Sudah lihat iklan yang aku pajang di blog ini dengan judul ‘My Favourite Commercial’? Bagus banget kan? Sebagai orang yang cukup maniak terhadap iklan, sudah sangat lama aku menunggu-nunggu iklan sebagus ini nampang di televisi Indonesia. Selama ini, banyak iklan televisi yang aku suka, tapi tidak memorable. Yang cukup memorable bagiku adalah iklan Long Beach versi Tukang Pizza. Itu loh, yang ceritanya tukang pizza sedang menguleni adonan sambil berimajinasi, seolah dia sedang di pantai, memijat punggung cewek seksi. Iklan itu oke banget, lagunya juga mendukung (Sway).

Tapi iklan yang satu ini memorable bukan karena lucu seperti iklan Long Beach. Ada banyak faktor yang membuat iklan Rumahku Indonesiaku, baik versi pertama maupun kedua (Cahaya Asa) tak terlupakan. Dari segi musik, narasi, adegan, estetika, konsep, wah nggak ada yang ngalahin deh!

Ini nih tim produksi dan model iklan Rumahku Indonesiaku…Lebih kagum lagi pas ikut acara Rumahku Indonesiaku Keliling Kampus tadi sore. Menghadirkan perwakilan dari Biro Iklan Octocomm (Yan Gunawan dan Hakim Lubis), Production House 25 Frames (Ipang Wahid, sutradara iklan ini), Jay Subiakto (Creative Advisor), serta dua orang talent yang cantik banget, Fahrani dan Lili Panjaitan. Mereka semua datang untuk menjawab segala keingintahuan peserta tentang iklan Rumahku Indonesiaku.

Banyak sisi menarik yang terungkap dalam acara ini. Pada awalnya, klien (PT. Gudang Garam Tbk. – GG) hanya bermaksud membuat iklan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, Agustus 2006. Namun sebuah iklan yang ditayangkan dalam satu periode pasti akan cepat dilupakan. Maka biro iklan mengusulkan untuk membuat beberapa versi dalam satu rangkaian kampanye nasionalisme. GG setuju dan lahirlah Rumahku Indonesiaku dalam dua versi. Versi kedua, Cahaya Asa, ditayangkan menjelang tahun baru 2007.

Pihak GG menginginkan iklan ini dapat menunjukkan citranya sebagai produsen rokok nasional yang mewakili Indonesia. Ternyata konsep beriklan seperti ini sudah lebih dulu dilakukan Petronas, yang iklan-iklannya merepresentasikan negara Malaysia. Di Indonesia konsep ini tergolong baru sehingga GG menjadi pioner.

Representasi bagaimana yang ingin digambarkan dalam iklan ini? Tim produksi ingin menampilkan sisi luar biasa dari Indonesia. Bila orang sering mengidentikkan Indonesia dengan korupsi, bencana, dan hal-hal negatif lainnya; dalam iklan ini ditonjolkan keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia yang mengagumkan.

Untuk memperkuat kesan nasionalis, seluruh tim produksi harus berasal dari Indonesia. Model pun harus mewakili ciri perempuan Indonesia, dengan kulit sawo matangnya, bahkan ada yang rambutnya ikal bak gadis dari kawasan Timur Indonesia. Jay Subiakto juga bertekad agar semua tahapan dalam proses produksi dilakukan di Indonesia, karena SDM dan teknologi yang ada tidak kalah dibandingkan di luar negeri. Lokasi syuting yang dipilih merupakan lokasi-lokasi yang jarang dikenali orang – orang Indonesia sekalipun. Kalau selama ini Indonesia dikenal sebagai dari Sabang sampai Merauke’, di iklan versi pertama diperlihatkan batas atas dan bawah Indonesia yaitu Pulau Dana dan Miangas.

Sedangkan dalam iklan Cahaya Asa, model perempuan merupakan metafora ibu pertiwi, yang memiliki sifat suci, melindungi, dan merupakan asal dari segala makhluk di dunia. Jumlah model utama 5 orang yang mewakili 5 pulau besar di Indonesia atau 5 sila dalam Pancasila. Pancasila menurut Jay Subiakto adalah ideologi bangsa yang sangat tepat untuk Indonesia, karena menghargai pluralisme.

Adegan-adegan dalam Cahaya Asa juga terinspirasi dari tradisi Indonesia. Misalnya tari-tarian yang terilhami tari Saman di Aceh dan tari kecak di Bali (dengan koreografer asli Bali, Ketut Rina). Atau ritual di akhir iklan yang merupakan perpaduan upacara adat di Bali dan Papua. Ritual memanahkan api ke langit dalam budaya Bali disebut nagabanda, upacara sebelum ngaben di mana pedanda (pemuka agama Hindu Bali) melakukannya untuk menunjukkan arah pada roh orang yang meninggal. Sedangkan adanya tower merupakan adaptasi ritual Suku Dani bagi anak laki-laki yang telah akil balig. Mereka diminta naik ke tower yang tinggi, kaki diikat, kemudian dijatuhkan ke bawah, seperti bungee jumping. Bedanya, kalau pebisnis bungee jumping memperhitungkan rasio panjang tali, tinggi badan, dan tinggi tower, Suku Dani tidak. Jadi mungkin saja talinya kepanjangan sehingga si anak terbentur bumi.

Busana model juga kental dengan nuansa Indonesia yang dibungkus dalam kemasan modern. Untuk itu, tim produksi mempercayakan pembuatannya pada Edward Hutabarat yang memang dikenal dengan gaya modern plus sentuhan tradisional. Hasilnya keren banget kan?

Fahrani dan Lily sebagai model menceritakan pengalaman syuting mereka yang berkesan. Mereka dituntut bangun dinihari dan berjalan melewati medan yang berat. Ada adegan di mana Fahrani harus berdiri di tepi kawah Ijen, yang menurutnya adalah pengalaman yang sangat berharga, karena bisa menyaksikan langsung pemandangan matahari terbit yang indah sementara tim produksi mengambil gambarnya dari helikopter. Para model juga berlatih menggunakan senjata tradisional yang dipakai dalam adegan ritual.

Untuk membuat musik latar, prosesnya tak kalah rumit. Tim produksi menginginkan suara alam dimasukkan. Untuk lirik, ada beberapa kata tanpa makna yang disenandungkan begitu saja, tetapi ada sebagian lirik yang berasal dari copy iklan yang dinyanyikan. Agar opening terkesan magis, Sujiwo Tejo mengisinya dengan melafalkan bahasa Jawa kuno.

Gile, niat banget kan? Itu belum lagi perjuangan membuat properti syuting seperti alat musik dan tower. Tim spesial efek bahkan sudah membuat rancangan visualnya sebelum syuting untuk memberi gambaran kepada model dan tim produksi. Spesial efek dan animasi juga ditambahkan dalam proses pasca produksi untuk mempercantik tampilannya.

Wah, aku jadi semakin semangat menggarap skripsi nih. Memang tepat banget mengambil iklan ini sebagai bahan riset. Keren soalnya! Kalau tim produksinya begitu niat dalam menggarap iklan ini, aku nggak boleh sembarangan dong waktu menelitinya! Ganbatte!!!!!