pas pelajaran seni rupa aku juga paling suka gambar ekspresi. Suka iklan juga, tertarik sama budaya, sejarah (almarhum engkong kan guru sejarah, masak gennya ga nurun sama sekali), politik dikit. Jadi skripsi ini emang gue banget, meski kerjanya bikin gila. Miss Y juga paling ngerti permasalahanku selama skripsi ini, tadinya aku ga mau cerita lengkap, sampai suatu hari di selasar C aku nangis-nangis cerita semuanya. Ternyata Miss Y pernah ngalamin divonis dokter sama seperti aku, bahkan dia beneran jalanin operasi yang horrible itu, jadi dia ngerti banget. “Dunia serasa runtuh kan Ria?” Wah, tepat banget tuh istilahnya. Miss Y juga yang jadi motivator selama aku skripsi, dia bilang ga segitu bodohnya kok lulus telat, dia sendiri gitu. Dan lihatlah Miss Y beberapa tahun kemudian, master di bidang komunikasi, dosen yang disegani, dan sempat jadi kajur paling muda se-UK Petra. Karena dukungan yang besar dari Miss Y dan Pak N itulah aku jadi semangat lagi ngerjain skripsi dan aku janji sama mereka untuk give all the best. Kalaupun ga dapet A aku tetap puas, soalnya aku kerja dengan sungguh-sungguh dan mati-matian.

Oh iya, kemarin sempat telepon dan ngobrol sama Mama. Pas skripsi ini bawaanku jadi manja, biasanya juga seminggu belom tentu sekali aku telepon sampai dibilang anak durhaka. Pengennya sih Mama diimpor aja ke Surabaya buat bantuin aku kayak pas bikin laporan magang dulu. Tapi kan kasihan Papa sama adikku, lagian sepuluh tahun tinggal jauh dari ortu nggak pernah deh aku sampai minta Mama datang. Mama juga bilang dia udah doain aku, kan katanya doa orang benar besar kuasanya, aku percaya Mamaku orang benar dan doanya pasti manjur dibandingkan kalau aku doa sendiri (kan orang sesat hehehe). Selain sama Mama aku juga titip doa kemana-mana, kayaknya orang sekampung deh yang doain. O iya, Mama juga mau bantuin cari kerja loh, senangnya…

Yang unik, jelang deadline ini ada aja kabar penting dari teman-temanku. Ada yang spesial minta ketemuan di mall buat cerita kabar sedihnya (so sad to hear that, really…). Yang satu lagi tiba-tiba telpon, ngundang aku dateng ke acara pertunangannya, besoknya. Shock abis jadinya, kok tau-tau udah tunangan. Ada juga teman baik dari SMP ngajak jalan, sayang aku nggak bisa sampai ni skripsi dikumpulin.

Skripsi biasanya juga bikin orang mencari Tuhan. Contoh temanku si Supry, yang bernazar bakal ke gereja lagi kalau lulus skripsinya. Kalau aku sampai sekarang belum berani nazar yang menyangkut kerohanian gitu. Cuma nazar ke beberapa teman untuk traktir mereka. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi level traktirnya. Kalau dapat C, ya makan nasi ama kuah aja di warung X, merasakan getirnya hidup bersama. Balik lagi soal kerohanian, entah kenapa sejak skripsi ini khotbah di gereja terasa menyindir-nyindir. Romo-romo itu sejak kapan sih suka ngomong soal simbol, lambang, ga sekalian representasi? Terus di doa umat minggu ini, ada kata-kata,”semoga penghisapan bangsa yang satu terhadap yang lain berakhir…” Gila, aku langsung teringat subbab kemandirian dan kata Pak N,”munculin ideologinya ya, ini kan neoliberalisme.”

Skripsi juga bikin aku sebel sama perpus UK Petra. Emang sih, buku nasionalisme itu biasanya tua-tua, Ben Anderson tahun 70-an, Renan malah 1832, jadi jaman sekarang udah klasik banget tuh buku-buku. Aku juga sadar perpus mungkin baru menyediakan buku-buku sospol sejak FE dibuka. Tapi tetap saja koleksinya harus diperlengkap. Untung aku dibantu sama koleksi THO alias buku titipan Prof Thomas di perpus (Prof Thomas ini juga baik banget sama aku, minjemin buku, kalau ketemu juga ditanyain kabar skripsinya). Dan suatu hari setelah aku fotokopi Imagined Communities terjemahan Indonesia dari Pak Thomas, dan udah kelar men-scanning isinya, eh, di perpus versi Inggris edisi terbarunya barusan nongol. Sebel kan? (Mm… sebenarnya lebih sebel pas nemu terjemahan Indonesia cetakan terbarunya di Uranus…). Nulis skripsi ini juga ribet, kenapa masih dibuat sulit. Sudah kadung beli buku tata tulis TA, ngikutin petunjuknya, eh, pas pelatihan tata tulis yang telat banget itu dikasih tau kalau Fikom ikut petunjuk yang kedua, sistem APA kalo ga salah. Bete ga sih, mbok ya dari awal ditulis gede-gede di bukunya, jurusan apa aja yang harus pake sistem ini dan jurusan apa yang pake sistem itu.

 Ya sudahlah segini aja curhat tentang skripsinya(udah panjang membara…) . Mohon bantuan doanya ya teman-teman….. Oh God, I’m in rush……..