Jurusanku tercinta ini sangat memperhatikan kualitas bahasa Inggris lulusannya. Dari awal kuliah, kita diwajibkan mengambil mata kuliah bahasa Inggris 1-3. Plus Public Speaking buat anak-anak konsentrasi Corporate Communication. Nah, untuk masuk kelas bahasa Inggris 1, prasyarat yang harus dipenuhi adalah skor TOEFL di atas 500. Dan tes dilakukan setelah penerimaan mahasiswa baru. Oh iya, TOEFL 500 ini berlaku mulai angkatanku (2003), sebelumnya batas TOEFL-nya 450. Tetapi setelah berkonsultasi dengan para pakar, katanya batas nilai TOEFL yang bisa menjadi tolok ukur bahwa seseorang udah lumayan mantap bahasa Inggrisnya adalah 500.Kebijakan ini nggak gampang diterapkan karena menuai gelombang protes dari mahasiswa. Soalnya, nggak banyak mahasiswa yang langsung berhasil mendapat skor 500 di TOEFL pertamanya. Alhasil, mereka harus ngulang dan terus berjuang supaya bisa segera mengambil kelas bahasa Inggris yang menghabiskan waktu 3 semester.

Salah satu mahasiswa yang kesulitan memenuhi tuntutan TOEFL 500 itu adalah ketua HIMAku yang namanya lebih baik dirahasiakan. Dia merasa kebijakan itu tidak masuk akal. Karena seharusnya, kita kuliah Inggris dulu baru TOEFLnya dites. Aku sudah menjelaskan kenapa harus TOEFL dulu. Kuliah Inggris kita kan nggak diajarin grammar, vocabulary lagi tapi langsung melatih kemampuan komunikasi kita dalam bahasa Inggris. Lha kalau bahasa Inggrisnya masih kacau apa ya bisa mengikuti dengan baik? Sayangnya orang ini keras kepala, dia ngotot mengajukan argumen itu pada jurusan dan hasilnya? TOEFL 500 tidak hanya dibutuhkan sebagai prasyarat bahasa Inggris saja, setelah lulus mahasiswa akan kembali diminta tes TOEFL sebagai syarat mengambil ijazah sarjananya. Tentu saja nilainya harus tetap di atas 500. Gawat kan?

Kebijakan terbaru, TOEFL 500 dijadikan prasyarat sidang skripsi. Oh iya, jangan harap anda bisa menyerahkan sertifikat TOEFL zaman lawas saat lagi hoki-hokinya bisa dapat 500. Sertifikat TOEFL dianggap kadaluarsa dalam jangka waktu 6 bulan setelah diterbitkan. Alhasil, para mahasiswa skripsi pun berjuang keras mendapat nilai TOEFL 500.

Thanks God, saya memang selalu beruntung soal yang satu ini. Seumur-umur kuliah dari masuk sampai hampir lulus, aku cuma 2 kali TOEFL, pas baru masuk dan pas mau keluar. Tapi nggak semua orang seberuntung diriku. Salah satunya temanku yang masih belum sukses meraih TOEFL 500. Aku sudah janji akan membantunya. Jadi, kemarin, aku dan dia belajar bareng, mengerjakan soal TOEFL dari buku.

Gara-gara itu, aku menyadari satu hal. Ternyata aku nggak bisa jadi guru bahasa Inggris yang baik. Ceritanya, dari baru bisa baca mamaku sudah langsung mengajariku bahasa Inggris. Zaman aku SD, di Bali belum ada les bahasa Inggris semacam Kelt, ILP, atau EF. Jadi mamaku mendaftarkan aku di berbagai kursus privat. Tiap ada guru yang oke, aku dileskan di guru itu. Terakhir, aku berguru pada seorang teman mamaku yang sampai sekarang masih mengajar adikku.

Rupanya guru terakhir ini sudah mewariskan dasar yang sangat mantap untuk bahasa Inggrisku. Dasarnya logikaku yang paling jalan juga logika berbahasa. Nilai pelajaran yang paling bagus selalu bahasa (kecuali bahasa daerah). Aku juga selalu cepat dalam mengerjakan soal logika bahasa. Mulai dari tes IQ, TOEFL, sampai recruitment test. Beda sama soal matematika dan logika visual. Jadi, pas SMP-SMA di Surabaya aku nggak pernah les Inggris lagi. Cuma sekali les di EF, masuk level 4 dan pas lulus nilaiku memungkinkan untuk loncat ke level 6. Tapi dasar diriku pemalas (plus ga tega ngeliat biaya kursusnya yang selangit), aku nggak lanjut lagi dan mengandalkan sekolah serta belajar secara otodidak. Khusus buat TOEFL di awal kuliah, aku latihan beberapa bulan sebelumnya.

Pas kuliah, kemampuan bahasa Inggrisku naik drastis. Soalnya, banyak diktat yang pakai bahasa Inggris. Aku juga suka nonton acara TV yang berbahasa Inggris. Kuliah bahasa Inggris 3 kali. Ikut kelas yang pakai pengantar bahasa Inggris beberapa kali. Baca novel dan kadang Alkitab bahasa Inggris. Kalau lagi mood juga suka sok-sokan nulis posting di blog dengan bahasa Inggris (walau deg-degan, ni bener apa gak ya Inggrisnya). Jadilah skor TOEFLku di akhir kuliah mengalami peningkatan sebesar 82 poin dari sebelumnya.

Tapi, mungkin karena belajarnya secara otodidak, aku nggak begitu hapal teori-teori bahasa Inggris. Contoh, tenses ada berapa, namanya apa aja, aku nggak ingat. Kenapa kok harus pakai kata hubung ini, kenapa kata ini salah, aku nggak bisa jawab alasannya. Tapi jawabanku benar. Aneh kan? Logikanya sudah terasah otomatis kali ya. Walaupun bahasa Inggrisku masih jauh dari taraf perfect sih…. Ini yang bikin aku nggak sukses mengajar orang bahasa Inggris. Lebih mending kalau ditanyain soal statistik, analisis isi, atau semiotika.

Honestly, it makes me feeling guilty to my friend. Aku kurang bisa menjelaskan kenapa jawabannya a dan bukan b, misalnya. Jadi kita berdua sama-sama bingung pas belajar bareng kemarin. Ya sudah, sekarang aku hanya bisa berdoa semoga TOEFLnya kali ini berhasil. Dan kayaknya, aku udah give up kalau diminta ngajarin orang bahasa Inggris lagi. Dulu mamaku sempat menyindir, kenapa aku nggak kerja sampingan, jadi guru les Inggris. Nah, sekarang udah tau alasannya kan?

Nah, biar posting yang sekadar curhat ini jadi agak bermanfaat, aku mau ngasih tips ah, cara belajar bahasa Inggris ala Ria….

1. Ada yang salah deh sama kurikulum bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah kita. Buktinya masih banyak lulusan SMA yang bahasa Inggrisnya kacau. Jadi, jangan mengandalkan sekolah aja kalau mau mahir berbahasa Inggris. Pilihannya bisa les atau belajar otodidak.

2. Belajar bahasa Inggris otodidak bisa macam-macam caranya. Aku belajarnya dari buku-buku, kadang buku yang isinya English Fun Games. Tapi ada temanku yang belajar dari games PS. Bisa juga dengerin lagu bahasa Inggris, catat liriknya, cari kosakata yang tidak dimengerti di kamus. Banyak baca bacaan Inggris, yang simpel aja, misalnya blog (yang bahasa Inggrisnya terjamin baik dan benar, bukan blog yang pakai transtool sehingga bahasa Inggrisnya jadi aneh), koran, atau novel. Kalau ada kata yang tidak dimengerti, lanjut aja sampai selesai, nanti kalau penasaran banget baru dicari di kamus. Nonton film berbahasa Inggris tanpa cheating membaca terjemahannya. Kalau di rumah kamu ada TV kabel, pilih jenis program favorit yang berbahasa Inggris. Misalnya kalau suka berita gosip selebriti, tontonlah E!News.

3. Ada kekurangannya belajar otodidak yaitu kadang kurang ngerti teori dan kurang lancar di speaking. Nekat aja cari bule buat sparing partner speaking English. Kenapa bule? Karena mereka gak akan sok-sokan membenarkan bahasa Inggrismu yang salah. Yang penting sama-sama paham.

4. Gunakan Microsoft Word untuk mengetik tulisan berbahasa Inggris. Pastikan language yang aktif English (USA) ya. Jadi, kalau kita salah, dia bisa kasih saran untuk membenarkan. Atau kalau kosakata terbatas, manfaatkan thesaurus-nya untuk mencari sinonim. Kelemahannya, Word tidak menerima kata slang. Biasanya akan dianggap sebagai kata yang keliru.

5. Terakhir, kalau punya anak nanti, jangan malas ngajarin dia bahasa Inggris sejak kecil. Kalau nggak bisa ngajarin sendiri atau bahasa Inggris kamu pas-pasan, cari pasangan hidup yang Inggrisnya mahir, misalnya impor dari negara berbahasa Inggris. Atau didaftarkan di les yang bonafid.