Apa sih yang dibutuhkan pasangan kekasih untuk tetap mempertahankan hubungannya?

Nah, jawaban dari pertanyaan itu yang lagi aku cari sekarang. Bukan, bukan karena aku lagi dalam masa kritis sama pacar (gebetan aja nggak punya, I’m 100% single and available). Bukan karena lagi kecewa setelah putus cinta. Cuma pengen tau, boleh kan? Mumpung masih jomblo kan?

ist2_2585334_two_heart_shaped_lollipops_for_valentine.jpg

Ceritanya ada seorang temanku, sebut saja A, yang hanya bisa mempertahankan hubungan dengan pacarnya dalam hitungan bulan. Waktu itu aku tanya, kenapa kok putus? Ternyata menurut dia, dia nggak yakin dengan perasaannya pada si pacar. Udah jauhan, tetap nggak ada ser-seran kangen. Akhirnya, dia milih putus. Jadi kesimpulannya, pacaran tanpa cinta, meski cocok, ternyata nggak sukses.

Temanku yang lain, B (habis A kan B, terus C,D,dst…), cinta banget sama pacarnya. Tapi pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan akhirnya dia capek pacaran terus. Eh, kasus ini juga dialami si C. Pesan moralnya, pacaran dengan cinta membara, kalau isinya bertengkar melulu, bikin capek juga.

Pernah juga si D, pacaran bertahun-tahun, terus putus. Kenapa? Karena dia merasa pacarnya makin lama makin nggak nyambung, meskipun baik, perhatian, pengertiannya masih sama. Akhirnya si D bosan sama pacarnya. So, pacaran bisa bosan juga kalau nggak nyambung, jadi poin cocok tetap penting.

Si E, cinta, nyambung, dan rukun sama pacarnya. Tapi diam-diam teman dan keluarga tidak setuju dengan hubungan mereka. Karena ada sisi negatif si pacar yang mungkin nggak bisa dilihat E tapi dipandang orang-orang terdekatnya sebagai hambatan untuk hubungan mereka. Wah, mesti hati-hati juga ya, cinta bisa bikin tai kucing serasa coklat, katanya Gombloh. Cinta tetap nggak boleh buta, logika harus tetap dijalanin.

Si F, pacaran cukup lama untuk menyadari bahwa ada sisi negatif dalam diri pacarnya yang nggak bisa dia tolerir. Padahal pacarnya cinta banget sama dia dan banyak orang menganggap mereka pasangan ideal. Akhirnya, meski dengan sangat berat hati, dia harus mengeluarkan kata ‘putus’. Ya, ketika cinta nggak sinkron sama logika, bubar juga deh akhirnya.

Itu baru kasus-kasus yang aku tahu. Masih buanyak lagi kasus kegagalan hubungan cinta yang aku nggak tahu. Eniwei, dari semua kasus di atas, hipotesis yang bisa aku buat untuk menjawab pertanyaan di awal jadi gini nih:

“Pacaran itu butuh:

  1. Cinta yang sinkron sama logika

  2. Rukun

  3. Cocok bin nyambung

  4. Dukungan orang terdekat (keluarga dan teman)

  5. Keberanian untuk putus, kalau memang perlu!”

 

Tapi, dari semua kata-kata bijak tentang cinta yang pernah aku dengar, aku paling terkesan sama pesan seorang om-om buat anaknya yang umur pernikahannya belum genap 1×24 jam ini:

“Yang paling penting bagi suami istri adalah dua-duanya mau mengalah satu sama lain. Banyak pasangan muda yang gagal karena sama-sama nggak mau ngalah. Papa sama Mama bisa bertahan karena selalu inget untuk ngalah satu sama lain….”

(nggak persis gitu sih kata-katanya, seingatku aja)

Kata-kata si Om ini, mirip-mirip sama wedding vow-nya Tori Spelling (anaknya Aaron Spelling yang dulu main di Beverly Hills 90210) yang pengen aku jadikan penutup tulisan ini:

“I promise to always go to sleep with your name in my prayers

  I promise to always be the first to say I’m sorry…..”