Another story about my healthy life….  

Sekarang aku jadi seorang yogi. Alias orang yang melakukan yoga.  

Atas saran seorang dokter, aku harus melakukan olahraga ringan. Artinya bukan aerobik (walaupun aku lumayan suka aerobik). Atau basket (olahragaku waktu SMP). Apalagi beladiri (dulu pernah belajar pas SD-SMP, sayangnya nggak berlanjut gara-gara cidera kaki cukup lama, huhuhu… masih terobsesi pengen bisa salah satu jenis beladiri nih).   

So, menurutku yoga cukup aman dan ringan. Apalagi untuk orang yang sudah lama nggak olahraga seperti aku. Sejak kuliah, di mana tidak ada mata kuliah pendidikan kesegaran jasmani, aku hampir nggak pernah olahraga. Kecuali kalau naik turun tangga, lari biar nggak telat, dan bersih-bersih rumah bisa dikategorikan sebagai olahraga.

 Padahal, dekat rumahku ada pusat kebugaran super lengkap. Mulai dari fitness center, swimming pool, squash court, sauna, steam, aerobic class, yoga class, ada di dalamnya. Dari dulu aku nggak mau jadi member karena takut rugi, udah bayar mahal tapi jarang olahraga ke sana. Yeah, sekarang aku harus nyerah.   

Untungnya ada diskon khusus pelajar dan mahasiswa, dan tambahan diskon untuk mahasiswa Petra. Yeah, setelah sekian lama aku menabung di UK.Petra, akhirnya baru menjelang lulus aku merasakan manfaat menjadi mahasiswa Petra (Kenapa nggak gratis sekalian sih? Kalau gratis udah dari dulu aku rajin olahraga dan nggak bakal terserang penyakit aneh-aneh! =p)  

Singkatnya, suatu sore aku mengikuti kelas yogaku yang pertama. Bersama adikku dan saudara nenekku. Instrukturnya cewek, orangnya baikkk banget. Suaranya merdu dan menenangkan hati.  Ruang yoganya juga cukup oke. Private (ya iyalah,kalau aku disuruh nungging di ruang aerobik yang bisa dilihat orang dari segala arah, mending aku nggak ikutan deh), tenang, dan hangat.   

Latihan dimulai, musik lembut mengalun dan instruktur membimbing kami melakukan satu persatu gerakan yoga. Ternyata lumayan menguras keringat juga lho walaupun nggak sehiperaktif aerobik. Tapi fokusnya lebih ke arah pernafasan lewat hidung. Nggak bener gerakannya nggak masalah asal bisa mengatur nafas dengan benar. Pas narik nafas perut dibiarkan kembung, pas menghembuskan nafas perut ditarik ke dalam. Dan pernafasan dilakukan dengan perlahan dan dalam.   

Favoritku adalah gerakan terakhir yaitu savasana (bener nggak ya nulisnya). Yaitu pose berbaring di lantai, mata terpejam, lampu dimatikan. Tentu saja aku tetap berusaha menjaga kesadaran. Malu banget kan kalau yang lain udah pada bangun tapi aku malah ketiduran. Apalagi kalau sampai ngorok…. Tapi aku nggak susah-susah amat terjaga kok. Karena musik dari ruang aerobik mulai kedengaran sampai ruang yoga, jadi agak berisik gitu…   

Nah, ternyata setelah yoga badanku terasa enteng dan segar. Jadi besoknya aku mengajak adikku yoga lagi.  Sebelum kelas dimulai, kita duduk-duduk di dalam ruang yoga. Eh, ada seorang perempuan setengah baya di dekat kita tiba-tiba melakukan head stand. Wah, hebat juga ya. Tapi aku jadi merasa nggak enak. Kok orang di kelas ini belum-belum sudah pinter gitu?  

Benar saja, kelas hari itu ternyata bukan yoga. Lebih tepatnya disebut akrobat. Bayangin aja, misalnya pas narik nafas kita disuruh nungging, pas menghembuskan nafas kita harus sudah berganti pose. Susah kan? Mana gerakannya aneh-aneh. Ada satu gerakan di mana si instruktur jongkok, tangannya di lantai, kakinya diangkat satu persatu (tapi nggak sampai diluruskan seperti hand stand) sampai badannya cuma bertumpu pada tangan. Syukurlah hanya 1 orang peserta yang mampu menirukan gerak itu, sehingga aku dan adikku nggak jadi orang paling bodoh. Oh iya, yang bikin BT lagi, savasana di kelas ini sebentar banget. Tahu-tahu udah disuruh duduk dan kelas selesai.   

Keluar dari kelas itu, kita baru mengerti kenapa kelas ini beda banget sama yang kemarin. Di depan ruang yoga ada papan besar bertuliskan jadwal kelas yoga. Di masing-masing kelas ada keterangan (AL), (I) atau (B). Kelas barusan berkode (I) alias intermediate. Sementara kemarin kodenya (AL) alias all level. Sedangkan (B) artinya beginner.   

Alhasil, gara-gara salah masuk kelas, badanku pegal-pegal sampai besoknya. Tapi, aku nggak kapok yoga kok. Hari-hari berikutnya aku ikut lagi. Malah pernah ikut yoga setelah berenang dan sauna. Pulang-pulang rasanya lapar berat.   

Efek yoga yang aku rasakan sejauh ini adalah badan lebih lentur (aku sudah bisa melakukan sebuah pose dengan tumit menempel di lantai, sebelumnya nggak bisa). Pernafasan juga oke, waktu renang aku lebih kuat menyelam dan renang beberapa lap pun nggak terengah-engah. Terus perutku agak kempis soalnya ototnya sering ditarik-tarik pas aku yoga. Kalau meningkatkan konsentrasi, belum terasa. Apalagi menambah kesabaran, belum banget…