Dimuat di Jawa Pos, Prokon Aktivis, 14 Maret 2007 dengan judul Melengkapi dengan Life Skills. Ini adalah tulisan versi aslinya. Happy reading.

Perhatikan Pendidikan Holistik

Oleh : Ria Angelia Wibisono*

Full-day school? Mengapa tidak? Bagi penulis, sistem pendidikan yang membuat anak belajar lebih lama di sekolah ini bukanlah ide yang buruk. Full-day school – asal dikelola dengan benar – sebenarnya dapat menjawab realita yang terjadi dalam masyarakat modern.

           

Dewasa ini, banyak pasangan suami-istri yang sama-sama bekerja. Ada kalanya fenomena tersebut disebabkan oleh tingginya kebutuhan hidup. Namun ada kalanya pula, istri bekerja karena merasa sayang meninggalkan karir yang telah dirintis sebelum menikah.

            Bagi keluarga semacam ini, sistem full-day school bisa jadi sangat membantu. Sementara ayah dan ibu bekerja di kantor, anak-anak belajar di sekolah. Sore harinya, setelah selesai bekerja, orang tua dapat menjemput anaknya dan kembali ke rumah bersama-sama.

Bandingkan dengan sekolah yang jam belajarnya hanya sampai tengah hari. Karena jam sekolah anak lebih singkat daripada jam kantor orang tua, orang tua harus meluangkan waktu di sela-sela bekerja untuk menjemput dan mengantar anak pulang. Setelah tiba di rumah, tentu anak tak dapat ditinggal sendiri tanpa pengawasan orang tua. Menitipkan anak di rumah mertua atau menggunakan jasa pengasuh memang bisa menjadi alternatif. Namun, tidak semua mertua mau dititipi cucu-cucunya. Sedangkan pengasuh, belum tentu terpercaya. Lebih baik membiarkan anak dalam pengawasan tenaga pengajar profesional bukan?

Ketika anak sudah beranjak remaja pun, membiarkan mereka seharian di sekolah rasanya lebih baik daripada melihat mereka keluyuran sepulang sekolah di siang hari. Bahaya pergaulan bebas, narkoba, dan hura-hura menjadi ancaman yang sangat serius bagi remaja. Lebih baik mereka seharian belajar hal yang bermanfaat di sekolah, lantas pulang ke rumah di sore hari untuk istirahat dan bercengkrama dengan keluarga.

Selain itu, orang tua juga berkewajiban mempersiapkan anaknya menghadapi tuntutan era globalisasi. Kurikulum pendidikan nasional saat ini sering dirasa belum cukup. Maka, bertebaranlah kursus bahasa, komputer, dan berbagai kursus lain untuk memperlengkapi pendidikan anak. Jika semua pendidikan yang ditawarkan kursus tersebut dapat diperoleh di sekolah, orang tua akan dapat menghemat waktu dan tenaga untuk mengantar si kecil dari satu kursus ke kursus lainnya. Apalagi bila sekolah juga dapat menyediakan fasilitas seni dan olahraga untuk menunjang bakat dan minat siswanya.

Masalahnya, beberapa full-day school belum dapat menjawab realita terakhir. Di Indonesia, jam sekolah yang lebih panjang seringkali justru dimanfaatkan untuk mengadakan remidial alias tes perbaikan nilai. Ada pula sekolah yang memilih menggelar bimbingan belajar di siang hari dengan mengulang pelajaran yang telah diajarkan pada pagi harinya. Maka, jika siswa ingin menambah kemampuan di samping pelajaran sekolah seperti bahasa asing, komputer, atau mengasah bakat seni dan olahraga; mereka justru harus mencari waktu tambahan di luar jam sekolah. Tidak jarang mereka akhirnya stres karena otak kirinya dipaksa bekerja terus menerus.

Usul konkrit yang dapat penulis berikan adalah perbaiki sistem full-day school seperti di atas. Perhatikan pendidikan yang bersifat holistik, menyeluruh, tidak hanya mengembangkan otak kiri tetapi juga otak kanan. Pagi hari, bolehlah siswa ‘dihantam’ pelajaran matematika, IPA, dan IPS. Siang harinya, beri mereka kesempatan untuk belajar hal-hal yang menarik minat mereka seperti bahasa asing pilihan, komputer, kesenian, dan olahraga. Bila memang sekolah belum mampu menyediakan tenaga pengajar, ada baiknya bekerja sama dengan lembaga kursus profesional.

Mungkin anda ingat kisah seorang anak yang berhasil menyelamatkan ribuan nyawa pada saat terjadi tsunami di Phuket, Thailand. Gadis kecil itu dapat membaca tanda-tanda akan terjadinya tsunami karena pernah mendapat pelajarannya di sekolah. Sementara di Indonesia, life skills semacam itu menjadi lahan tak tersentuh dalam dunia pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia hanya sekedar mengasah intelektual (IQ) siswa, yang hanya memberi andil 20% bagi kesuksesannya di kemudian hari. Seharusnya, dengan menerapkan sistem full-day school, sekolah punya lebih banyak kesempatan untuk memperlengkapi siswa dengan life skills dan multiple intelligence. Dengan demikian, training kepemimpinan, team work, dan motivasi diri tidak menjadi monopoli pengurus OSIS yang mendapatkannya dalam LDKS saja.          

Apakah konsep full-day school yang mendidik secara holistik mampu dijalankan sekolah-sekolah di Indonesia? Penulis yakin jawabannya adalah ya. Hanya saja, melakukannya tentu tak semudah membalik telapak tangan. Dukungan orang tua siswa dan pemerintah – baik secara moril maupun materiil – sangat dibutuhkan. Bila masyarakat Indonesia menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup bangsa di masa depan, sudah saatnya kita bergerak bersama untuk memajukannya. Hidup pendidikan nasional!

*Ria Angelia Wibisono,

mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UK.Petra Surabaya