Jawa Pos, Jumat (1 Juli 2005), kolom Prokon Aktivis

Learning for Living

Oleh Ria Angelia Wibisono *

 

Di era globalisasi ini, persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Untuk menghadapinya, para orang tua masa kini mempersiapkan putra-putrinya melalui pendidikan yang bermutu.

Bahkan, persiapan itu dimulai sejak usia dini. Tidak menunggu hingga mereka cukup umur untuk masuk taman kanak-kanak (TK), tetapi sudah didaftarkan di lembaga pendidikan prasekolah (kelompok bermain/play group). Karena itu, wajar bila lembaga pendidikan prasekolah berdiri di mana-mana, bak cendawan di musim penghujan.

Idealnya, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah tersebut sangat membantu orang tua dalam mendidik anaknya. Usia prasekolah adalah usia yang cukup penting untuk membentuk kepribadian seorang anak. Semakin bertambah usia akan semakin sulit mengubah kepribadian mereka.

Karena itu, pada usia prasekolah, sisi emosional seorang anak harus diasah. Mereka harus mulai belajar sopan santun, etika, moral, dan sebagainya. Tentu bukan dalam arti teoretis, melainkan praktis.

Contohnya memberi salam kepada orang tua, berbagi dengan saudara, menolong orang lain, dan banyak lagi. Selain itu, dalam usia anak yang masih kecil, mereka perlu belajar melakukan hal-hal sederhana.

Contohnya membersihkan diri, buang air (toilet training), makan, berpakaian, dan sebagainya. Istilahnya, learning for living, belajar untuk hidup. Lembaga pendidikan prasekolah dapat mengajar mereka melakukannya, dengan beberapa bonus tambahan.

Misalnya, anak-anak jadi bisa bersosialisasi dengan orang di luar keluarganya (guru, teman-teman). Lalu mereka juga dapat lebih siap menghadapi bangku sekolah, karena sudah terbiasa dengan jadwal harian, guru, dan sebagainya.

Tetapi, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah juga memiliki kelemahan. Pertama, lembaga-lembaga tersebut sering kebablasan dalam menjalankan perannya. Saya menjumpai banyak lembaga yang belum-belum sudah mengajarkan hal-hal yang belum waktunya didapat anak usia prasekolah.

Misalnya berhitung, mengeja, dan menulis. Mereka jadi lupa dengan semangat learning for living tadi. Persiapan untuk sekolah justru lebih diutamakan. Lembaga-lembaga tersebut bangga bila anak hasil didikannya tampil menonjol ketika masuk TK, berkat keterampilan yang sudah didapatkan di lembaga tersebut.

Padahal, tidak selamanya keterampilan yang diperoleh lebih dini itu baik bagi si anak. Sering karena sudah bisa melakukan hal-hal yang belum dapat dilakukan teman sekelasnya, anak malah bertingkah dan mengganggu temannya. Atau, mungkin dia jadi kurang respek terhadap guru karena merasa sudah mampu berhitung atau menulis.

Selain itu, karena sisi intelektual lebih ditekankan, sisi emosional justru terlupakan. Bisa jadi, meski piawai menulis, anak justru alpa mengucapkan terima kasih.

Parahnya lagi, tradisi mementingkan intelektualitas agaknya sudah mendarah daging dalam sistem pendidikan Indonesia. Berapa banyak guru yang menghargai ucapan terima kasih dari murid yang nilainya kurang?

Mereka akan lebih terkesan dengan murid yang selalu mendapat nilai tinggi, sekalipun di kelas murid tersebut mungkin enggan bergaul dengan teman-temannya.

Penghargaan pun diberikan kepada murid yang nilai akademisnya paling tinggi, bukan kepada murid yang paling santun dan suka membantu teman. Padahal, sudah jelas bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi andil 20 persen bagi kesuksesan seseorang. Sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional.

Kedua, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah sering membuat orang tua lupa akan perannya untuk mendidik anak. Karena sudah membayar sejumlah uang yang besar, mereka merasa sudah cukup. Padahal, pendidikan anak yang paling mendasar dimulai dari dalam keluarga, karena keluarga adalah institusi pertama yang dikenal anak sejak dia lahir.

Lagi pula, ada hal-hal tertentu yang hanya dapat dipelajari anak dari keluarga dan bukan dari lembaga pendidikan. Misalnya, pendidikan seksual. Pendidikan ini sering dilupakan masyarakat karena dianggap tabu.

Padahal, anak kecil pun harus mendapat pengetahuan seksual, dengan catatan harus sesuai usianya. Mereka harus tahu perbedaan laki-laki dan perempuan serta mengenal organ genital.

Dampak terabaikannya pendidikan ini sudah dapat kita lihat di media massa, betapa banyak kasus perkosaan terhadap anak yang tidak tahu apa-apa.

Sebuah penelitian membuktikan, anak yang mendapat pendidikan seksual sejak dini memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terlibat dalam seks pranikah di usia remaja (Jakarta Post, 2003). Bila menunggu hingga anak mendapat pendidikan seksual dari sekolah, bisa jadi sudah terlambat, karena pendidikan tersebut umumnya diberikan menjelang pubertas.

Jadi, keberadaan lembaga prasekolah sangat bermanfaat, asal tetap pada porsinya. Kembalikan hakikat pendidikan prasekolah pada learning for living, dan bukan living for learning. Utamakan sisi kecerdasan emosi daripada intelektualitas semata.

* Ria Angelia Wibisono, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya aktivis HIMAKOMTRA.