Jika aku suatu produk, apa yang menjadi keunggulanku?Pintar. Cerdas. Smart. Itulah yang banyak orang katakan tentangku. Mau tahu siapa saja?

Dokter yang menangani persalinan Mama, 21 tahun lalu : “Anak ibu ini bakal pinter, kepalanya besar. Tapi pinggul Ibu terlalu kecil. Jadi ada dua pilihan, mau di-vacuum atau di-caesar?”

Mama dan Papa :”Mestinya kamu itu pinter, cuma sering kurang konsentrasi… dan bla bla bla lainnya….” 

Beberapa guru di sekolah, komentar pastinya aku nggak ingat.

Guru BP pas SMP, dikatakan waktu aku mengambil hasil tes IQ: “Dengan IQ segini harusnya ranking kamu lebih tinggi.”

Yang terakhir, seorang teman, pas baca proposal skripsiku :”Gila… cewek pinter kayak gini pasangannya nanti kayak gimana ya?”

Oke. Stop pandangan orang lain. Sebenarnya gimana pandangan dari aku sendiri?

Pertama, tentu thanks God I’m smart. Tapi yang namanya pintar kan tidak di semua bidang. Aku kompeten di bidangku sekarang, karena memang kecerdasanku di sini. Kalau urusan musik, sori, aku nggak lebih dari orang bodoh yang tidak bisa membedakan jenis musik atau tangga nada atau apapun istilahnya itu. Urusan matematika, ya kalau mau digenjot mungkin bisa. Salah satu nilai tertinggi dalam tes IQ-ku adalah kemampuan matematis. Tapi nyatanya, aku nggak suka matematika dan sejenisnya, apalagi temannya yang bernama Kimia. Jadi ya nggak heran kalau nilaiku selalu merah di mata pelajaran itu pas sekolah.

Di bidangku sendiri, menurutku I’m not the smartest. Masih banyak yang IPK-nya lebih tinggi atau lebih pintar dari aku meski IPK-nya kalah. Tapi, sialnya, secara alamiah, aku orang yang dominan. Jadilah banyak teman yang bertanya padaku, bukan pada yang lain. Bukannya aku pelit ilmu, tapi terkadang aku sendiri juga takut kalau jawabanku salah dan menyesatkan. Makanya kadang nggak enak rasanya ditanyain teman, kalau jadinya dia percaya banget sama omonganku. Terus kalau aku mengerjakan tugas dengan ngawur, aku selalu merasa akan mengecewakan dosenku, karena umumnya mereka punya ekspektasi yang cukup tinggi tentangku. Kalau sudah gitu, ingin rasanya mengutuk diri jadi bodoh saja (kata temanku: nggak bersyukur!).

Punya kapasitas otak berlebih juga kadang bikin capek. Soalnya otakku ini kayaknya nggak bisa berhenti mikir barang sejenak. Kadang kebanyakan ide sampai nggak bisa merealisasikan. Sialnya lagi, aku ini masih aja nggak cepat puas. Masih pengen terus belajar, terus berkembang. Sudah mau lulus S1 masih aja pengen lanjut S2, S3 dan S-S lainnya…

Tapi, yang paling jadi bahan renunganku saat ini adalah: sampai berapa lama? Sampai berapa lama aku terus mengasah kecerdasan otakku? Sampai berapa lama orang akan mengatakan aku pintar? Akan ada batasnya, suatu saat di mana otakku sudah mulai pikun, berkarat, dan semua yang aku pelajari seolah sia-sia. Kepintaran, apa bedanya sama kecantikan? Orang cantik, lama-lama akan keriput dan orang harus membuka mata lebar-lebar untuk melihat sisa-sisa kecantikannya di masa muda.

Aku juga tak mau terjebak dalam kecenderungan orang pintar yang selalu berusaha melogika segala sesuatu. Aku masih mau percaya bahwa ada banyak hal yang tak dapat dilogika dengan otakku yang kecil ini. Tuhan misalnya, tak dapat dilogika, karena Dia jauh lebih besar dari otak manusia. Tak akan ada cukup tempat untuk melogika semua tentang-Nya. Otak ini pun, adalah karunia-Nya. Suatu hari kalau Tuhan mau ambil, bablas sudah semua pengetahuan kebanggaanku ini.

So, thanks God I’m smart. But I wish I can be wise rather than smart. Wise enough to use my brain. Wise enough to share my knowledge. Wise enough to be humble. Wise enough to accept my weakness and my brain-degradation someday. And the most important is, wise enough to trust You in my whole life….