“Aku ingin punya rumah, meski kecil,

agar bisa kurindukan saat aku merasa lelah…..”

Dalam kepercayaan Cina, orang yang meninggal harus dimakamkan di kampung halamannya sendiri. Lantas bagaimana kalau seseorang meninggal di perantauan? Ide dasar ini dikembangkan sutradara Zhang Yang menjadi sebuah cerita film yang menarik berjudul “Getting Home” atau dalam judul aslinya “Luo Yi Guo Gen” (falling leaves return to its root, jadi teringat post yang ini….)

http://www.beyondhollywood.com/getting-home-2007-movie-review/

Dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini, penonton diajak mengikuti perjalanan Zhao, seorang pria separuh baya, yang berusaha mengantar jenazah Lu, teman baiknya, ke kampung halaman. Lu meninggal pada saat minum-minum seusai kerja. Karena tidak meninggal di tempat kerja, bosnya hanya memberi uang seadanya, bukan pesangon. Untuk mengurangi kerepotan, bos tersebut berencana mengkremasi jenazah Lu. Namun Zhao menampik niat tersebut, karena ia ingin keluarga Lu yang tidak dapat dihubungi dapat melihat jenazah ayahnya.

Berbekal uang seadanya, Zhao menumpang bis umum menuju Chongqing, kampung halaman Lu yang berjarak ribuan mil. Tentu dia menggunakan siasat tersendiri agar tidak ketahuan membawa mayat di dalam bis umum. Zhao memperlakukan Lu sebagai orang yang masih hidup, dan sedang ketiduran karena mabuk. Apes, di perjalanan bis tersebut dibajak. Si pembajak ingin mengambil uang 5000 RMB yang disimpan di kantong baju Lu. Terpaksa Zhao menceritakan kejadian sebenarnya. Kisah ini membuat pembajak itu sangat terharu sehingga dia menyerahkan seluruh rampokannya kepada Zhao dan melarang penumpang lain mengambil kembali uangnya.

Tapi, manusia memang egois. Bukannya berterima kasih karena Zhao telah menyelamatkan mereka, penumpang bis malah mengambil kembali uangnya, bahkan meminta sopir mengembalikan ongkos bis dengan alasan bis itu memuat mayat. Terpaksalah Zhao diturunkan di pinggir jalan bersama jenazah Lu. 

Maka, perjalanan selanjutnya dilalui Zhao dengan susah payah. Uangnya dirampas saat dia tertidur di peristirahatan bersama para pengemudi truk. Dia menumpang truk yang pengemudinya ternyata sedang patah hati. Kemudian dia berpapasan dengan rombongan pengiring jenazah. Demi mendapat makanan, Zhao akhirnya ikut melayat. Saat dia sedang melahap makanan yang disajikan, tiba-tiba orang tua yang tadinya berbaring di peti mati itu menyapanya.

Ternyata orang tua itu hanya pura-pura mengadakan upacara penguburan bagi dirinya untuk merasakan suasana ramai, karena dia tak punya sanak saudara. Ia bahkan harus membayar orang untuk meratapinya. Ia salut pada Zhao, yang meski tidak mengenalnya dan tidak dibayar, bisa meratap begitu sedih. Zhao kemudian menceritakan kisah perjalanannya. Dari situ ia kemudian dibekali dengan pengawet jenazah dan gerobak.

Dalam perhentian selanjutnya, Zhao bertemu seorang pria muda yang berusaha bersepeda ke Tibet demi mencapai suatu pencapaian dalam hidupnya. Akibat kondisi jalan yang parah, gerobaknya rusak. Di saat dia kehabisan cara membawa jenazah itu, dia menemukan uang cukup banyak di dalam sepatu Lu. Ia ingin menyewa truk, tapi ia terlanjur ditipu pemilik restoran sehingga harus menghabiskan uang itu untuk membayar makanan yang dimakannya. Belum cukup sengsara, rupanya uang itu palsu. Si pemilik restoran pun memerintahkan centeng-centengnya untuk menggebuki Zhao.

Zhao putus asa. Ia menggali liang kubur untuk Lu. Ketika berbaring di dalamnya untuk mengukur panjangnya, ia merasa kuburan itu cocok untuknya. Ia bermaksud bunuh diri dalam satu liang kubur bersama Lu. Karena ketakutan, batu yang digunakannya untuk bunuh diri malah menghantam punggung, bukan kepala seperti direncanakannya. Zhao jatuh tersungkur.

Saat bangun, ia berada di rumah seorang peternak lebah. Dari istri peternak itu, Zhao belajar untuk tidak cepat putus asa. Dia melanjutkan perjalanannya. Tiba di sebuah kota, Zhao bermaksud mendonorkan darahnya secara ilegal untuk mendapat uang. Tempat itu digerebek dan Zhao digiring ke pusat pelayanan bagi gelandangan. Di situ ia bertemu seorang janda yang berjuang menyekolahkan putranya hingga ke perguruan tinggi, tetapi putranya itu malu mengakui ibunya. Zhao berjanji akan menikahi perempuan itu saat ia kembali, tapi ia lupa menyimpan alamatnya.

Perjalanan Zhao menjadi semakin sulit. Dia nekad menerobos daerah tanah longsor untuk mencapai Chongqing. Zhao pingsan dan ditolong polisi. Polisi itu mau mengantarkannya menuju Chongqing, dengan syarat jenazah Lu harus dikremasi dulu.

Apakah Zhao bersedia mengkremasi jenazah Lu? Berhasilkah dia menemui keluarga Lu? Sepertinya, cukup sampai di sini saya bertutur. Lebih asyik bila anda menonton filmnya sendiri.

Getir. Itulah kesan saya saat menonton film ini. Film ini sejatinya dimaksudkan sebagai komedi satir, dan memang, ia berhasil membuat saya tersenyum sesekali melihat kekonyolan Zhao ataupun orang yang ditemuinya di perjalanan. Namun tetap saja, getir. Dengan sukses film ini mengingatkan bahwa di zaman modern seperti sekarang ini, harga sebuah janji, persahabatan, rumah dan keluarga sangatlah mahal.

Karakter-karakter yang ditampilkan sangat kuat sekalipun kemunculannya mungkin hanya sebentar-sebentar. Sosok Zhao begitu memikat dengan keluguan khas orang kampung. Setting film ini juga sungguh menakjubkan. Keelokan alam Cina diperlihatkan dengan apik. Musik latarnya bisa mengantar penonton merasakan perasaan para tokohnya. Beberapa adegan dihiasi pula dengan nyanyian atau senandung Zhao. Ada sebuah lagu yang saya kenali sebagai lagu yang dipopulerkan oleh mendiang Teresa Teng, penyanyi klasik Cina.

Tapi, kekuatan terbesar film ini adalah dialog-dialognya yang sederhana, tapi dengan cerdas memuat pesan moral tanpa harus menggurui. Film ini juga cukup mudah dicerna sehingga tidak berkesan berat, meski mengangkat tema kemanusiaan. Tidak heran bila film ini meraih penghargaan Panorama Prize of the Ecumenical Jury di ajang Berlin International Film Festival.