Namanya tak pernah tercatat dalam lembaran Alkitab. Namun kisahnya akan selalu mengilhami siapa pun juga tentang makna iman, harapan, dan kasih. Perwira Romawi yang berhati mulia ini bahkan membuat Tuhan Yesus sendiri terkagum-kagum, hingga Dia menyatakan,”Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”.

Hari ini, aku membaca kembali kisah perwira yang mengagumkan ini. Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling aku sukai dalam Alkitab. Seorang perwira Romawi, yang begitu mengasihi hambanya, sehingga ia mengutus orang untuk memohon agar Yesus berkenan menyembuhkan hamba yang sedang sakit parah itu. Pada saat Yesus bergegas menuju rumahnya, ia berubah pikiran. Lewat sahabat-sahabatnya ia menyampaikan agar Yesus tidak perlu bertandang ke rumahnya. Cukup Tuhan katakan sepatah kata saja, maka ia yakin hambanya akan sembuh.


Aku lalu mempelajari lagi perikop ini dengan Alkitab edisi Pastoral Katolik (Alkitab dengan catatan kaki untuk membantu pendalaman iman). Perwira ini adalah orang Romawi, yang pada masa itu adalah penjajah di tanah Israel. Namun, ia bersahabat baik dengan orang Yahudi, bahkan membantu pembangunan tempat ibadah mereka. Bagaimanapun, ia tetap seorang kafir bagi bangsa Yahudi, sebab ia bukan bangsa yang terpilih. Karena itu, dia tidak berani mengajak Yesus bertamu ke rumahnya. Pada masa itu, bila seorang Yahudi masuk ke dalam rumah seorang bukan Yahudi (yang dianggap sebagai orang kafir), ia akan menajiskan dirinya. Ini pula yang menyebabkan orang Yahudi yang mengantar Yesus ke gedung pengadilan Roma memilih untuk menunggu di luar dan tidak ikut masuk ke dalam (Yohanes 8:28).

Begitu hormatnya perwira ini kepada Yesus, sehingga ia bahkan tidak berani berbicara langsung kepada-Nya, melainkan mengutus teman-teman Yahudinya untuk menemui Dia.Ada banyak hal yang aku pelajari dari sosok perwira ini. Pertama, kasihnya yang begitu besar. Bayangkan, hanya demi kesembuhan seorang hamba saja ia rela berusaha begitu keras. Hamba itu bahkan bukan bagian dari keluarganya. Kasih perwira ini menembus batas antara atasan dan bawahan, kasih yang tanpa syarat, kasih yang diajarkan Tuhan sendiri.

Kedua, ia memiliki harapan yang teguh. Melihat hambanya dalam sakratul maut, ia tidak lantas putus asa. Ia berharap bahwa hambanya akan sembuh melalui mujizat yang dibuat Yesus. Karena itu, ia berusaha mencari-cari Yesus.

Ketiga, imannya begitu kuat sehingga Tuhan terkesan. Kebanyakan orang minta agar Yesus benar-benar menyentuh mereka agar mereka sembuh. Tapi orang ini percaya bahwa hanya dengan sepatah kata saja pun Yesus mampu membuat mujizat, sekalipun Ia tidak pernah bertemu secara fisik dengan hamba perwira itu. Iman ini memang dilandasi oleh latar belakang militernya. Dalam tradisi kemiliteran, seorang komandan cukup memerintah dari jauh saja dan perintah itu akan terlaksana. Ia menganggap Yesus bak seorang komandan tinggi yang cukup mengatakan hambanya akan sembuh dari kejauhan dan itu akan terjadi. Ia tidak tahu bagaimana teknisnya sabda Yesus dapat menyembuhkan hambanya, tapi ia percaya mujizat akan terjadi. Kata-kata perwira inilah yang menginspirasi Gereja untuk menggunakannya sebagai doa singkat sebelum menerima komuni: “Tuhan, saya tidak layak Tuhan datang kepada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Perikop ini juga menyadarkan aku bahwa Tuhan Yesus tidak pernah pilih kasih. Keselamatan yang diwartakan-Nya adalah untuk semua orang, tanpa memandang latar belakang mereka. Ia mau membuat mujizat bagi seorang perwira non-Yahudi karena Ia melihat iman, pengharapan, dan kasih perwira itu. Tuhan berkenan pada manusia yang percaya kepada-Nya.

Di akhir refleksiku hari ini, terselip sebuah harapan di hati: semoga dalam perjalanan hidupku, aku tak pernah lupa akan kebesaran Tuhan, seperti yang ditunjukkan perwira Romawi itu. Semoga apapun masalah yang kualami dalam hidup, aku tetap memiliki iman dan harapan yang cukup besar untuk menyadari bahwa Tuhan berkuasa atas segala masalah tersebut. Semoga aku dimampukan untuk mengasihi sesamaku seperti kasih perwira itu kepada hambanya…..

NB: Dan semoga saat teduhku yang mulai bolong-bolong ini bisa kutambal dengan baik kembali….