Kemarin benar-benar hari yang sangat melelahkan -both physically and mentally. Cerita berawal sekitar pukul 12 siang ketika aku melihat mobil nganggur di rumah dan gatel pengen keluar. Hehehe, nggak juga sih, suplai bukuku memang sudah habis dan harus ke perpustakaan UK Petra tercinta. Akhirnya aku mengajak Lili temanku ke kampus bersama. Jadi aku menjemput dia di depan gang rumahnya di daerah Kenjeran.

Dasar buta jalan, aku malah nyasar. Sudah gitu yang lebih parah, pas nyasar, karena ga kenal medan, aku nggak lihat bahwa ada lampu merah. Pantas kok ada mobil lewat di depanku. Untung remku masih paten hehehe…. Tapi ya kaget abis, sampai-sampai buku yang aku letakkan di jok belakang berjatuhan. Untung ga celaka, aku ga henti-hentinya merapal doa syukur.

Intinya walau penuh perjuangan aku berhasil menjemput Lili dan tiba dengan selamat di kampus. Waktu aku sedang merapikan barang di loker perpustakaan, ada panggilan masuk di HPku. Dari Ferry, temanku. Ada angin apa ya dia telpon?

Ferry: Nogo. Kamu di mana?

Me (nada ceria) : Di kampus. Napa Fer?

Ferry : Go, Lista kecelakaan.

Me : HAH?? (saking banternya sampai dipelototin orang sekitar)

Ferry : Masuk UGD, di rumah sakit di Ketintang.

Me : *speechless, badan mulai lemas. berusaha menguasai diri biar ga pingsan di tempat -> parno mode is on, bayanganku UGD berarti keadaannya horrible abis*

Ferry : Tapi anaknya udah sadar, tangannya patah.

Me : Fiuh… *menarik napas lega, untung ga keburu pingsan*

Ferry : Kamu bisa ke sini sekarang?

Me : Bentar ya Fer, aku pinjam buku dulu, terus aku nyusul…. RS apa tho di Ketintang? *bego jalan mode is on*

Ferry : Wes pokoknya ini satu-satunya RS di daerah itu, kamu pasti nemu…

Langkah selanjutnya setelah mendengar kabar ini adalah menyebarkannya kepada teman-teman. Kata Daisy SMSku membara sekali sampai-sampai dia pikir keadaan Lista parah banget. Padahal aku cuma nulis mohon doa buat Lista yang baru kecelakaan dan tangannya patah.

Pas aku sedang dalam perjalanan menuju RS asing di Ketintang bersama Lili dan Daisy yang ikut bergabung, ternyata Ferry memberi kabar baru. Lista dirujuk ke RKZ. Thanks God deh, karena Daisy bilang Ketintang itu jalannya cukup sulit, hahaha….

Berhubung mereka masih baru berangkat dan kita sudah di A.Yani, dengan kecepatan menyetirku yang seperti siput pun pasti kita duluan yang sampai RKZ. Melihat toko buku Togamas dekat RKZ kita tergoda, maklum anak skripsi, mampir deh….

Gak lama Ferry telepon mengabarkan dia telah tiba di RKZ. Kita pun segera menyusul.

Pas sampai, Lista sedang mendapat pertolongan pertama. Anaknya masih bisa ketawa-ketawa. Jadi kita nyantai-nyantai karena kelihatannya ga parah. Yang sudah ada di RS adalah Ferry, Ronald, Mbak Riwu Wulan (sepupu Lista). Chris Surya dan Edwin akan menyusul.

Ternyata #1 RS asing di Ketintang itu ga memberi pertolongan apapun. Gini-gini aku dulu pernah ikut PMR pas SMP, setauku mestinya minimal dipasangin bidai biar ga bergeser tulangnya. Waduh…..

Ternyata #2 ngangkat korban patah tulang juga ngaco, bahkan Ferry dan Ronald, teman-teman yang pertama datang di sana, ikut ngebantu.

Ternyata #3 patah tulangnya ga cuma tangan dan bahu, tapi juga rusuk, terus jari tangannya ada yang harus dijahit juga.

Ternyata #4 setelah Lista diperiksa dan bajunya diganti, luka-lukanya dibersihkan. Gak kebayang sakitnya kayak apa. Lista yang selama ini kita kenal sebagai cewek pemberani menjerit-jerit karena ga tahan sakitnya. Kita semua pada miris, sampai di luar UGD pun kedengaran suaranya. Syeram bok!

Akhirnya Lista selesai dirawat dan akan segera dikamarkan. Kita diberi list nama dokter yang direkomendasikan untuk melakukan operasi. Harus milih dua dokter karena operasinya beda, buat tulang sendiri, rusuk sendiri. Setelah cari info sana-sini, award kehormatan buat operasi Lista goes to dokter Agus sama dokter Joko.

Sambil menunggu proses pemindahan kami memutuskan untuk makan dulu. Yang pergi makan adalah aku, Daisy, Lili, Edwin, Ferry dan Ronald. Mbak Wulan dan Chris minta dibungkusin. Kita memutuskan ke Kedungdoro untuk makan kwetiauw Apeng yang enak itu.

Dasar Ferry orangnya kalau ngomong aja mbulet, kalau nyetir juga sama. Biar aku kalau nyetir pelan juga bisa lebih cepat sampai Kedungdoro karena ga pake muter-muter kayak si Ferry. Tapi ya sudahlah, yang penting kita sampai, makan-makan, terus balik ke RS.

Masalah selanjutnya adalah jam bezuk sudah lewat dan petugas RKZ yang terkenal sadis soal jam bezuk ga ngizinin kita masuk. Apalagi Lista dirawat di kamar kelas tiga bersama dengan sekian banyak pasien lainnya. Kita ga berani langsung masukin ke kamar yang lebih bagus tingkatnya, biar nanti ortunya aja yang mutusin.

Karena anak-anak ngotot akhirnya cuma bisa masukin sekitar 2 orang aja. Nah, selanjutnya, kita bingung, siapa yang jagain Lista malam ini? Mbak Wulan besok harus kerja jadi ga bisa jaga. RKZ menyarankan ada yang jaga karena suster jaga terbatas. Di samping itu Ferry dengan bijak berkata bahwa malam ini malam pertamanya Lista di RS, dia pasti butuh dukungan moril yang sangat gede. Dijamin dia ga bakal bisa tidur karena panas dan sakit. Jadi harus ada yang bisa ngajak ngomong dan ngeladenin dia, misalnya ambilin minum, ngelapin keringat, intinya bikin dia merasa nyaman dan tidak sendirian.

Tadinya aku mau jagain dengan asumsi ga sendirian jaganya dan bisa bawa notebook sehingga bisa ngerjain skripsi. Tapi harus sendiri dan nggak bisa nge-charge. Wadawwww… ga bisa deh.

Semua opsi nama kita hubungi, karena harus cewek yang jaga. Kalau cowok ya boleh, tapi harus tunggu di luar. Dan kalau anaknya pengen pipis misalnya, ga mungkin kan diantar cowok?

Karena tidak ada jalan lain Edwinlah yang akhirnya jaga. Tentu kalau berkaitan sama kebutuhan cewek seperti ke toilet dia harus manggil suster. Tapi paling tidak Edwin dekat sama Lista dan nyambung juga obrolannya.

So, kita pulang dulu, Ferry ngantar Edwin mandi, aku ngantar Lili pulang dan ngambil jaket, autan, serta suplai makanan di rumah buat Edwin, juga minjemin Flexi buat Lista biar bisa dihubungi. Sampai rumah aku merasa ga sanggup ke RKZ lagi. Udah jauh, *bego jalan mode is on* taunya cuma jalan dari Petra ke RKZ, kalau dari rumah ke RKZ bingung (kan ga mungkin lewat jalan dari RKZ ke rumah, ga dua arah terus kan?). Apalagi demi meningkatkan keamanan hampir semua portal jalan menuju rumah ditutup dan aku super stres muter-muter. Akhirnya janjian ketemu sama Ferry dekat pom bensin untuk serah terima barang. Kasian abis deh si Ferry…..

Tiba di rumah menjelang pk.11.00 malam dalam keadaan belum mandi dan capek total. Biar nyetir matic tetap aja kakiku pegal. Aku masih sempat menghubungi teman-teman yang penasaran dengan kronologis kejadiannya.

Jadi ceritanya, kemarin adalah hari kedua Lista bekerja di sebuah perusahaan di Ketintang. Dia baru aja dibelikan sepeda motor oleh ortu, ga baru sih, karena papanya takut kalau baru nanti dia dicopet. Ternyata pakai sepeda motor second aja udah dicopet. Lista sedang dalam perjalanan mencari tempat makan siang pada saat tas yang digantungnya di setang sepeda dijambret. Sepeda motor oleng, Lista jatuh ke aspal. Begitu sadar dia sudah di the great honorable RS of Ketintang itu.

Berhubung HPnya ga ada, Lista cuma bisa nyebut nomornya Ferry waktu ditanya siapa yang bisa dihubungi di Surabaya. Lista ingat karena dulu pernah main game hapal-hapalan nomor HP sama Ferry. Oh iya, Lista anak rantau, aslinya dari Kalimantan, maminya di sana, sedangkan papinya kebetulan lagi ada kerja di Jakarta.

Untunglah Ferry lagi nganggur, belum masuk kerja (baru kerja akhir bulan ini nanti) dan bisa menyusul ke Ketintang. Ferry langsung menghubungi teman-teman Lista yang terdekat termasuk diriku. Dan selanjutnya, ya baca ulang di atas deh….

Aku mohon doa ya teman, biar Lista cepat pulih. Biar urusan sepeda motor yang ditahan di kepolisian bisa segera kelar. Biar operasinya lancar dan Lista ga takut menghadapinya.

By the way, ada hikmahnya juga loh kejadian ini….

1. Susah banget ngumpulin teman-teman lamaku yang seperjuangan di kongres mahasiswa itu. Ngajak reuni Sabtu kemarin aja yang datang cuma 9 orang. Tapi, begitu Lista kecelakaan, terjadi reuni deh di RKZ…. walaupun dengan kepanikan dan kekhawatiran. Aku sadar banget, persahabatan yang tulus di kota besar yang individualis itu nilainya priceless. Aku bersyukur punya teman-teman yang begitu baik dan saling peduli satu sama lain seperti saudara.

2. Ketemu juga sama maminya Lista yang selama ini cuma kenal dari cerita doang. Mirip abis deh sama anaknya. Tipe-tipe tough and wise woman gitu….

3. Semoga dengan kejadian ini Lista mempertimbangkan tawaran maminya untuk jadi PNS di Kalimantan saja, hihihi…. Minimal, semoga setelah ini Lista lebih berhati-hati lagi bepergian di Surabaya. Aku jadi ingat, terakhir ketemu Sabtu lalu dengan parnonya aku mengingatkan teman-temanku supaya hati-hati karena bulan-bulan ini tingkat kriminalitas lagi naik. Barusan teman kita Dini juga dicopet di jalan, kaca mobilnya dipecahin loh. Teman-teman juga hati-hati ya. Sekarang aku sangat membatasi keluar malam hari dan kalau bisa bepergian ke mana pun bareng teman.

4. *rada ga penting* Karena tulang rusuknya udah patah, semoga Lista segera menemukan ‘tulang rusuk’ dalam pengertian konotatif. Amin…..