Jalan-jalan ke hutan yuk….Hidup ini singkat, terlalu singkat untuk tidak dinikmati. Apa sih yang membuat orang jadi nggak menikmati hidup? Ada satu pepatah bijak yang bilang, perjalanan hidup ini seperti perjalanan di hutan. Kita bisa memilih untuk mengeluhkan lumpur dan debu yang mengotori kita, atau mengagumi indahnya langit dan merdunya nyanyian burung-burung. Jadi, kuncinya adalah cara kita memandang hidup.   

Tahun 2005, waktu aku sedang magang di sebuah stasiun televisi lokal di kota Batu, aku merasa cukup desperate. Pertama, karena aku homesick. Batu adalah kota yang sepi dan sangat dingin, tidak seperti Denpasar dan Surabaya tempat aku dibesarkan. Kedua, karena ini pengalaman magang pertamaku, ada banyak kekhawatiran dalam hatiku. Jadi waktu itu aku sering merasa cemas dan bingung, mudah mengeluh pula.  

Tibalah hari Minggu, waktu untuk pergi ke gereja. Untunglah sehari sebelumnya orang kantorku sempat menunjukkan jalan ke gereja, dan ibu kos sudah memberi tahu jalur angkutan umum ke sana. Aku pergi ke gereja dengan excited.  Misa dimulai dan tibalah saat pastor menyampaikan khotbah. Terus terang aku lupa bacaan Kitab Suci pada hari itu. Tapi khotbah sang pastor masih sangat aku ingat sampai hari ini dan khotbah itu sering menguatkan aku di saat aku mengalami kejatuhan.  

Sebenarnya, konsep khotbah itu sangatlah sederhana. Romo Aditya, nama sang pastor, menceritakan pengalamannya di seminari dulu. Seminari tempatnya belajar dipimpin oleh pastor kepala yang galak. Pastor tua ini selalu menekankan pada murid-muridnya di kelas untuk mengucap syukur dalam segala kondisi.  Sebagai anak bungsu dan putra satu-satunya, Romo Aditya terbiasa dimanja. Maka dia cukup tertekan dengan kehidupan seminari yang mengharuskannya disiplin dan mandiri. Suatu kali, saat ia harus mencuci pakaian, ia berpikir bahwa pakaian itu lebih baik direndam selama mungkin agar bersih tanpa perlu dikucek. Tentu yang terjadi rendaman itu berbau apek setelah sehari semalam dibiarkan. Kamar mandi seminari menjadi ikut berbau. Romo Aditya diberi hukuman. Saat menjalani hukumannya, sang pastor kepala lewat. Romo Aditya pun harus mengucap kalimat wajib : “Syukur kepada Allah”, walaupun dalam kondisi capek berat dan dongkol di hati. 

Tak lama setelahnya, pastor kepala ini mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia dirawat di rumah sakit dengan kondisi kaki yang parah sehingga divonis tidak bisa berjalan. Berduyun-duyun umat datang menjenguk. Murid-muridnya sudah pasti ikut menunggui sang guru. Giliran Romo Aditya menjaga, dia teringat pesan pastor kepala untuk mengucap syukur. Akhirnya ia membisikkan kalimat wajib itu di telinga gurunya. Raut wajah pastor kepala menjadi cemberut, tapi ia tidak bisa berkata-kata karena kondisinya masih lemah. 

Beberapa bulan kemudian secara ajaib pastor kepala pulih dan bisa mengendarai sepeda motor lagi. Ia menceritakan pengalamannya waktu sakit. Waktu seorang murid membisikkan kalimat “Syukur kepada Allah” di saat kondisinya kritis, ia langsung merasa kesal. Tapi ia jadi ingat apa yang diajarkannya dalam kelas. Ia merefleksikan kalimat itu dalam-dalam. Ia mencoba untuk kembali bersyukur. Dalam keadaan penuh syukur, ia bisa menerima kondisi sakitnya. Ia bisa mengampuni orang yang sudah menabraknya. Ia bisa pasrah, menyadari kelemahannya, dan bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Tuhan membalas rasa syukurnya dengan kesembuhan.  

Pengalaman pastor kepala ini pernah diceritakan Romo Aditya dalam khotbahnya di lain waktu. Akhirnya dia sendiri sakit dan setiap umat yang menjenguk tak pernah lupa mengucapkan mantra itu. Romo Aditya jadi ikut merasakan perasaan kesal pastor kepala, hehehe… Tapi memang dia mengakui bahwa ada keajaiban dalam rasa syukur.  

Mendengar khotbah itu, rasanya aku tertampar. Aku sendiri nggak bersyukur banget bisa dapat tempat magang sementara teman-temanku banyak yang tidak dapat. Walaupun dingin, sepi, dan lain sebagainya, kota Batu memberiku banyak pengalaman baru dan berharga. Aku akhirnya berusaha mensyukuri apa yang terjadi dalam magangku, meski ada saat-saat tidak menyenangkan juga.  

Dan overall, magangku cukup fun. Di minggu kedua, keluargaku datang menjenguk. Lalu aku sempat cuti beberapa hari untuk ikut kongres yang meskipun panjang dan melelahkan, juga memberiku kesempatan bertemu dengan teman-teman yang aku rindukan. Aku juga ingat waktu-waktu di mana aku dan teman-teman sekamar membersihkan kamar bersama. Sempat pula beberapa temanku dari Surabaya mengunjungi kami di kos. Di akhir magangku, secara kebetulan kantor mengadakan dangdutan semalam suntuk – acara bulanan untuk merayakan ulang tahun pegawai dalam bulan itu – dan aku sadar, aku sangat menikmati magangku.

Rani, Rendra, dan Ria….Oh iya, waktu magang aku juga sempat bertemu dan berfoto dengan WS. Rendra, penyair terkenal itu lho. Dan saat yang paling membahagiakan adalah pulang ke rumah setelah magang. Aku jadi sadar betapa bernilainya arti sebuah rumah dan keluarga. Dipikir-pikir, lebih banyak pelajaran hidup yang aku peroleh dari magang daripada sekadar ketrampilan teknis, pengalaman kerja dan nilai A.   

Memang basi banget ya kalau bilang kita harus selalu bersyukur. Tapi pada kenyataannya, berapa banyak sih orang yang bisa melakukannya?

Kita sering nggak puas dengan hal-hal kecil dalam hidup sehingga nggak sadar bahwa secara overall, hidup kita ini sangat indah.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk meributkan hal-hal kecil dengan orang-orang di sekeliling kita sehingga nggak sadar betapa mereka menyayangi kita.

Kita lebih banyak minta ini dan itu dalam doa sehingga nggak sadar bahwa Tuhan sudah memberikannya.

Betapa banyaknya hal indah, manis, menyenangkan, membahagiakan, yang akan kita lewatkan jika kita memusatkan perhatian pada hal yang sebaliknya! Jadi, apapun iman yang kita yakini, bersyukur adalah hal yang sangat penting. Bahkan ketika kita sudah tidak bisa melihat hal yang positif dalam suatu masalah, dengan bersyukur Tuhan akan tunjukkan berkat-Nya. Sudah gratis, mudah, membawa mujizat lagi! Kayaknya nggak ada alasan deh untuk nggak bersyukur….  

NB : aku suka menuliskan kisah ini karena setiap saat aku membutuhkannya, aku bisa membaca dan ingat untuk kembali bersyukur…..