Dalam sebuah pertemuan resmi, muncul sebuah statement dari seorang laki-laki: jangan memilih perempuan sebagai pemimpin, karena perempuan mudah menangis! Saya heran bagaimana bisa pria terdidik di zaman ini masih terkonstruksi dengan paradigma semacam itu. Memangnya seorang pemimpin tidak boleh menangis? Lagipula, tidak adil bila sifat mudah menangis diasosiasikan dengan gender tertentu.

          Perempuan maupun laki-laki, punya hak yang sama untuk menangis. Saya, perempuan, menangis di depan layar komputer saat stuck dengan proposal skripsi saya. Teman saya, seorang pria, juga melakukan hal yang sama dalam kondisi tersebut.

          Namun, di negara patriarkhi ini, perempuan menangis sah-sah saja. Sedangkan laki-laki yang menangis, dianggap tidak jantan, keperempuan-perempuanan. Sejak kecil, anak laki-laki dilarang keras menangis, karena ‘Seperti anak perempuan saja,’ kata orang tuanya. Tuh kan, lagi-lagi menangis hanya monopoli kaum perempuan. Tapi dari paparan ini jelas bahwa pernyataan ‘perempuan mudah menangis’ adalah dampak dari konstruksi gender yang dibangun ideologi patriarkhi.

          Akibat konstruksi inilah laki-laki tumbuh menjadi pribadi tertutup yang sukar mengekspresikan perasaannya. Sementara perempuan dengan bebas menangis bila ia mau. Sebenarnya, ini sebuah malapetaka bagi kaum pria.

          Menangis, adalah bentuk pelampiasan emosi yang sehat. Menangis, mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi membuat seseorang merasa lega. Menangis, akhirnya menjadi kekuatan perempuan. Karena perempuan menangis, perempuan merasa lega, bebas, dan siap menghadapi masalah baru. Sementara pria yang memendam tangis, akhirnya merasakan sesak di dada, bahkan mungkin berkembang menjadi benih-benih penyakit psikosomatis.

          Maka, wahai kaum pria, beranilah menangis! Menangis bukan berarti anda pengecut! Menangis tidak akan mengurangi kejantanan anda (lagipula, apa sih tolok ukur kejantanan?)! Menangis, berarti anda cukup terbuka untuk mengakui bahwa anda hanyalah manusia yang lemah, yang bisa merasakan kesedihan atau keharuan. Hanya saja tentu, saat menangis kita harus tetap dapat mengontrol diri kita sehingga tidak berlebihan; terlepas dari apakah kita perempuan atau laki-laki.

       

        Menyinggung soal pemimpin yang menangis, saya rasa tidak ada salahnya. Bagi saya, kepemimpinan bukanlah menjadi sempurna dan absolut di hadapan pengikutnya. Kepemimpinan adalah suatu usaha menjadi teladan dengan tidak meninggalkan sisi manusiawi di dalam diri kita. Pemimpin yang super hebat belum tentu baik, bila itu membuat pengikutnya tidak berkembang dan terpusat padanya. Lebih baik pemimpin yang kelemahannya terlihat tetapi dapat membuat pengikutnya berkembang sehingga wibawanya tetap terjaga.