Dalam rangka hidup sehat (baca posting sebelumnya) aku jadi dapat banyak new experiences. Mulai dari ngerasain akupunktur pakai gelombang listrik, yoga, sampai kembung gara-gara kebanyakan minum. Cocok banget sama kepribadianku yang eksperimental alias suka bereksperimen (aku termasuk orang langka yang belajar dengan cara mencoba-coba – trial& error gitu deh). Ya, anggap aja positive side dari si benda-benda aneh ini…. 

Di postingan ini aku mau cerita tentang pengalamanku yang cukup menegangkan, yaitu mengikuti terapi akupunktur. Ceritanya, sudah beberapa lama nenekku pergi berobat ke dokter. Tapi dokternya dokter hewan. Aneh kan? Ternyata dokter hewan ini juga belajar akupunktur. Jadi ada dua papan nama di tempat prakteknya. Satu, sebagai dokter hewan, yang kedua sebagai ahli tusuk jarum (orang). Keterangan ‘(orang)’ ini kayaknya penting banget dicantumin deh, supaya jangan sampai orang bawa anjing buat diakupunktur.  

Terus dulu, dosenku, Pak Hans Hehakaya, pernah cerita tentang istrinya yang mengidap kanker. Pak Hans dengan berapi-api mengatakan bahwa akupunktur adalah metode pengobatan terbaik untuk kanker daripada operasi apalagi kemoterapi. Dan dia cerita, istrinya berobat di dokter hewan yang ahli akupunktur.  Jadi, aku pikir nggak ada salahnya mencoba. Lagipula konon, dokter ini mendapat kuasa penyembuhan setelah berdoa di Lourdes. Dia juga berdoa dulu sebelum mengobati orang. Dan dia tidak perlu stetoskop, tensimeter, rontgen, USG, dan sebagainya. Cukup menggerakkan tangannya di atas tubuh pasien (bahkan tanpa harus menyentuh), dia akan tahu bagian mana yang sakit. Sakti mandraguna gitu deh.
 

Sebelum terapi, mamaku menelepon dan bertanya, apakah aku berani diakupunktur? Honestly, enggak banget! Tapi karena pengen sembuh, aku menguat-nguatkan diri.  

  Pertama-tama nenekku dulu yang terapi. Hi, serem abis melihat kaki dan perutnya ditusuki jarum. Setelah selesai, jarum-jarum itu dihubungkan dengan aliran listrik tegangan rendah. Pake acara goyang-goyang gitu jarumnya.   

“Sakit Mak?” tanyaku.

“Enggak, rasanya cuma kayak digigit semut,” jawabnya enteng. 

Oh my God, bukannya nggak percaya sih. Tapi bagi seorang perempuan yang sudah pernah melahirkan normal 4x, sempat stroke, dan pernah operasi bypass jantung, jelas aja lah akupunktur nggak berasa. Sementara aku, yang paling pol hanya pernah jatuh telungkup di lapangan basket, gimana rasanya ya? 

Akhirnya tiba saatnya aku diakupunktur. Saking tegangnya, baru ditusuk jarum aja aku sudah merasa sakit. Aku jadi malu. Soalnya jarum akupunktur itu kan kecil sekali dibandingkan jarum untuk mengambil darah yang ditancapkan di lenganku waktu aku donor darah. Dan aku sudah pernah donor 4x. Pernah sekali sama teman cowokku yang penakutnya bukan main. Kata susternya, kalau orang tegang sakitnya malah berasa. Dan memang, gara-gara temanku ini jejeritan melulu aku jadi ikut tegang dan sakit waktu ditusuk jarum. 

So, aku mencoba untuk santai dan berhasil! Nggak sakit lagi loh walaupun tusukannya bertambah. Lalu datang suster yang menghubungkan jarum-jarum itu dengan sumber listrik.  

Ah, nggak berasa. Cuma segini aja toh. 

Tiba-tiba…. “Waaa!!!” aku menjerit.  

Meskipun si suster sudah mengingatkan bahwa dia akan mengalirkan listrik di ujung kakiku, aku masih kaget ketika dia benar-benar melakukannya. Aku pikir tadi setelah alatnya dipasang, listriknya udah jalan tapi nggak berasa. Ternyata alatnya baru dinyalakan setelah semua jarumnya terhubung dengan sumber listrik. Pantes aja tadi nggak sakit, lha wong belum nyala.  Malu banget deh jejeritan gitu. Norak abis rasanya. Kalah sama nenekku yang bisa anteng walaupun jarumnya lebih banyak. 

Satu persatu jarum yang menancap di kaki dan perutku dialiri listrik. Aku sudah nggak menjerit lagi. Menahan diri soalnya malu banget.  Nggak ngebayangin deh melalui 10 menit berikutnya dengan jejaruman itu mengalirkan listrik ke dalam tubuhku. Untungnya, lama-lama aku bisa merasa enak. Rasanya hangat, nyamannnn lagi. Pengen tidur, tapi sungkan sama dokternya.  

Sambil mengawasi si dokter cerita bahwa benda-benda aneh dalam tubuhku ini bukan kanker. Dia bilang, itu disebabkan oleh aliran darah yang kurang lancar. Mungkin karena memakai bra berkawat. Dia juga bilang, jangan cepat percaya kalau dokter menyuruh kita cepat-cepat operasi. Sebisa mungkin jangan sampai lah pisau bedah menyentuh tubuh kita. Soalnya, badan kita ini sudah dibuat Tuhan dengan sempurna. Kalau dioperasi, dibongkar pasang, jadi nggak sempurna lagi dong…. 

Apapun deh, yang jelas aku pengen banget benda-benda aneh ini cepat lenyap, entah dia berbahaya atau enggak. Aku udah cukup stres dan menghabiskan waktu,uang dan tenaga demi mereka… Sampai-sampai nyalain laptop aja jarang, lebih banyak olahraga dan ke dokter.  

Anyway, aku sudah dua kali akupunktur. Sudah mulai keenakan nih. Pulang terapi jadi laper dan ngantuk berat. Baguslah, soalnya nafsu makanku sempat agak terganggu dan sempat nggak enak tidur juga….