Mbak Luna yang cantik :)Kaget banget waktu membaca pernyataan Luna Maya di sebuah tabloid bahwa dia nggak puas dengan bentuk tubuhnya. Katanya, pinggulnya gampang sekali membesar. Padahal ya, menurutku nggak ada yang salah sama pinggul besar. Malah konon pinggul besar memudahkan proses persalinan secara alami. Makanya mamaku yang pinggulnya sempit terpaksa di-caesar.

Aku jadi ingat, beberapa tahun yang lalu, aku pernah bercanda, bilang sama seorang temen cowokku kalau aku pengen fitness biar bisa kayak Luna Maya. Temenku dengan pandangan meremehkan menyahut bahwa kalau aku pengen seperti Luna, mungkin aku harus fitness 24 jam per hari. Bagi kita, bodi Luna itu ideal banget. Nggak terlalu kurus, cukup curvy, nggak terlalu berotot, pokoknya oke lah! Apalagi dia tinggi, jadi nilainya nambah. Punya badan sesempurna itu masih nggak puas aja? Terus mau badan kayak gimana lagi Mbak Luna????

Yeah, it’s all about body image I think. Sesempurna-sempurnanya bentuk tubuh seorang cewek, ketika dia nggak bisa menghargainya, ketika dia nggak punya body image positif, dia nggak akan pernah puas. Sebaliknya, segembrot-gembrotnya cewek, kalau dia tetap memandang dirinya oke dengan penampilan seperti itu, dia akan fine dengan badannya (tapi ini bukan alasan untuk tidak usaha menurunkan berat badan lho ya, gemuk kan bisa jadi nggak sehat).

Apakah salah kalau cewek pengen lebih kurus, punya pinggang lebih ramping, lengan lebih kencang, atau kaki lebih jenjang? Nggak salah, menurutku. Menjadi cantik itu naluri seorang perempuan. Bukan sekadar karena ingin menarik perhatian laki-laki. Seorang cewek pasti merasa percaya diri dan nyaman kalau rambutnya lagi bagus-bagusnya setelah dipotong, kulit lagi mulus setelah facial, atau pas badan lagi singset. Tapi apakah dia harus merasa minder, nggak mau ketemu orang, atau BT hanya karena berat badan yang naik beberapa kilo, lagi jerawatan, atau bad hair day? Tentunya nggak kan! Aku yakin cowok-cowok juga akan lebih nyaman bersama cewek yang penampilan fisiknya nggak sempurna tapi nyambung, enak diajak ngobrol, dan menyenangkan, daripada sama cewek yang super cantik tapi tulalit dan nyebelin. Ini beneran loh. Aku punya temen cowok yang lumayan cakep. Tapi dia nggak pernah naksir cewek karena kecantikan luarnya. Yang dia lihat adalah inner beauty cewek itu. Baca juga bagaimana pandangan A.Fatih Syuhud soal kecantikan perempuan berubah seiring waktu.

Selain itu, apa untuk mencapai kecantikan yang diinginkan itu kita sampai harus berkorban begitu jauh? Udah berapa cewek yang menderita bahkan kehilangan nyawa akibat eating disorder yang pangkalnya dari keinginan memiliki tubuh sempurna. Atau berapa cewek yang bela-belain bedah kosmetik tetapi malah mendapat hasil di luar harapan? Menurutku, yang make sense aja deh. Sakit-sakit dikit pas facial masih bisa ditolerir. Capek dikit berolahraga juga nggak apa-apa. Tapi kalau sampai BT seharian akibat menahan lapar karena diet nggak sehat, what for? Bisa-bisa biar badan kita oke, teman-teman pada menjauh karena kita nggak asyik lagi. Atau buat apa ngeluarin duit jutaan untuk bedan kosmetik yang tidak esensial? Mendingan juga ditabung, bisa buat bayar kuliah (jadi tambah pinter), beli buku selemari (jadi tambah pinter juga), nyumbang ke orang miskin (wow, inner beauty terpancar), atau ikut kursus yang berguna (jadi terampil).

So girls, mau lebih cantik itu wajar. Tapi bukan berarti kita lantas tidak puas terhadap diri kita. Yang paling penting adalah gimana kita memandang diri kita sendiri oke dulu. Orang nanti pasti mengikuti. Aku juga percaya kalau ada kebaikan hati yang terpancar dari dalam diri kita, biar udah keriput kita pasti tetap terlihat cantik. Contohlah, Mother Theresa, di usia senja pun beliau tetap terlihat seperti malaikat bagi orang-orang yang ditolongnya.

Lantas, bagaimana dengan Mbak Luna Maya? Syukurlah, di akhir artikel, dia bilang, yang penting punya rasa percaya diri. Jadi sekarang dia tidak terlalu memusingkan penampilan atau menggunakan cara-cara tak sehat untuk menyempurnakan penampilan. Horee!!!