Catatan : tulisan ini saya buat untuk tugas Komunikasi Lintas Budaya, di mana kami diminta menuliskan pendapat mengenai gay.  

Zaman sekarang, gay sudah tidak lagi langka. Sebagian dari mereka pun sudah tidak lagi sungkan menunjukkan identitasnya sebagai pecinta sesama jenis. Maka, dengan mudah kita bisa menjumpai sepasang pria yang bergandengan tangan mesra di mal, bahkan berciuman di klub malam. Atau setidaknya, berapa banyak pria yang berani menindik salah satu sisi telinga  – saya kurang tahu persis sisi kanan atau kiri –  yang secara tidak langsung mengatakan bahwa :”Saya gay”?   

            Walau demikian, tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka di tengah masyarakat. Kaum religius beranggapan, mereka berdosa dengan menjadi seorang gay. Anggapan ini didasari oleh keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan gay. Apalagi, di dalam kitab suci, gay jelas dilarang. Saya sendiri akhirnya menemukan beberapa ayat dalam kitab suci yang saya yakini, bahwa hubungan intim sesama jenis adalah dosa. Bahkan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora – kisah yang dapat kita temukan dalam kitab Taurat – pun karena penduduknya melakukan aktivitas homoseksual!

            Saya tidak akan menggunakan dalil kitab suci tersebut sebagai dasar pribadi untuk menolak gay. Memang, saya percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan gay, walaupun ada orang tertentu yang lahir dengan kelainan kromosom sehingga tidak jelas jenis kelaminnya. Saya tetap berkeyakinan, menjadi gay adalah pilihan hidup seseorang. Tetapi itu bukan alasan untuk mendiskreditkan mereka. Menurut saya, kita juga harus belajar memahami mengapa mereka memilih menjadi gay. Ilmu kedokteran juga membuktikan bahwa sebenarnya semua orang punya kecenderungan mencintai sesama jenis, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Kadar itu bisa bertambah atau berkurang, sesuai pengalaman hidup yang diperoleh seseorang. 

 Bisa jadi, waktu kecil mereka pernah menerima kekerasan seksual dari orang dewasa, seperti disodomi. Karena itu, mereka mengira bahwa sodomi adalah aktivitas seksual yang benar. Dan akhirnya mereka mengulangi tindakan itu dengan sesama pria saat mereka dewasa. Atau mungkin saja selama ini mereka hidup dalam penjajahan lawan jenis. Ibu yang dominan, saudara perempuan yang bossy. Maka mereka justru menemukan kasih sayang yang sejati dari sesama pria. Dunia ini punya terlalu banyak cerita, terlalu banyak kemungkinan. Masih banyak pula kemungkinan-kemungkinan mengapa orang menjadi gay, yang tidak dapat saya rinci satu persatu.

Karena itu, menurut saya, tidak patut bila kita menghakimi kaum gay. Kita tidak pernah tahu apa yang melatarbelakangi keputusan hidup mereka itu, bukan? Tidak adil bila kita lantas mengucilkan mereka dari pergaulan. Justru tindakan semacam itu hanya akan membuat mereka semakin nyaman dalam komunitas gay yang menerima mereka apa adanya. Mereka yang mungkin masih punya keinginan untuk membina keluarga dengan lawan jenis, akhirnya malah melupakan keinginan itu karena sikap kita yang menjauhi mereka.

Kalau kita memang ingin suatu saat mereka bisa menjadi pria heteroseksual, kita harus belajar menerima sambil berusaha menyelami dunia mereka. Siapa tahu kita bisa menemukan akar masalah yang membuat mereka menjadi gay. Dengan demikian, mungkin kita dapat memberi terapi yang tepat untuk mengurangi kadar gay mereka. Apalagi, kalau sebenarnya teman kita itu punya keinginan untuk menjadi pria pecinta lawan jenis. Saya sendiri, sebagai perempuan, sebenarnya juga ingin pria-pria gay bisa menjadi heteroseksual. Jumlah pria dibandingkan perempuan sudah tidak imbang. Akan lebih banyak perempuan yang harus melajang atau menjadi istri kesekian bila ingin berkeluarga, karena pria-pria yang jumlahnya sedikit itu pun sibuk mencintai sesama jenis.

Tetapi tetap, kita harus menghargai keputusan mereka untuk menjadi gay. Banyak gay yang nyaman dengan statusnya, dan tidak ingin mencintai lawan jenis, sekalipun mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi pria heteroseksual. Yang bisa kita lakukan menghadapi gay seperti ini adalah tetap menerima mereka sebagai sahabat. Hidup mereka adalah milik mereka sendiri, kita tidak berhak mengintervensi, bagaimanapun hubungan kita dengan mereka. Toh mereka sudah siap dengan segala resiko menjalani kehidupan gay. Soal hubungan dengan Tuhan, itu juga urusan pribadi mereka dengan-Nya. Banyak gay yang tetap rajin beribadah, bahkan mungkin lebih rajin daripada kita yang mengklaim diri ‘normal’.

Apalagi, menurut saya, seorang gay bisa menjadi sahabat terbaik bagi kaum perempuan. Karena mereka memiliki sosok pria yang melindungi, sekaligus sisi perempuan yang lembut dan sensitif. Kekayaan karakter seperti ini jarang bisa ditemukan pada pria/perempuan heteroseksual. Mungkin mereka memang tidak bisa dinikahi oleh perempuan, tetapi tidak ada ruginya melajang bila memiliki sahabat yang setia seumur hidup.

Gay juga bisa sukses, bila mereka bisa memberdayakan potensi dirinya. Lihat saja berapa banyak gay yang berhasil menjadi perancang busana ternama, atau perias wajah terkemuka. Mereka bahkan lebih mapan secara finansial daripada pria-pria yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat.

Akhirnya, saya ingin menekankan bahwa tidak adil bila kita menghakimi seseorang, hanya karena keputusan hidupnya yang berbeda dari kebanyakan orang. Gay juga manusia, yang butuh teman, butuh penerimaan. Tindakan mengucilkan dan mengolok-olok mereka hanya akan membuat kita terlihat sebagai manusia yang picik dan rendah, yang tidak bisa menerima perbedaan dan keyakinan orang lain.