Suku Talang MamakSuku Talang MamakDalam majalah kesayanganku, Intisari, edisi November 2007, ada sebuah artikel menarik di rubrik Halaman Hijau. Topiknya tentang suku Dayak Pangin, suku yang mendiami kawasan hutan Sungai Seruyan Hulu, berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Sebagai masyarakat adat, mereka memiliki tanah adat sendiri di kawasan tersebut.

Meski mereka memiliki hak penuh untuk mengolah tanah adat tersebut, mereka tidak lantas semena-mena mengeruk kekayaan alamnya. Ada kesepakatan tersendiri di antara mereka untuk membagi kawasan hutannya. Ada yang harus dipelihara dan dibiarkan alami, ada yang boleh dimanfaatkan. Hutan yang dipelihara, di Bukit Beruang, tak boleh dimasuki dan menjadi sumber air serta damar bagi mereka. Untuk hutan yang dimanfaatkan, orang tetap tak bisa sembarangan menebangi pohon-pohonnya. Ada tanggung jawab untuk menanam ulang. Dalam pelaksanaan komitmen ini tidak ada sanksi. Mereka kembali ke nilai diri sendiri dan keyakinan akan adanya karma.

Selama ini suku Dayak Pangin bercocok tanam dengan berpindah ladang. Namun saat ini mulai ada sebagian dari mereka yang memilih menetap. Yang berpindah ladang pun setiap tiga tahun akan kembali ke ladang lama. Jadi mereka benar-benar memperhatikan masalah lingkungan dan memelihara alam dengan seksama.

Aku jadi ingat, dulu Intisari juga pernah menulis tentang orang suku Baduy. Ternyata hukum adat suku ini melarang penggunaan sabun dan bahan kimia pembersih lainnya. Setelah diusut, aturan itu ternyata merupakan bentuk tenggang rasa mereka terhadap orang Jakarta. Karena bila suku Baduy yang mandi di kali itu menggunakan sabun, air kali akan tercemar. Padahal air dari kali di kawasan suku Baduy mengalir hingga ke Jakarta. Jadi, untuk menjaga kualitas air kali yang dinikmati banyak orang itu, suku Baduy memilih untuk tidak menggunakan sabun.

Di tempat lain, ada suku Anak Dalam di Jambi yang sering disebut suku Kubu (panggilan ini bermakna buruk karena Kubu itu artinya jorok, bau, dan bodoh). Mereka hidup bahagia di tanah adatnya. Namun buta aksara menyebabkan warga suku ini dapat ditipu orang kota dengan mudahnya. Lahan mereka ditebang begitu saja tanpa kompensasi. Kondisi ini melatarbelakangi niat mulia seorang Butet Manurung untuk turun mengajak anak-anak Suku Anak Dalam atau orang Rimba ini belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Tak jauh dari Jambi, tepatnya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dari Desa Keritang, Kecamatan Kemuning, Indragiri Hilir dan Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau, hidup suku Talang Mamak. Suku Talang Mamak seperti halnya Suku Rimba tidak pernah menebang kayu sembarangan, apalagi untuk diperjualbelikan secara liar. Mereka membuka hutan hanya untuk keperluan berladang yang disesuaikan kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti suku Dayak Pangin, mereka membagi hutan menjadi kawasan yang boleh dimanfaatkan dan yang harus dipelihara. Bahkan mereka berusaha menyambung hidup lewat hasil hutan non-kayu.

Orang Dayak Pangin, orang Baduy, orang Rimba, dan orang Talang Mamak mungkin sebagian kecil dari ratusan juta rakyat Indonesia. Suku-suku yang masih ketat memegang adat nenek moyang ini acap diberi label udik, ndeso, terbelakang, terisolasi, tertinggal dari peradaban, dan seterusnya. Tetapi membaca fakta-fakta di atas, tidakkah anda sekalian berpikir ulang, apakah mereka layak menyandang cap-cap negatif tersebut?

Meski hidupnya mungkin jauh dari modernisasi, suku-suku tersebut memiliki kearifan lokal yang menurutku luar biasa. Mereka mengelola alam dengan sangat bijaksana dan berorientasi pada masa depan. Mereka tahu benar, meski dari alam mereka dapat meraih untung besar yang tak akan habis dimakan anak cucu tujuh generasi, keuntungan tersebut tak akan ada artinya bila anak cucu mereka tak dapat menikmati alam yang lestari. Karena uang seberapa pun banyaknya tak akan mampu membeli oksigen alami, air bersih berkualitas, atau kayu terbaik, bila semuanya itu telah punah akibat kebrutalan manusia. Padahal sebagian orang kota yang tiap hari menerima informasi soal bahaya pemanasan global, masih saja nekad melakukan pembalakan hutan dan penebangan liar demi keuntungan pribadi.

Tidak hanya dalam pengolahan alam, suku-suku tersebut juga bijak dalam berkelakuan. Aturan bagi mereka, pantang untuk dilanggar, meski tak ada sanksi yang mengikuti. Sementara kita yang tinggal di kota besar, sering menganggap bahwa aturan dibuat untuk dilanggar. Sanksi yang berat sekalipun, tidak mampu membuat aturan ditaati, justru seolah menjadi tantangan tersendiri. Jadi sebenarnya, siapa dong yang lebih udik?

Di kala orang kota memberi cap buruk dan menipu mereka, alih-alih membalas dendam, mereka justru masih mau memikirkan nasib orang kota. Usaha mereka merawat lingkungan mereka dengan seksama, bukankah sedikit banyak akan  mempengaruhi lingkungan kota juga?

Akhir kata aku cuma mau mengingatkan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak memberi cap terbelakang kepada sesamanya. Yang kedua, jika kita -orang-orang kota yang menyangka dirinya maju ini – mau belajar dari kearifan lokal suku-suku tersebut, dunia kita pasti menjadi lebih baik. Alam kita lebih hijau, pemanasan global terminimalisir, kejahatan merosot, orang bertingkah laku santun dan tertib, wow…. what a wonderful world…..