Jangan tanya ini apaan. Jangan tanya siapa yang nulis. Baca aja. Bagus apa enggak? Trus, kasih comment….🙂

Putus

 

            “Kamu nggak akan ninggalin aku kan, Dave? Janji yah!” rajuknya manja.

            Winnie, gadis 17 tahun itu, memandang tepat ke bola mataku. Pandangan mata yang begitu polos, begitu tulus, tapi begitu… membuatku jengah. Entah bagaimana dia selalu bisa langsung menghujam bola mata ini setiap kali ia menatapku.

            “Sabtu besok ada film bagus di bioskop. Kita nonton bareng ya? Sudah lama kita nggak nonton berdua,” belum sempat aku menjawab, dia sudah membicarakan yang lain.

            “Nanti Winnie pakai baju warna pink. Kamu kan paling senang liat cewek yang pakai baju warna pink. Jadi kamu harus liat Winnie terus, nggak boleh lirik kanan-kiri…” sekarang ia malah sibuk mempersiapkan penampilannya.

            Winnie. Gadis yang kupacari sejak dua tahun yang lalu. Aku masih ingat betul saat-saat pertama kami bertemu di jembatan yang menghubungkan gedung sekolah dan laboratorium. Saat itu aku tidak sengaja menginjak kakinya.

            “Auch!” pekik Winnie.

            Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Dia sudah terduduk di lantai, memegangi kaki kirinya.

            “Maaf,” kataku.

            “Maaf gimana? Kamu nggak tau yah, kemarin baru aja aku lepas plester dari jempol kakiku. Sekarang kamu injak lagi. Sakit tau nggak? Kayaknya keseleo nih,” dia membuka sepatu dan kaos kakinya.

            Jempol mungil itu membiru. Aku jadi makin tidak enak hati.

            “Eh, ngapain liat-liat doang? Aku nggak bisa jalan nih, bantuin kek,”perintahnya.

            Dengan hati-hati aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ketika tangan kami bersentuhan, ada getaran aneh yang kurasakan. Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dia balas menatapku. Untuk beberapa detik kami bertatapan. Mungkin, saat itulah kami saling jatuh cinta.

            Yang jelas sejak kejadian itu kami jadi akrab. Mulanya kami hanya berkirim sms atau menelepon, lalu aku mulai berani mengajaknya kencan yang berakhir dengan diterimanya pernyataan cintaku.

            Winnie gadis yang manis. Sikapnya begitu natural dan spontan. Hubungan kami diwarnai dengan kejutan-kejutan yang selalu baru. Tapi sekarang….

            “Dave!” panggilnya riang,”Jangan bengong aja dong! Anterin Winnie pulang yah! Atau kamu mau ajak Winnie jalan-jalan dulu? Kita main bowling yuk…”

            Aku hanya diam. Kupandang mata bulatnya, rambutnya yang berkibar ditiup angin. Aku ingat, dulu aku yang menyuruhnya memanjangkan rambut.

            “Dave, Winnie pengen potong rambut nih! Boleh nggak?”

            “Win,” bisikku seraya mengelus rambutnya yang waktu itu masih sebahu,”Aku suka rambutmu yang lembut, halus, dan wangi. Kamu tambah cantik kalo rambutmu dipanjangin.”

            Seketika wajah putihnya memerah. Memang begitu reaksi Winnie bila kupuji, dan itulah salah satu hal yang paling aku sukai darinya.

            “Tapi main bowling bikin capek yah!”dia berceloteh lagi, membuyarkan lamunanku tentang rambutnya,”Gimana kalo ngobrol-ngobrol aja di rumah? Nanti Winnie mainin lagu kesukaan kita…”Ia mulai menyenandungkan lagu kebangsaan kami.

            Kami sama-sama suka biola. Bedanya, aku hanya bisa mendengarkan sedangkan Winnie begitu piawai memainkan alat musik itu. Ia memang bercita-cita untuk menjadi violis handal. Selain sama-sama menyukai biola, kami juga sama-sama menyukai lagu-lagu melankolis. ‘Kasih Tak Sampai’, sebuah lagu dari Padi adalah lagu favorit kami berdua. Kami sering menyanyikan lagu itu dengan iringan biola Winnie sambil berpura-pura sedih untuk menghayati isi lagu tersebut. Tak kusangka, kini lagu itu sungguh-sungguh terjadi dalam hubungan kami.  

            “Dave!” panggilnya lagi,”Jawab dong! Kok dari tadi diem terus? Kamu marah sama Winnie ya?”

            Ah… itulah Winnie. Bila aku tidak menanggapi ocehannya, dia selalu menyangka aku marah. Padahal aku nyaris tidak pernah marah kepadanya. Berada di dekatnya selalu membuatku lupa bagaimana caranya marah. Aku terlalu menyayanginya, dan aku tidak pernah ingin menyakitinya. Tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Sudah terlalu lama dia berada dalam ketidakpastian ini. Aku harus…. putus dengannya.

            “Dave! Jawab dong!”

            “Winnie,” akhirnya aku bersuara,”Maafkan aku. Aku sayang kamu, dan perasaan ini nggak pernah berubah sampai sekarang. Tapi sekarang kita sudah nggak bisa bersama lagi…”

            Air mata yang paling kubenci itu mulai mengalir dari pelupuk matanya. Bibir mungil itu menjerit,” Kenapa Dave? Kenapa???”

            Sambil menegarkan hati, aku melanjutkan,”Karena terlalu banyak perbedaan di antara kita. Aku tidak bisa masuk ke duniamu seperti halnya kamu tidak bisa masuk ke dalam duniaku. Maafkan aku… ini bukan keinginanku…”

            “Dave! Jangan pergi!”

            Aku menatapnya dalam-dalam. Kuharap ini yang terakhir kalinya ia menemuiku. Sudah setahun ini ia setia menunggu terwujudnya harapan yang semu. Di antara mimpi dan realita. Kami berdua telah membohongi diri kami sendiri, hanya karena takut menerima kenyataan. Kami menutupi kenyataan yang pahit dengan mimpi-mimpi yang manis. Padahal kami berdua sama-sama tahu, mimpi itu tak akan pernah menjadi nyata…

            “Winnie, carilah cowok lain, yang bisa selalu menjaga dan menyayangimu lebih dari aku. Cowok yang dunianya sama dengan duniamu. Lupakan aku…” akhirnya kata-kata itu aku ucapkan, walaupun aku tak yakin ia bisa mendengarku.

            Ketika tubuhku terasa begitu ringan, saat itulah kubuat langkah terberat dalam hidupku. Langkah untuk meninggalkannya. Dalam benakku kenangan-kenangan manis itu hadir satu persatu. Kenangan-kenangan yang tak akan mungkin terulang kembali.

            Sejenak aku menoleh ke belakang, memandang wajahnya yang sedih. Ingin rasanya aku berlari kembali, menyeka air matanya dan memeluknya erat-erat. Tapi itu semua tak bisa aku lakukan. Melihatnya dalam keadaan begini saja sudah membuatku sakit… sakit sekali. Aku sadar dia merasakan sakit yang sama, bahkan mungkin jauh lebih dalam.

Seorang teman pernah mengatakan padaku bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak lebih sakit dibandingkan dengan cinta yang berbalas tapi tak bisa bersatu. Dulu aku sering mengejeknya sok romantis. Tapi sekarang, aku benar-benar tahu makna kata-kata itu. Setidaknya bila cintaku bertepuk sebelah tangan, hanya aku sendiri yang merasakan sakitnya. Sementara sekarang, kami berdua sama-sama terluka. Luka yang entah kapan baru bisa pulih.

            “Winnie,” batinku,”Semoga kamu selalu bahagia. Aku harap kamu mendapatkan cinta yang sejati, yang tidak akan meninggalkanmu seperti aku.”

            Angin sore berhembus semilir, mengalirkan langkah kaki menuju tempatku yang sesungguhnya. Dengan mata nanar aku menatap pemandangan di hadapanku, yang semakin lama semakin kabur….

            Dia masih ada di sana, memeluk batu bisu itu.

DAVE

7 Januari 1986 – 5 April 2004