Aku paling suka nonton sitkom alias serial komedi. Karena itu juga, aku biasanya punya daftar sitkom andalan. Yang klasik, tentu saja Mr.Bean. Dulu suka nonton Bajaj Bajuri. Lantas Office Boy. Sekarang sih lagi suka-sukanya nonton sitkom baru di Trans TV, judulnya Suami Suami Takut Istri (SSTI). Tayang tiap Senin-Jumat, pk.18.00 WIB.Sitkom ini lucu banget. Lucunya itu tipe-tipe nyindir gitu, khususnya menyindir masyarakat kita. Setting-nya di sebuah perumahan kecil, tergabung dalam satu wilayah RT. Di situ tinggal Bapak RT beserta istri dan putri tunggalnya; Mas Karyo, si pedagang dengan istrinya, Sheila, terobsesi jadi artis; Uda Faisal, penulis asal Padang dengan istrinya, Deswita si wanita karir; Bang Tigor si Medan kekar yang beristri Welas, perempuan Jawa yang lugu; Gerry, cowok ganteng yang masih melajang dengan adiknya si Jimmy; dan Pretty, janda kembang seksi yang ditinggal mati suami. Plus Mang Dadang, satpam mata duitan yang istrinya tiga. Biar tokoh-tokohnya punya ciri khas masing-masing, ada satu persamaan di antara mereka. Yang suami pada takut sama istri. Yang istri pada nggak mau ngalah sama suami. Hukum suami takut istri ini hanya tidak berlaku bagi Mang Dadang. Jadi, sumber utama konflik yang terjadi setiap episode adalah masalah rumah tangga.

Jangan dilihat kalau sitkom ini hanya sekadar hiburan. Ada banyak pelajaran dan sindiran yang aku tangkap dari setiap episode. Contohnya dari salah satu episode yang menceritakan kepanikan Gerry saat calon istrinya berkunjung ke rumah. Gerry ingin menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin agar ia dapat segera menikah. Sementara itu, warga kompleks berusaha menanamkan idealisme golongannya masing-masing kepada Gerry dan calon istrinya. Kelompok bapak-bapak getol menghimbau agar Gerry tidak menjadi suami yang takut pada istrinya seperti mereka. Sedangkan kelompok ibu-ibu mengajari calon istri Gerry agar tidak tunduk pada suami. Episode ini ditutup dengan pertengkaran Gerry dan calon istrinya karena tidak sepakat akan hari pernikahan. Gerry ingin pernikahan dilangsungkan pada hari Minggu dan calon istrinya ingin hari Sabtu. Akhirnya para bapak dan ibu ikut-ikutan berdebat menentukan hari pernikahan yang paling baik buat pasangan itu.

Dari episode tersebut, aku melihat bahwa masalah utama yang dihadapi para pasangan dalam sitkom ini berakar dari keengganan mereka untuk mengalah pada pasangannya. Bapak-bapak ingin menguasai istrinya, begitu pula istri ingin agar suami tunduk kepadanya. Akibatnya pernikahan mereka berdasar pada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Nilai ini dilestarikan melalui komunitas dalam lingkungan tersebut.

Menurutku sendiri, hubungan berbasis win-lose itu nggak sehat. Orang mungkin sering bilang, istri harus tunduk pada suami. Maka kita heran melihat suami takut istri. Tapi bagiku, masalahnya bukan siapa takut pada siapa. Dalam hubungan, yang penting itu saling menghormati, terlepas dari masalah gender. Jadi, suami yang menguasai istri, menurutku sama nggak sehatnya dengan suami takut istri. Idealnya, suami dan istri mengalah satu sama lain dan saling menghormati. Emang apa sih kepuasan yang kita dapatkan dari ‘mengalahkan’ orang yang kita kasihi? Inilah yang jadi sumber segala sumber konflik seperti diilustrasikan dalam sitkom di atas.

Orang juga seringkali mengartikan emansipasi perempuan sebagai gerakan kebangkitan perempuan, sehingga perempuan bisa menundukkan suaminya seperti sitkom ini. Menurutku ini pandangan yang keliru. Feminisme, emansipasi, tujuannya bukan untuk menundukkan laki-laki, tapi untuk mencapai kesejajaran antara laki-laki dan perempuan. Jadi, aku nggak memandang aksi para ibu yang berusaha menguasai suaminya sebagai manifestasi feminisme. Menurutku itu masalah ego semata.

Kembali ke SSTI, episode lain yang menarik adalah ketika Bu RT menuduh Pretty sebagai istri simpanan. Tuduhan itu berawal dari liputan televisi tentang fenomena istri simpanan pejabat yang dikatakan tinggal di kompleks tersebut. Karena Pretty satu-satunya perempuan tanpa pasangan resmi di kompleksnya, Bu RT dengan semena-mena menuding dia sebagai istri simpanan yang dimaksud. Akibatnya ibu-ibu sekompleks berdemo menuntut agar Pretty segera pindah. Pretty sangat marah dan memutuskan untuk pergi, sambil mengatakan bahwa bila terbukti ia bukan istri simpanan, ia akan kembali. Ternyata akhirnya di televisi diberitakan bahwa nama kompleks dalam berita sebelumnya salah, sehingga jelas bahwa Pretty bukan istri simpanan.

Episode ini menurutku menyindir sikap sebagian golongan dalam masyarakat kita yang seringkali sinis terhadap sosok janda. Janda dianggap sebagai perusak rumah tangga orang-orang di lingkungannya. Stereotipe semacam ini membuat janda dijauhi, bahkan sering dituduh yang bukan-bukan. Dalam kasus Pretty, penampilannya yang cantik, modis, senang mengenakan baju terbuka dan ramah dianggap ibu-ibu sebagai ancaman. Apalagi bapak-bapak selalu bersikap baik pada Pretty karena tergiur oleh kecantikan dan kemolekannya. Pretty sendiri risih dengan perlakuan tersebut, dalam berbagai kesempatan ia mengeluhkan betapa susahnya menjadi janda. Bersikap ramah, dianggap menggoda, sedang bersikap judes, dianggap sombong. Padahal bukan keinginannya menjadi janda, melainkan nasib yang membuatnya menyandang status tersebut, sejak kematian suaminya. Jadi, sitkom ini juga mau mengajak penonton untuk melihat sisi lain seorang janda yang seringkali didiskreditkan oleh masyarakat. Dengan kemunculan Pretty dengan segala permasalahannya, kita diajak berempati terhadap janda di sekeliling kita.

Persoalan poligami juga dihadirkan dengan menarik lewat figur Mang Dadang dan ketiga istrinya. Dalam sebuah episode dikisahkan betapa rukunnya keluarga Mang Dadang. Padahal istri-istrinya berasal dari budaya yang berbeda-beda. Ada yang orang Jawa, ada yang Sunda, dan ada yang keturunan Cina. Kerukunan mereka ini tiba-tiba terusik ketika ketiga istri Mang Dadang memutuskan untuk mencari kerja karena ingin mandiri secara finansial dan tidak bergantung pada Mang Dadang. Niat ini tentu didukung para ibu dengan menggunakan jasa ketiganya untuk membersihkan rumah dan melakukan beberapa tugas yang biasa dilakukan Mang Dadang. Padahal, aksi ketiga istri tersebut adalah bagian dari strategi Mang Dadang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Namun, karena terpengaruh hasutan ibu-ibu kompleks, akhirnya ketiga istri Mang Dadang benar-benar berontak dan tidak mau menyerahkan penghasilannya pada sang suami.

Dari sini aku melihat bahwa poligami ternyata bisa saja menciptakan keluarga yang rukun. Yang merusak keluarga tersebut bukanlah poligami, tetapi pengaruh lingkungan yang menghasut para istri agar berontak pada suami. Ini sebuah fenomena yang sangat menarik dan sangat mungkin benar-benar terjadi dalam masyarakat kita. Yang unik, Mang Dadang berhasil menyatukan tiga istri dari tiga budaya yang berbeda. Mungkin kita harus melihat stereotipe perempuan dalam tiga budaya tersebut, di mana sepengetahuanku perempuan dalam budaya Jawa, Cina, dan Sunda memang dikondisikan untuk tunduk pada suami, termasuk ketika suami memutuskan berpoligami. Karena pada dasarnya, perempuan dalam budaya Timur hidup dalam budaya patriarkhi yang kental dan dikonstruksi untuk hidup bergantung pada lelaki.

Namun, ketika perempuan punya kekuatan sendiri berupa modal, perempuan juga bisa memiliki bargaining position yang lebih baik terhadap suaminya. Dalam kasus Mang Dadang, sebelum ketiga istrinya bekerja, mereka sangat bergantung pada suami sehingga mereka tunduk secara absolut pada Mang Dadang. Di saat mereka bisa mencari uang sendiri, tingkat ketundukan mereka berkurang sehingga Mang Dadang tidak lagi bisa seenaknya sendiri pada istri. Dalam dunia yang semakin kapitalis ini kita memang tidak bisa menutup mata bahwa orang akan dikesampingkan jika ia tak bermodal. Mungkin anda juga masih ingat dengan sosok Koh Abun dalam film Berbagi Suami yang tidak berdaya karena kekuatan modal istrinya. Koh Abun memang bekerja bersama istrinya, tetapi faktor penentu kesuksesan bisnis tersebut terletak pada sang istri yang dianggap membawa hoki. Karena inilah istri Koh Abun memiliki kekuatan sehingga Koh Abun tidak berani melawan apalagi menceraikannya. Ketidakpuasannya terhadap sang istri dilampiaskan dengan cara berselingkuh, tanpa niat untuk bercerai dan menikahi selingkuhannya secara resmi. Koh Abun lebih takut kehilangan istri yang merupakan sumber penghidupannya.

Sitkom ini juga mengetengahkan kekuatan seorang perempuan Jawa lewat tokoh Welas. Aku jadi ingat, akupernah baca buku yang judulnya “Kuasa Wanita Jawa”. Di situ ditampilkan sebuah kontradiksi. Selama ini bukankah perempuan Jawa selalu dianggap lemah, nrimo, dan tak berdaya pada suami? Ternyata sifat-sifat tersebut sebenarnya adalah kekuatan perempuan Jawa. Dengan kelembutannya mereka bisa menjadi figur yang sangat berpengaruh pada suami. Contoh yang paling nyata adalah Ibu Tien Soeharto. Banyak kebijakan Orde Baru yang dibuat Soeharto atas pengaruh istrinya. Nun jauh di Amerika sono, seorang Hillary Clinton yang lulusan universitas ternama saja tidak memiliki peranan sebesar itu dalam kebijakan politik yang dibuat suaminya.

Nah, sama seperti Ibu Tien dan perempuan-perempuan Jawa lainnya, Welas juga sangat lembut dan santun dalam berkata-kata. Tetapi kelembutannya itu berhasil menundukkan kekerasan suaminya yang orang Batak asli. Contohnya ketika Bang Tigor hendak memukul seseorang karena emosi, Welas berhasil membatalkan niatnya bukan dengan teguran, tetapi dengan permintaan untuk menolongnya melakukan pekerjaan rumah tangga. Atau ketika Bang Tigor berbohong pada Welas. Welas tidak memarahinya dengan nada tinggi, tapi dengan santun ia mengatakan agar malam itu suaminya tidur di luar saja dan tidak usah masuk ke rumah. Wah, ini persis sekali dengan fenomena-fenomena yang aku baca di buku “Kuasa Wanita Jawa”.

Intinya, kalau mau dibahas secara ilmiah, banyak banget ideologi tersembunyi dalam sitkom SSTI. Baru nonton sekali saja sudah banyak ide-ide yang bermunculan di benakku, seperti yang aku bahas di atas tadi. Kayaknya menarik juga deh kalau sitkom ini dianalisis lebih lanjut, dengan metode semiotika, analisis wacana, analisis isi, atau bisa juga framing. Ada yang tertarik?