Satu lagi tokoh besar bangsa Indonesia berpulang. Seorang sejarawan yang membuat anak cucu kita tak akan lupa pada akarnya. Seorang penulis yang mendidik bangsa lewat buah penanya. Selamat jalan ya Kong Hok Ham. Terima kasih telah menuliskan perjalanan sejarah bangsa ini dengan begitu rapi. Namamu akan terpatri dalam skripsiku, terutama dalam daftar pustaka.

Berikut berita meninggalnya Ong Hok Ham sebagaimana ditulis dalam Jawa Pos edisi  Jumat, 31 Agustus 2007.
Sejarawan Ong Hok Ham Tutup Usia

JAKARTA – Ong Hok Ham, sejarawan terkemuka Indonesia, meninggal dunia kemarin petang. Pak Ong -panggilan akrab Ong Hok Ham- tutup usia pada umur 74 tahun setelah berjuang melawan penyakit stroke yang dideritanya sejak 2001.

Bambang, keponakan mendiang, menuturkan bahwa Pak Ong meninggal pada pukul 18.00 di kediamannya, kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur. Oleh keluarga, jasad doktor sejarah lulusan Yale University, Amerika Serikat, itu dibawa ke RS Mitra Keluarga untuk divisum. Sampai berita ini diturunkan pada pukul 24.00, jasad Pak Ong masih disemayamkan di ruang jenazah RS Dharmais. Direncanakan, jenazah mendiang akan dibawa ke rumah persemayaman Dharmais No E dan F, Jalan S. Parman, Slipi, sekitar pukul 11.00.

Saat wartawan koran ini mendatangi rumah Pak Ong di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, tadi malam, keadaan sepi. Hanya ada beberapa tetangga dan keluarga dekatnya.

Penyakit stroke memang memaksa Pak Ong beraktivitas di atas kursi roda sebelum meninggal. Saat wartawan koran ini, Ridlwan Habib, berkunjung ke rumahnya akhir tahun lalu, Ong Hok Ham tak terlihat patah semangat. Meskipun tubuhnya terlihat kurus, ilmuwan kelahiran Surabaya itu masih aktif menulis dan menjadi jujukan para peneliti dan sejarawan muda. “Saya masih menulis, baca buku, baca koran, dan melayani wawancara,” kata Pak Ong saat ditanya tentang aktifitasnya saat itu.
Dosen ilmu sejarah Universitas Indonesia yang pensiun pada 1989 itu masih aktif melayani peneliti dan mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya. Setiap hari ada saja bekas mahasiswa mulai angkatan 1978 hingga 1990 yang menjenguk.

Selain itu, penulis buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa itu juga masih antusias mengikuti perkembangan berita aktual di masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru saja disahkan tahun lalu. “Itu bukan sebuah terobosan baru, seharusnya sejak dulu. Prinsipnya ius soli, berdasar tempat lahir. Bukan darah, bukan keturunan,” katanya. Pak Ong memang paham benar soal diskriminasi. Panjang jalan sudah dilalui anak pertama Ny Tan Siang Tjia itu sebelum akhirnya tumbuh menjadi sejarawan dengan spesialisasi sejarah Jawa sekitar abad ke-19.

Menyelesaikan pendidikan di HBS Surabaya, Ong melanjutkan ke SMA di Bandung. Singgah sebentar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Ong muda pindah ke Fakultas Sastra, masuk Jurusan Sejarah dan selesai pada 1968. Gelar doktor diraihnya pada 1975 dengan disertasi berjudul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century.

Sifat ulet dan bersemangat Pak Ong diakui murid dan koleganya. Salah satunya adalah Andi Achdian. Kandidat doktor di Universitas Nottingham itu mengaku salut dengan komitmen mendiang gurunya dalam menjelaskan sejarah. “Bapak selalu memulai dengan bertanya apa amarahmu terhadap masalah ini,” katanya. Ong, kata Andi, juga kurang suka unggah-ungguh yang formal dan birokratis. “Kami tidak pernah dianggap murid, tapi teman,” tambahnya.

Menurut Andi, yang paling unik adalah keahlian Ong mengenal karakter orang. “Bapak bisa mengenal watak orang dengan hanya melihat matanya. Tiba-tiba, dia sudah bilang orang ini pemberani atau pengecut, orang ini jujur atau tidak. Ini bagi saya luar biasa,” katanya.

Untuk mengenang ketokohan Ong Hok Ham, Andi dan beberapa kawannya berencana mendirikan Ong Hok Ham Institute. Lembaga ini diharapkan menjadi learning centre (pusat pembelajaran) yang terbuka bagi siapa saja. (rdl/yun)

dan ini berita dari Kompas…

Ong Hok Ham
Sang Pencinta Kehidupan Itu Telah Pergi…

Mulyawan Karim

Suatu akhir pekan, 1986. Ong Hok Ham mengundang makan malam di rumahnya di Cipinang Muara, Jakarta Timur. Sabtu malam itu juga hadir Wahyono, arkeolog yang bekerja di Museum Nasional, dan Hadi Purnomo, pembuat film dokumenter.

Ong yang gemar memasak menyiapkan sendiri hidangan nasi ayam hainan yang disajikan. Setelah kenyang, kami lantas mengobrol ngalor-ngidul sampai menjelang tengah malam, sambil menghabiskan sebotol anggur merah Bordeaux.

Pesta dan makan enak adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dari Pak Ong, begitu sapaan akrab bagi laki-laki tambun, berkepala gundul-licin, dan berkacamata tebal itu. Ia senang mengundang sahabat-sahabatnya untuk sekalian membanggakan rumah gaya etniknya yang asri, hasil rancangan arsitek kondang Adi Mursid.

“Saya ini pencinta hidup. Ibu saya yang mengajarkan untuk menikmati hidup dan makan enak,” kata Pak Ong setengah bercanda di teras rumahnya, malam itu.

Karena alasan sama, Pak Ong pun dikenal rajin bersosialisasi. Ia sering menghadiri undangan resepsi dan pesta yang diselenggarakan warga kelas atas Jakarta, termasuk para duta besar negara sahabat.

Kini, tak bakal ada lagi undangan makan malam dari Pak Ong. Doktor sejarah lulusan Yale University, Amerika Serikat, itu wafat Kamis lalu, pukul 18.10 WIB, pada usia 74 tahun, sejak setelah terserang stroke pada 2001 saat hadir di sebuah seminar di Yogyakarta. Sejak itu, Pak Ong yang kelahiran Surabaya, 1 Mei 1933, nyaris tak pernah lepas dari kursi rodanya.

Di kursi rodanya pula Pak Ong mengakhiri hidup. “Sore itu Bapak sebetulnya kelihatan sehat. Sekitar pukul 17.30, ia makan malam sendiri,” kata Andre (21), pembantunya. “Akan tetapi, waktu saya mendatanginya lagi pada sekitar pukul 18.00, Bapak sudah tidak bergerak,” katanya lagi. Cerita sama diceritakan Bambang (35), pemuda lain yang juga tinggal bersama Pak Ong.

Pak Ong yang hidup membujang lalu dilarikan ke RS Mitra Internasional, Kampung Melayu, Jakarta Timur, tempat ia dinyatakan resmi meninggal dunia pada pukul 18.10 WIB. Seorang sahabat lain lalu membawa jenazahnya ke RS Dharmais, Jalan S Parman, Jakarta Barat.

Kabar wafatnya sejarawan yang dikenal produktif menulis buku dan artikel di surat kabar, termasuk Kompas, itu langsung menyebar. Salah satunya, pesan singkat yang berasal dari Mona Lohanda, doktor sejarah yang mantan mahasiswa Pak Ong di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

“Kami berduka atas wafatnya beliau,” kata Susanto Zuhdi, mantan murid Pak Ong yang kini sudah bergelar profesor doktor. Susanto menyayangkan, sebagai pegawai negeri Pak Ong cuma mencapai pangkat III B atau III C yang sudah harus pensiun pada usia 55 tahun pada 1988 dengan uang pensiun tak lebih dari Rp 1,5 juta. “Padahal, ia seharusnya bisa mencapai pangkat lebih tinggi, jadi guru besar, dan baru pensiun pada usia 65.”

Laksmi Himawanti yang pernah berguru kepada Pak Ong pada 1980-an juga ikut sedih. “Pak Ong itu dosen yang hebat, tapi kocak. Kami dulu suka menyebutnya Ongtje,” kenang Laksmi yang kini pegawai kantoran.

“Pak Ong itu sejarawan yang unik. Tidak ada duanya. Pemahamannya tentang sejarah sosial sangat luas. Beliau juga piawai membandingkan sejarah Indonesia dengan sejarah bangsa-bangsa lain, seperti Vietnam dan Eropa,” papar Khairul, juga mantan mahasiswa Pak Ong.

Kepada mantan mahasiswanya yang lain lagi, Herwin Sumarda, Pak Ong pernah berpesan, jika ia meninggal, jenazahnya agar diurus secara orang China. “Dia minta dikremasi dan abu jenazahnya dibagi tiga. Sebagian ditabur di laut, sebagian lagi disimpan di rumah abu, dan sisanya disimpan di bio atau kelenteng,” kata Herwin (49) yang kini jadi pengusaha.

Menurut Hudiana (55), salah seorang keponakannya, rencananya jenazah Pak Ong akan dikremasikan di tempat kremasi Oasis di Tangerang, Senin depan, pukul 09.00 WIB. Ia menambahkan, pihak keluarga belum membicarakan soal nasib rumah, koleksi buku, dan harta peninggalan lain Pak Ong.

Perjalanan panjang Sang Pencinta Kehidupan berakhir sudah. Selamat jalan Pak Ong….