Suatu malam di bulan Juni (tepatnya tanggal 20). Sudah hampir jam 8  tapi aku masih malas mandi. Nonton TV juga setengah hati (abis acaranya jelek). Tiba-tiba HP berbunyi. Mama menelepon dari Bali. Panggilan pertama, yang terdengar hanya sunyi.

Ternyata oh ternyata, Mama menelepon untuk memberitakan kabar buruk. Kabar yang selama ini aku takuti. Tenyata akhirnya terjadi dan aku harus bisa menghadapinya. Mio, anjing kesayanganku, telah mati. Aku langsung nangisss…. keras banget sampai Mama panik di ujung telepon.

Mio memang sudah sakit sejak beberapa hari sebelumnya. Awalnya, gara2 Papa lupa memasukkan dia ke dalam rumah pada malam hari. Mio biasanya memang tidur dalam rumah, di atas keset. Bukan di halaman rumah yang dingin. Pagi-pagi buta Mio ditemukan sedang menggigil ketakutan di halaman rumah, persis di belakang pagar. Alhasil dia stres. Apalagi dia hamil.

Mio mogok makan. Sampai akhirnya harus diinfus. Tiap hari kerjanya cuma diam dan meringkuk. Mama dan adikku sampai harus menyuapinya makan setiap hari, itu pun hanya habis beberapa sendok.

Ya, akhirnya Mio mati. Sedih banget loh. Nulis blog ini aja aku masih pengen nangis. Untung malam itu aku curhat ke orang yang tepat. Supry nggak menganggap aku aneh atau konyol karena nangis gara2 anjing mati. Malah Supry cerita kalau dia juga nangis waktu anjingnya hampir mati (hidup Supry! cowok yang nggak takut menangis – dan nggak takut untuk menceritakan pada temen ceweknya waktu-waktu di mana dia nangis)

Dan untung juga aku nggak beli buku Chicken Soup for The Petlovers Soul, paginya waktu aku ke toko buku. Kalau aku beli, malam itu aku pasti baca sambil nangis keras-keras.

Untung juga aku nggak ada di sisinya waktu Mio mati. Pasti perasaanku lebih hancur lagi.

Paling untung, karena barusan aku sempat pulang ke Denpasar. Main sama Mio setelah berbulan-bulan nggak ketemu.

 Hmmm… aku lagi belajar merelakan kepergian Mio.

Thanks ya Mio, sudah mengisi hari-hariku di rumah dengan keceriaan

Thanks karena sudah membuatku belajar cinta sama binatang

Thanks udah nemenin aku waktu begadang malam-malam bikin laporan magang (Sayangnya aku begadang ngerjain skripsi di Surabaya, nggak ada kamu, padahal kamu bisa bangunin dengan jilat kakiku kalau aku ketiduran di depan komputer. Sekarang kamu mati lagi, biar ngerjain skripsi di Bali juga tetap nggak ada kamu….)

Thanks udah jadi teman mainku, model fotoku (sampai sekarang masih belum sanggup lihat foto2 Mio)

Thanks udah ngelahirin anak2mu pas aku lagi di rumah

Thanks udah ngasih kita anak anjing yang lucu2 walaupun akhirnya umurnya nggak panjang

Kadang aku iri sama kamu

Lahir untuk disayang, dimanjakan, dan dibelai

Maaf kalau perlakuan kita selama ini belum cukup untuk bikin kamu happy, sampai kamu stres dan akhirnya mati

Aku jadi ingat cerita temanku, yang pernah baca buku tentang surga

Dia bilang di surga itu kita bakal dapet rumah yang isinya segala hal yang kita sukai

Kalau kita suka anjing, di rumah itu ada anjingnya

Aku harap kalau itu benar, anjingku nanti adalah kamu

Love you Mio…..