Belakangan kalau lagi suntuk sama skripsi, aku suka nonton TV. Karena di rumah my grandma ini tersedia TV kabel, tentu saja saya dengan congkaknya jadi males nonton TV nasional apalagi lokal. Hahaha…. sebenarnya aku fleksibel sih, gak ada TV kabel juga oke, tapi mumpung ada ya ditonton. Lagipula banyak hal yang bisa dipelajari dari channel internasional. Dalam posting ini, aku mau membahas tentang acara kuliner, khususnya acara kulinernya Discovery Travel and Living (DTL).

Menurutku, rumah-rumah produksi yang menjual acaranya ke DTL benar-benar bisa membuat tayangan kuliner yang menarik dan menggiurkan. Cara-cara pengambilan gambarnya itu seperti cara pengambilan gambar pada iklan. Kadang gambarnya blur karena pakai manual focus, tapi tetap bisa kelihatan oke. Kameramennya berani banget mengambil gambar close up bahkan extreme close up. Jadi sampai buih-buih minyak goreng panas di penggorengan itu pun tertangkap kamera. It’s very splendid. Kebayang nggak sih, buih-buih minyak yang sehari-hari kita lihat biasa-biasa aja ternyata begitu cantik waktu ditampilkan memenuhi seluruh layar televisi? Pertanyaannya, kok bisa ya lensa kameranya nggak dipenuhi uap karena kepanasan? Mungkin ada alat khususnya deh. Aku saranin kameramen acara-acara masak di Indonesia belajar ke kameramen sono.

Yang menarik lagi, presenternya. Kalau aku amatin yah, channel luar negeri memang sangat menonjolkan aspek presenter. Di DTL juga gitu. Presenternya punya pribadi yang sangat kuat dan dominan. Jangan dibayangin semuanya cakep. Yang perempuan memang cantik-cantik sih, tapi ga dandan. Ga kayak presenter Indonesia yang bedaknya tebal-tebal dengan eye shadow, lipstik dan blush on yang kasat mata. Khusus tayangan kuliner, presenter ceweknya biasa banget. Ada yang ibu-ibu, agak gendut, meski wajahnya lumayan cantik sih. Sepertinya mereka lebih mementingkan pengetahuan si presenter tentang kuliner daripada tampangnya. Yang cowok juga gitu. Ada yang gendut, gundul lagi. Tapi memang dia tiada duanya karena berani mencicipi semua bizarre food di dunia. Mulai serangga-serangga sampai ular-ularan. Di salah satu iklan dia bilang kalau setiap budaya sudah kadung punya image buruk tentang makanan dari budaya lain yang nggak wajar dalam budayanya. Jadi kuncinya, ya buang jauh-jauh pikiran itu. Gila ya tuh orang, nekad abis. Ada lagi presenter acara jajan dan masak yang suaranya serak abis. Cowok, namanya Bobby Chin. Tapi biar serak tetap aja dia menarik banget ngebawain acaranya. Udah gitu presenter-presenter ini atraktif banget kalau masak, ga sampai kayak akrobat sih, tapi kelihatan trampil dan pro. Pokoknya ngomongin presenter DTL ga ada habisnya deh. Aku mau ngebahas ini di posting lain aja ya.

Selain aspek penyajian dan presenter, acara-acara kuliner DTL juga punya keunikan dalam hal cerita. Jadi kamu gak bakal bosen nontonnya karena meski sama-sama acara masak, tapi ceritanya beda. Ada yang namanya Surreal Gourmet. Di situ presenternya naik mobil van yang bentuknya kayak toaster, lengkap dengan roti yang menonjol di atas. Dia keliling bersama sekelompok orang yang bersepeda lintas alam. Nah, pas berhenti, dia masak dalam vannya buat orang-orang itu. Pernah suatu kali mereka menggelar pajamas party outdoor siang-siang. Jadi makannya di atas ranjang rame-rame,dengan piyama gitu. Jangan dibayangin nih presenter cakep dan terawat. Modelnya tuh awut-awutan banget, poninya bok…. kriting dan membumbung. Tapi memang dia bisa ngebawain acara itu dengan menarik.

Acara lain, Jamie At Home, bercerita tentang seorang cowok keren yang jago masak, Jamie Oliver. Dia sering masak di rumah, dan karena dia cowok, muda, gaul, kadang sambil nunggu masakannya matang dia main basket di luar. Lainnya lagi, Forever Summer with Nigella, bersetting di rumah pinggir pantai yang dihuni Mrs.Nigella. Nigella ini tipikal housewife banget deh. Dari badannya yang curvy, caranya pakai baju, dan ketrampilannya masak. So domestic goddess. Karena judulnya Forever Summer, masaknya ya yang ringan-ringan dan so summer. Yang aku suka Nigella ini sering ngasih tips-tips yang useful, seperti cara mudah memotong mangga.

Sebenarnya ada ruginya juga sih nonton acara kuliner DTL. Karena, ga seperti acara Indonesia, tidak ada teks yang menjelaskan bahan-bahan apa yang dipakai dan takarannya. Mereka jarang banget menyebutkan takaran, main feeling gitu. Apalagi, karena faktor budaya dan bahasa, kadang aku ga ngerti bahan apa yang dipakai. Daun-daunan jenis apa, misalnya. Mangga pun, mangganya sono berkulit kuning kemerahan, tidak seperti mangga kita yang hijau. Jadi, ya gak bisa dipraktekin, hiks….

Kalau acara kuliner TV kita sih, aku jarang ngikutin lagi sejak era keemasan Resep Oke Rudy telah berlalu. Tapi kalau aku boleh saran, sesekali kreatif dong. Masak kan nggak harus di studio yang diset seperti dapur. Bisa outdoor, di tempat wisata, atau tempat-tempat tak umum lainnya. Emang ada sih acara yang udah ga melulu di studio settingnya, menurutku itu bagus dan harus dipertahankan. Yang kedua, nggak usah terlalu bingung memperkenalkan bahannya satu-satu sebelum masak. Toh di akhir sesi biasanya ada teks yang menjelaskan ulang bahan-bahan itu. Sesekali mestinya lebih nonjolin seninya masak. Dan ya itu, ambil gambarnya yang berani! Acara-acara masak kita rata-rata pengambilan gambarnya gitu-gitu aja, dari depan, dari samping, kurang berani menurutku. Terakhir, presenternya ga perlu rapi-rapi, yang penting menarik! Presenter Indonesia menurutku terlalu rapi penampilannya, ketauan kalau dikit-dikit di-touch-up. Padahal presenter yang kacau balau kayak di DTL pun bisa keliatan asik karena punya pribadi yang kuat. Tapi mungkin karena budaya eastern kita dan memang acara masak di sini ditujukan buat ibu-ibu, jadi penampilannya gitu ya… kalau bisa diubah kayak DTL, pasti lebih seru. Anak muda pun akan menganggap masak itu keren, baik bagi cowok maupun cewek.

Sejauh ini, acara kuliner Indonesia favoritku ya tetap, Wisata Kulinernya Pak Bondan Winarno. Aku ngefans sama Pak Bondan karena dia presenter yang oke, ga kalah sama presenter luar. Kelihatan banget kalau orangnya cerdas dan menguasai materi, ga cuma soal kuliner tapi sampai sejarah dan budaya. Ini nih yang bikin Wisata Kuliner jadi beda. Yang paling hebat lagi, Pak Bondan selalu berhasil meyakinkan pemirsa bahwa makanan yang dicicipnya itu beneran enak. Dan sukses bikin orang yang nonton jadi laper. Dari segi cerita, WisKul juga cukup oke. Coba kalau Wisata Kuliner ini dikembangin lagi dari segi kamera, wah lebih sempurna tuh!

So readers, tell me, what’s your favourite culinary TV program?